Breton Kecam Larangan Visa AS, Sebut 'Perburuan Penyihir' Terkait Sensor

Oleh VOXBLICK

Senin, 12 Januari 2026 - 11.45 WIB
Breton Kecam Larangan Visa AS, Sebut 'Perburuan Penyihir' Terkait Sensor
Breton kecam larangan visa AS. (Foto oleh Ivelin Donchev)

VOXBLICK.COM - Mantan Komisioner Uni Eropa, Thierry Breton, baru-baru ini melancarkan kritik tajam terhadap kebijakan visa baru Amerika Serikat yang menargetkan individu terkait "sensor", menyebutnya sebagai "perburuan penyihir" yang berbahaya. Pernyataan ini memicu gelombang perdebatan sengit mengenai batas-batas kebebasan berekspresi, peran pemerintah dalam moderasi konten, dan potensi implikasi geopolitik yang lebih luas dalam lanskap digital global.

Kecaman Breton datang sebagai respons terhadap kebijakan Departemen Luar Negeri AS yang memungkinkan pembatasan visa bagi individu yang dianggap bertanggung jawab atas atau terlibat dalam "pelecehan atau penindasan kebebasan berekspresi", termasuk

melalui "sensor" atau "pembatasan akses informasi". Kebijakan ini, yang diumumkan tanpa daftar target spesifik, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat internasional tentang interpretasi yang luas dan potensi penyalahgunaan, terutama di tengah meningkatnya polarisasi global terkait narasi dan informasi.

Breton Kecam Larangan Visa AS, Sebut Perburuan Penyihir Terkait Sensor
Breton Kecam Larangan Visa AS, Sebut Perburuan Penyihir Terkait Sensor (Foto oleh Optical Chemist)

Latar Belakang Kebijakan Visa AS dan Respons Eropa

Kebijakan visa AS yang kontroversial ini dirancang untuk mengatasi apa yang disebut Washington sebagai ancaman terhadap kebebasan berekspresi di seluruh dunia. Namun, definisinya yang luas mengenai "sensor" telah memicu kekhawatiran.

Breton, yang selama masa jabatannya sebagai Komisioner Pasar Internal UE dikenal vokal dalam isu regulasi teknologi dan otonomi digital Eropa, melihat kebijakan ini sebagai langkah yang melampaui batas yurisdiksi dan berpotensi memecah belah.

Dalam pernyataannya, Breton secara eksplisit menyamakan kebijakan tersebut dengan "perburuan penyihir", sebuah metafora yang secara historis mengacu pada penindasan yang tidak beralasan dan bermotivasi politik.

Ia berargumen bahwa penargetan individu atas dasar dugaan "sensor" oleh satu negara terhadap warga negara negara lain adalah preseden yang berbahaya. Uni Eropa sendiri memiliki pendekatan yang berbeda terhadap moderasi konten, terutama melalui regulasi seperti Digital Services Act (DSA), yang bertujuan untuk memerangi disinformasi dan ujaran kebenci sambil tetap melindungi hak-hak dasar.

Perbedaan pendekatan antara AS dan UE dalam mengatur ruang digital telah menjadi titik ketegangan yang berkelanjutan.

Sementara AS cenderung menekankan kebebasan berbicara yang hampir absolut di bawah Amandemen Pertama, UE lebih condong pada pendekatan yang menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab platform dan perlindungan terhadap konten ilegal atau berbahaya. Larangan visa AS ini memperburuk ketegangan tersebut, menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang berhak mendefinisikan dan menerapkan standar "kebebasan berekspresi" di panggung global.

Implikasi Geopolitik dan Kebebasan Berekspresi Global

Kecaman Breton terhadap larangan visa AS ini bukan sekadar retorika ia memiliki implikasi geopolitik yang signifikan dan menyentuh inti perdebatan tentang masa depan kebebasan berekspresi di era digital. Beberapa poin kunci yang patut diperhatikan:

  • Ketegangan Transatlantik: Kebijakan ini berpotensi memperdalam keretakan antara AS dan sekutu Eropanya. Dalam konteks di mana kerja sama transatlantik dianggap krusial untuk menghadapi tantangan global, langkah unilateral semacam ini dapat merusak kepercayaan dan menghambat upaya bersama dalam tata kelola digital.
  • Definisi "Sensor" yang Subyektif: Apa yang dianggap "sensor" oleh satu pemerintah bisa jadi merupakan upaya yang sah untuk memerangi disinformasi atau ujaran kebencian oleh pemerintah lain, atau bahkan oleh platform swasta. Kebijakan AS ini menciptakan ketidakjelasan dan risiko bahwa definisi tersebut akan digunakan secara selektif berdasarkan kepentingan politik.
  • "Chilling Effect" dan Otonomi Digital: Ancaman larangan visa dapat menciptakan "chilling effect" yang menghambat pejabat, akademisi, atau bahkan eksekutif perusahaan teknologi untuk berpartisipasi dalam diskusi atau kebijakan yang mungkin dianggap AS sebagai "sensor". Ini juga menantang gagasan otonomi digital, di mana setiap negara atau blok regional berhak untuk menetapkan aturan mainnya sendiri di ruang siber.
  • Potensi Tindakan Balasan: Ada risiko bahwa negara-negara lain, termasuk anggota UE, dapat mempertimbangkan tindakan balasan serupa, menargetkan individu AS yang terlibat dalam kebijakan atau tindakan yang mereka anggap membatasi kebebasan berekspresi. Skenario ini dapat mengarah pada siklus eskalasi yang merugikan.
  • Masa Depan Regulasi Platform: Perdebatan ini juga relevan dengan upaya global untuk mengatur platform media sosial. Ketika negara-negara seperti AS dan UE memiliki pandangan yang berbeda tentang batas-batas kebebasan berekspresi dan tanggung jawab platform, menciptakan kerangka kerja regulasi internasional yang koheren menjadi semakin sulit.

Breton, yang kini telah meninggalkan jabatannya di Komisi Eropa, menekankan bahwa langkah AS ini adalah "perburuan penyihir" yang tidak pantas dan dapat membahayakan prinsip-prinsip demokrasi.

Pandangannya mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di Eropa tentang upaya negara-negara di luar UE untuk memaksakan standar mereka pada warga negara Eropa atau pada perusahaan yang beroperasi di wilayah Eropa.

Kritik mantan Komisioner UE Thierry Breton terhadap larangan visa AS terkait "sensor" menyoroti ketegangan fundamental dalam cara dunia mendekati kebebasan berekspresi dan tata kelola digital.

Kebijakan AS yang kontroversial ini, yang disebut Breton sebagai "perburuan penyihir", tidak hanya mengancam hubungan transatlantik tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendasar tentang siapa yang memiliki wewenang untuk mendefinisikan dan menegakkan batas-batas kebebasan di ranah digital global. Perdebatan ini kemungkinan akan terus membentuk lanskap kebijakan luar negeri dan regulasi teknologi di tahun-tahun mendatang, dengan konsekuensi signifikan bagi individu, pemerintah, dan platform digital di seluruh dunia.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0