Malam Mencekam: Tetangga Aneh Mengincar Senyummu, Beranikah Membaca?

Oleh VOXBLICK

Selasa, 02 Desember 2025 - 23.40 WIB
Malam Mencekam: Tetangga Aneh Mengincar Senyummu, Beranikah Membaca?
Tetangga aneh mengincar senyum (Foto oleh Pedro Dias)

VOXBLICK.COM - Jendela kamar masih menyala ketika jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Suara detik jam terdengar nyaring, menembus hening yang menyesakkan. Aku duduk di pinggir ranjang, menatap layar ponsel yang sudah lama tak ada notifikasi. Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Di luar, angin menggesek dedaunan, menciptakan bisikan samar yang membuat bulu kuduk meremang. Satu-satunya tetangga yang lampunya masih menyala adalah rumah Pak Arman, pria paruh baya yang selalu menyisakan senyum aneh setiap kali berpapasan di lorong sempit perumahan ini.

Orang-orang di sekitar sini sering membicarakannya. Mereka bilang senyumnya terlalu lebar, terlalu lama, dan mata yang tak pernah tersenyum. Ada yang bilang dia suka mengintip dari balik tirai.

Ada juga yang pernah melihatnya berdiri di depan cermin, tersenyum sendiri, seperti sedang menghafal sesuatu. Aku tak pernah benar-benar peduli, sampai malam itu, ketika aku sendiri mendengar suara langkah di depan pintu.

Malam Mencekam: Tetangga Aneh Mengincar Senyummu, Beranikah Membaca?
Malam Mencekam: Tetangga Aneh Mengincar Senyummu, Beranikah Membaca? (Foto oleh Mehmet Turgut Kirkgoz)

Ketukan di Tengah Malam

Awalnya, aku mengira hanya angin. Tapi suara itu terlalu teraturtiga ketukan pelan, jeda, lalu tiga ketukan lagi. Aku menahan napas, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi. Namun suara itu tidak berhenti.

Seolah-olah seseorang berdiri tepat di sisi lain pintu, menunggu aku membukanya. Aku mengintip dari lubang pintu, jantungku berdetak tidak karuan.

Di balik pintu, sosok Pak Arman berdiri. Wajahnya setengah tertutup bayangan, tapi senyum itu tetap jelas. Lebar, seolah-olah pipinya bisa robek kapan saja. Matanya menatap lurus ke arahkudingin, kosong.

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatapku sambil terus tersenyum.

Senyum yang Diincar

Entah keberanian dari mana, aku akhirnya membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk bicara. “Ada apa, Pak?” tanyaku pelan, berusaha terdengar sopan.

Ia masih diam, lalu tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda dari kantong jaketnyasebuah toples kaca, di dalamnya sesuatu yang tampak seperti… bibir. Bibir yang tersenyum, membatu, ditata rapi seperti koleksi. Tubuhku menegang, darah seolah berhenti mengalir.

Pak Arman mengangkat toples itu, memperlihatkannya padaku. “Boleh saya minta senyummu malam ini?” suaranya serak, nyaris seperti bisikan. Tiba-tiba aku menangkap aroma aneh, seperti bunga yang membusuk.

Ia melangkah lebih dekat, dan aku bisa melihat jelasdi balik senyuman itu, ada duka yang dalam, kehampaan yang mengerikan.

  • Senyum yang dikumpulkan Pak Arman bukan sekadar ekspresi, melainkan kenangan yang dipaksa abadi.
  • Setiap malam, ia mengetuk pintu rumah berbeda, meminta “senyum” dari penghuninya.
  • Rumor beredar, siapa pun yang menolak, akan kehilangan kemampuannya untuk tersenyumselamanya.

Bayangan di Balik Tirai

Aku mundur, menutup pintu perlahan. Tapi suara ketukan semakin keras, berubah menjadi gesekan, seolah-olah kuku-kuku panjang menggaruk permukaan kayu. Aku bergegas ke jendela, berharap menemukan jalan keluar.

Di luar, jalanan sepi, hanya lampu jalan yang remang-remang. Tapi di rumah Pak Arman, aku melihat siluet berdiri di balik tirai. Bukan satu, melainkan banyak. Mereka semua tersenyum, bibir mereka dipaksa melengkung, mata mereka kosong menatapku.

Detik itu, aku sadarsenyum yang diincar bukan hanya dariku. Ada banyak orang sebelum aku, banyak yang telah kehilangan sesuatu yang tak bisa dikembalikan.

Aku menutup semua jendela, mengunci setiap pintu, mematikan lampu, berharap malam segera berlalu. Tapi suara ketukan terus mengintai, semakin dekat, semakin keras.

Ketika Pagi Tak Pernah Datang

Semalaman aku tak tidur, duduk di sudut ruangan dengan tangan gemetar. Ketika fajar seharusnya datang, langit tetap kelam. Ketukan di pintu berhenti, tapi kini aku mendengar suara tawa pelantawa tanpa kebahagiaan.

Aku menatap cermin, mencoba tersenyum. Tapi wajahku hanya membeku, bibirku tak mau bergerak. Dalam pantulan cermin, aku melihat siluet seseorang berdiri di belakangku, tersenyum lebar, menunggu giliran berikutnya.

Dan malam itu, aku menyadari sesuatumungkin, senyumku telah diambil. Atau mungkin, besok malam, giliranmu yang akan mendengar ketukan itu di pintu. Beranikah kamu membacanya sampai akhir?

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0