Ramai Theotown Disebut Game Kekerasan di Media Sosial
VOXBLICK.COM - Theotown, sebuah gim simulasi pembangunan kota yang populer di kalangan pengguna perangkat Android dan iOS, tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial di Indonesia. Isu ini bermula dari sejumlah unggahan viral yang menyebut Theotown sebagai "game kekerasan", memicu perdebatan tentang keamanan konten digital untuk anak-anak dan pentingnya literasi digital di tengah pesatnya perkembangan industri gim nasional.
Diskusi soal Theotown mencuat setelah beberapa akun media sosial mengunggah tangkapan layar dan cuplikan video dari permainan tersebut, menyoroti fitur bencana seperti serangan alien, kebakaran, dan ledakan nuklir yang dapat diaktifkan oleh pemain.
Narasi yang berkembang menuding fitur-fitur ini berpotensi mengajarkan kekerasan atau membiasakan anak dengan adegan destruktif. Sejumlah warganet dan influencer parenting turut menyuarakan kekhawatiran mereka, sehingga isu ini meluas ke forum-forum diskusi digital, bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter dan Facebook pada awal Juni 2024.
Apa Sebenarnya Theotown?
Theotown dikembangkan oleh Blueflower dan diterbitkan oleh perusahaan asal Jerman, dan telah diunduh lebih dari 10 juta kali di seluruh dunia menurut data Google Play Store.
Gim ini memungkinkan pemain membangun, mengelola, dan mengembangkan kota virtual lengkap dengan infrastruktur, transportasi, dan layanan publik. Fitur bencana, seperti gempa bumi, kebakaran, dan serangan monster, merupakan bagian dari mekanisme simulasi yang bertujuan menambah tantangan manajemen kota, bukan sebagai unsur utama permainan.
Meskipun Theotown berlabel rating 3+ di Play Store, yang berarti aman untuk anak di atas tiga tahun, fitur bencana tersebut kini dipertanyakan oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Beberapa pemerhati anak menilai perlunya pengawasan orang tua dan edukasi tentang bagaimana anak menggunakan fitur-fitur dalam gim, alih-alih sekadar melarang atau membatasi akses secara langsung.
Respons dan Fakta dari Pengembang serta Regulator
Pihak pengembang Theotown melalui forum resminya menegaskan bahwa fitur bencana dalam gim ini dirancang semata-mata sebagai simulasi dan edukasi untuk mengenalkan manajemen risiko perkotaan. "Kami tidak pernah bermaksud mempromosikan kekerasan.
Seluruh fitur dapat dinonaktifkan melalui pengaturan parental control," ujar perwakilan Blueflower dalam rilis pers tanggal 5 Juni 2024.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan belum menemukan pelanggaran ketentuan konten kekerasan dalam Theotown.
"Kami masih memantau dan berkoordinasi dengan lembaga terkait serta meminta masukan dari masyarakat," kata Dedy Permadi, Juru Bicara Kominfo, saat dihubungi pada 7 Juni 2024. Sampai saat ini, belum ada laporan resmi atau permintaan pemblokiran dari lembaga perlindungan anak terkait gim tersebut.
Imbas pada Literasi Digital dan Perlindungan Anak
Perdebatan seputar Theotown menyoroti pentingnya literasi digital di Indonesia, terutama di kalangan orang tua dan pengasuh. Menurut survei APJII 2023, sekitar 49% orang tua di Indonesia mengaku belum memahami fitur pengawasan atau parental control pada perangkat digital anak.
- Kontrol Orang Tua: Banyak aplikasi dan gim modern, termasuk Theotown, telah menyediakan fitur pengaturan agar orang tua dapat memantau dan membatasi akses anak terhadap konten tertentu.
- Pentingnya Edukasi: Diskusi ini menunjukkan perlunya edukasi berkelanjutan terkait penggunaan gim dan media digital, baik untuk anak maupun orang tua.
- Regulasi Konten: Kasus Theotown bisa menjadi momentum bagi regulator untuk memperbarui panduan klasifikasi dan pengawasan konten digital, dengan melibatkan masukan dari multipihak.
Banyak pakar menyarankan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada narasi viral, melainkan melakukan pengecekan silang informasi dan mengevaluasi konten berdasarkan konteks serta fitur pengamanan yang tersedia.
"Literasi digital adalah kunci utama, bukan sekadar membatasi akses," ungkap Dr. Irfan Fadillah, pengamat teknologi pendidikan dari Universitas Indonesia, dalam diskusi publik yang digelar 8 Juni 2024.
Implikasi untuk Industri dan Kebiasaan Masyarakat
Isu Theotown ini memperlihatkan bagaimana persepsi publik terhadap sebuah gim bisa dipengaruhi oleh viralitas di media sosial, tanpa kajian mendalam terhadap fitur dan manfaatnya.
Industri gim lokal dan global dihadapkan pada tuntutan untuk lebih transparan dalam mendesain fitur, serta aktif menyediakan edukasi bagi pengguna tentang fungsi dan risiko konten yang tersedia.
Di sisi lain, masyarakat dan pengambil kebijakan didorong untuk meningkatkan kolaborasi dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat. Hal ini mencakup:
- Peningkatan literasi digital melalui kampanye edukasi lintas sektor.
- Penerapan parental control yang mudah diakses dan dimengerti semua kalangan.
- Penyusunan regulasi yang adaptif terhadap perkembangan fitur dan mekanisme gim digital.
Keterbukaan informasi dan komunikasi yang efektif antara pengembang, pengguna, serta regulator diyakini dapat meredam kepanikan semu dan mendorong pemanfaatan gim sebagai sarana edukasi, kreativitas, serta hiburan yang bertanggung jawab.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0