Bedah Buku Wawasan Kebangsatan Dorong Mahasiswa Kritis Hadapi Isu Sosial Politik

Oleh VOXBLICK

Rabu, 04 Februari 2026 - 12.25 WIB
Bedah Buku Wawasan Kebangsatan Dorong Mahasiswa Kritis Hadapi Isu Sosial Politik
Bedah Buku Wawasan Kebangsatan UNAIR (Foto oleh RDNE Stock project)

VOXBLICK.COM - Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (KASTRAT) BEM Fakultas Hukum baru-baru ini menyelenggarakan acara bedah buku bertajuk “Wawasan Kebangsatan”. Kegiatan ini menghadirkan mahasiswa lintas jurusan dan beberapa dosen sebagai peserta serta narasumber yang berkompeten di bidang sosial politik Indonesia. Tujuan utama acara adalah mendorong mahasiswa agar semakin kritis dalam merespon isu sosial politik nasional, khususnya yang berkaitan dengan dinamika kebangsaan dan peran generasi muda dalam menjaga integritas bangsa.

Acara yang digelar di Aula FH UNAIR tersebut menghadirkan penulis buku dan beberapa akademisi sebagai pembicara.

Diskusi berlangsung interaktif, membedah isi buku “Wawasan Kebangsatan” yang menyoroti berbagai problematika bangsa: mulai dari ketimpangan sosial, krisis integritas, hingga tantangan demokrasi di tengah era informasi. Tidak hanya mengulas teori, para peserta juga diajak untuk melihat realita sosial politik Indonesia dari sudut pandang kritis dan reflektif.

Bedah Buku Wawasan Kebangsatan Dorong Mahasiswa Kritis Hadapi Isu Sosial Politik
Bedah Buku Wawasan Kebangsatan Dorong Mahasiswa Kritis Hadapi Isu Sosial Politik (Foto oleh MBA Classroom)

Menurut Ketua KASTRAT BEM FH UNAIR, Rizky Maulana, bedah buku ini merupakan salah satu agenda rutin dalam upaya memperkuat budaya literasi kritis di lingkungan kampus.

“Mahasiswa perlu secara aktif tidak hanya membaca, tapi juga berdialog dan menganalisis secara mendalam isu-isu kebangsaan. Buku ini menjadi pemicu refleksi bersama, baik soal sejarah, tantangan kontemporer, maupun upaya solusi,” jelas Rizky.

Menumbuhkan Sikap Kritis Mahasiswa Melalui Diskusi Buku

Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan pentingnya mahasiswa untuk berpikir kritis dan tidak mudah terjebak pada narasi tunggal. Buku “Wawasan Kebangsatan” sendiri dikupas dari beberapa perspektif, antara lain:

  • Pentingnya memahami sejarah kebangsaan untuk mencegah polarisasi sosial-politik.
  • Kritik terhadap praktik demokrasi yang cenderung elitis dan menjauh dari akar permasalahan rakyat.
  • Pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas pemerintah.

Salah seorang dosen FH UNAIR, Dr. Intan Puspitasari, menyebut bahwa kegiatan seperti ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penonton, tapi juga aktor dalam perubahan sosial.

“Refleksi dan diskusi kritis adalah bekal utama agar mahasiswa tidak apatis, melainkan berani menyuarakan kebenaran di ruang publik,” ujar Intan.

Meningkatkan Partisipasi dan Literasi Sosial Politik

Berdasarkan survei internal KASTRAT, sebanyak 80% peserta mengaku semakin terdorong untuk mengikuti perkembangan isu sosial politik setelah terlibat dalam bedah buku ini.

Kegiatan serupa diharapkan dapat meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam berbagai forum publik, baik melalui tulisan, advokasi, maupun aksi sosial.

Selain membedah buku, panitia juga membuka sesi tanya jawab yang banyak membahas isu-isu aktual, seperti kualitas pendidikan politik di kampus, serta peran mahasiswa dalam mengawal Pemilu 2024. Diskusi berlangsung terbuka, dengan mahasiswa

menyampaikan berbagai pandangan kritis dan solusi alternatif.

Dampak Lebih Luas bagi Lingkungan Akademik dan Masyarakat

Penyelenggaraan bedah buku “Wawasan Kebangsatan” memiliki implikasi yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga bagi masyarakat dan dunia pendidikan. Beberapa dampak yang teridentifikasi antara lain:

  • Peningkatan kualitas literasi politik: Diskusi berbasis buku mendorong mahasiswa untuk membaca sumber primer, bukan hanya mengandalkan media sosial.
  • Penguatan budaya dialog: Kegiatan ini membiasakan mahasiswa untuk menyampaikan argumen secara logis, menghargai perbedaan pendapat, dan membangun konsensus.
  • Perluasan jejaring advokasi: Dengan terlibat aktif dalam forum kritis, mahasiswa dapat membangun jaringan dengan peneliti, aktivis, dan pembuat kebijakan.
  • Relevansi untuk pengambilan kebijakan: Hasil diskusi dan pemikiran mahasiswa dapat menjadi masukan berharga bagi institusi pendidikan, pemerintah, maupun organisasi masyarakat sipil.

Mendorong Perubahan Melalui Gerakan Intelektual

Upaya UNAIR bersama KASTRAT BEM FH dalam mengadakan bedah buku “Wawasan Kebangsatan” menunjukkan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan penulis dalam membangun wawasan kebangsaan yang kritis dan solutif.

Kegiatan ini tidak hanya memperkaya literasi sosial politik mahasiswa, tetapi juga memperkuat posisi mereka sebagai agen perubahan di tengah dinamika bangsa yang terus bergerak.

Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan budaya refleksi, diskusi, dan partisipasi aktif mahasiswa dapat terus berkembangmenjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan demokrasi dan mendorong kemajuan masyarakat Indonesia.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0