Kriminal Kripto Raup 700 Juta Dolar dengan Modus Lama

Oleh VOXBLICK

Kamis, 12 Februari 2026 - 07.15 WIB
Kriminal Kripto Raup 700 Juta Dolar dengan Modus Lama
Kejahatan kripto 700 juta dolar (Foto oleh cottonbro CG studio)

VOXBLICK.COM - Penjahat siber telah berhasil mencuri lebih dari 700 juta dolar AS dalam bentuk aset kripto sepanjang paruh pertama tahun 2024. Laporan dari firma keamanan blockchain Chainalysis mengonfirmasi bahwa jumlah kerugian tersebut berasal dari ratusan insiden penipuan yang memanfaatkan teknik lama, khususnya rekayasa sosial dan phising. Modus-modus yang digunakan bukanlah inovasi baru, melainkan pengulangan dari pola-pola lama yang telah lama dikenal dalam lanskap kejahatan digital.

Para pelaku sebagian besar menargetkan pengguna individu dan investor ritel aset digital. Mereka memanfaatkan celah di aplikasi dompet digital, pertukaran kripto, serta kelengahan pengguna yang tergoda janji keuntungan palsu.

Chainalysis menyebutkan bahwa sekitar 65% dari nilai kerugian berasal dari aksi phishing, di mana korban diarahkan ke situs palsu yang menyerupai layanan resmi untuk mencuri data akses atau kunci pribadi dompet kripto mereka.

Kriminal Kripto Raup 700 Juta Dolar dengan Modus Lama
Kriminal Kripto Raup 700 Juta Dolar dengan Modus Lama (Foto oleh RealToughCandy.com)

Metode Penipuan yang Digunakan

Berdasarkan data yang dirangkum Chainalysis dan diperkuat oleh laporan dari Elliptic, berikut adalah teknik utama yang kerap digunakan pelaku kriminal kripto:

  • Phishing: Membuat situs tiruan atau mengirim email palsu yang mengelabui korban agar memasukkan seed phrase atau data sensitif mereka.
  • Scam investasi: Menawarkan investasi palsu dengan iming-iming imbal hasil tinggi, namun dana korban justru dialihkan ke dompet pelaku.
  • Rug pull: Pengembang proyek kripto palsu mengumpulkan dana dari investor kemudian melarikan diri tanpa jejak.
  • Social engineering: Berpura-pura menjadi pihak berwenang atau customer service untuk mengelabui korban agar menyerahkan akses dompet kripto mereka.

Pakar keamanan siber, Brian Krebs, menegaskan bahwa teknik-teknik ini sebenarnya sudah sering diingatkan oleh komunitas, namun tetap efektif karena banyak pengguna yang masih lengah atau belum memahami sepenuhnya risiko keamanan aset digital.

Kerugian dan Target Korban

Mayoritas korban berasal dari kelompok pengguna baru dan investor individu yang minim pengalaman dalam mengelola aset digital.

Mereka kerap menjadi sasaran empuk karena kurangnya edukasi dan kepercayaan berlebihan terhadap tautan atau aplikasi yang belum diverifikasi. Sementara itu, institusi atau bursa aset digital yang sudah menerapkan sistem keamanan berlapis cenderung lebih mampu meminimalkan risiko, meskipun tetap ada celah yang bisa ditembus jika kelalaian terjadi pada sisi pengguna.

Menurut Chainalysis, kasus terbesar yang terjadi pada semester pertama 2024 menimpa sebuah komunitas DeFi (Decentralized Finance), di mana kerugian mencapai lebih dari 70 juta dolar hanya dalam satu insiden.

Selain itu, serangan individual melalui media sosial juga meningkat, dengan modus utama penawaran "giveaway" kripto palsu.

Dampak Lebih Luas terhadap Industri dan Pengguna

Peningkatan angka kriminalitas di sektor kripto ini membawa beberapa implikasi penting:

  • Kepercayaan terhadap ekosistem kripto menurun: Banyak pengguna baru yang kehilangan dana menjadi skeptis terhadap keamanan aset digital.
  • Regulasi lebih ketat: Otoritas di berbagai negara, termasuk AS, Eropa, dan Asia, mulai memperketat aturan perlindungan konsumen dan mewajibkan platform untuk meningkatkan sistem keamanan.
  • Perlunya edukasi dan kesadaran pengguna: Lembaga dan perusahaan blockchain semakin gencar mengampanyekan literasi keamanan digital, seperti mengenali tanda-tanda phishing dan pentingnya menyimpan seed phrase secara offline.
  • Inovasi teknologi keamanan: Insiden semacam ini memacu pengembangan fitur keamanan tambahan, seperti otentikasi dua faktor dan deteksi aktivitas mencurigakan secara otomatis.

Serangkaian kasus di tahun 2024 memperlihatkan bahwa keamanan aset digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada perilaku dan pengetahuan penggunanya.

Bagi pelaku industri, kejadian ini menjadi pengingat penting untuk terus beradaptasi dan meningkatkan sistem perlindungan, sementara bagi pengguna, kewaspadaan dan literasi digital tetap menjadi pertahanan utama agar tidak menjadi korban modus lama yang masih marak beredar.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0