Negosiasi Perjanjian Plastik Global Mandek, Negara Besar Ogah Batasi Produksi!

Oleh Andre NBS

Jumat, 15 Agustus 2025 - 07.50 WIB
Negosiasi Perjanjian Plastik Global Mandek, Negara Besar Ogah Batasi Produksi!
Negosiasi plastik global macet (Foto oleh Kiva Hirsch di Unsplash).

VOXBLICK.COM - Negosiasi perjanjian plastik global yang diharapkan bisa menjadi tonggak sejarah pengurangan polusi plastik justru mengalami kebuntuan. Negara-negara yang duduk di meja perundingan, dari produsen utama plastik hingga negara berkembang yang paling terdampak polusi, masih sulit menemukan titik temu mengenai pembatasan produksi plastik. Imbasnya, konferensi plastik internasional yang diadakan di Paris bulan lalu belum menghasilkan keputusan konkret soal regulasi plastik yang mengikat. Sementara itu, ancaman polusi plastik terus membayangi, baik di daratan maupun lautan.

Peta Perseteruan Negara Produsen Plastik

Negara penghasil plastik terbesar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara di kawasan Teluk, cenderung menolak usulan pembatasan produksi plastik secara tegas.

Mereka berargumen bahwa pembatasan semacam itu akan berdampak pada perekonomian, industri, dan lapangan kerja di sektor terkait. Menurut data dari UN Environment Programme (UNEP), produksi plastik global telah mencapai lebih dari 400 juta ton per tahun, dan sekitar 36% di antaranya digunakan untuk kemasan sekali pakai yang hanya bertahan hitungan menit sebelum menjadi sampah.

Sebaliknya, negara-negara dengan tingkat polusi plastik tertinggi, termasuk beberapa negara berkembang di Asia dan Afrika, menuntut regulasi yang lebih ketat.

Mereka beralasan bahwa banjir limbah plastik yang sebagian besar berasal dari negara maju telah membebani sistem pengelolaan sampah lokal dan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat serta ekosistem. India, misalnya, dalam konferensi plastik tersebut menyoroti besarnya biaya sosial dan lingkungan akibat polusi plastik yang tak terkendali.

Perdebatan Sengit Soal Pembatasan Produksi

Di meja negosiasi, isu paling panas adalah seberapa jauh pembatasan produksi plastik harus diterapkan. Ada dua kubu utama yang saling berseberangan.

Kubu pertama, yang didukung Uni Eropa, Norwegia, dan beberapa negara Pasifik, mendorong perjanjian internasional yang mengikat secara hukum agar produksi plastik dunia dikurangi secara bertahap, terutama untuk plastik sekali pakai. Mereka juga ingin agar produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup plastik yang mereka hasilkan.

Sementara itu, kubu kedua, yang diwakili oleh Amerika Serikat, Arab Saudi, dan beberapa negara produsen minyak, menolak pembatasan kuantitatif. Mereka lebih memilih pendekatan berbasis daur ulang dan inovasi teknologi, ketimbang memangkas produksi plastik secara langsung. "Kami percaya solusi terbaik adalah memperkuat sistem daur ulang global dan inovasi bahan alternatif," ujar perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Amerika Serikat dalam konferensi plastik di Paris, dikutip dari The New York Times.

Polusi Plastik, Ancaman yang Tak Kunjung Reda

Dampak polusi plastik semakin terasa di berbagai belahan dunia. Penelitian terbaru dari Science Advances mencatat bahwa setiap tahun lebih dari 11 juta ton sampah plastik berakhir di lautan.

Mikroplastik ditemukan di hampir seluruh spesies laut, bahkan dalam air minum dan rantai makanan manusia. Polusi plastik juga berkontribusi pada perubahan iklim, karena proses produksinya menghasilkan emisi karbon yang signifikan.

Organisasi lingkungan seperti Greenpeace menyoroti bahwa tanpa pembatasan produksi plastik secara global, upaya pengurangan sampah plastik hanya akan menjadi tambal sulam. "Daur ulang saja tidak cukup, produksi plastik harus dikurangi secara signifikan," ujar Graham Forbes, Global Plastics Project Leader di Greenpeace, kepada Greenpeace International.

Strategi Negara Berkembang dan Keadilan Lingkungan

Negara berkembang menuntut adanya keadilan lingkungan dalam perjanjian internasional ini.

Mereka meminta agar negara maju, sebagai produsen utama plastik, mengambil tanggung jawab lebih besar dalam mengurangi produksi plastik dan membantu pendanaan sistem pengelolaan sampah plastik di negara-negara miskin. Filipina dan Kenya, misalnya, menyuarakan perlunya transfer teknologi dan investasi demi pengurangan sampah plastik yang efektif.

Di sisi lain, negara-negara maju berdalih bahwa kebijakan lingkungan sebaiknya fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi tiap negara.

Mereka menekankan pentingnya solusi berbasis sains dan inovasi, termasuk pengembangan plastik biodegradable serta sistem pengumpulan dan daur ulang yang lebih efisien. Namun, hingga kini, belum ada konsensus soal siapa yang harus menanggung biaya dan tanggung jawab utama.

Tantangan Menuju Perjanjian Internasional yang Efektif

Negosiasi plastik global ini bukan sekadar soal teknis, tapi juga soal kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Industri petrokimia dan produsen plastik global memiliki pengaruh besar dalam proses penyusunan kebijakan.

Menurut laporan dari Center for International Environmental Law (CIEL), lobi industri plastik di konferensi plastik sangat aktif dalam menekan agar tidak ada pembatasan produksi plastik yang terlalu ketat.

Dari sisi regulasi, beberapa negara sudah mengambil langkah sendiri.

Uni Eropa, misalnya, telah memberlakukan larangan plastik sekali pakai sejak 2021 dan menargetkan pengurangan 55% sampah plastik pada 2030. Namun, langkah-langkah seperti ini dinilai tidak cukup jika tidak ada aturan global yang seragam dan mengikat. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri menekankan pentingnya perjanjian internasional yang dapat diimplementasikan secara merata di semua negara.

Dampak Langsung bagi Masyarakat dan Lingkungan

Bagi masyarakat, negosiasi plastik global ini sangat menentukan masa depan lingkungan hidup.

Jika perjanjian plastik global gagal mencapai kesepakatan, polusi plastik diperkirakan akan terus meningkat hingga dua kali lipat pada 2040. Selain merusak ekosistem laut dan darat, limbah plastik juga membawa risiko kesehatan, mulai dari gangguan hormon hingga kanker akibat paparan zat kimia berbahaya.

Lembaga riset seperti Pew Charitable Trusts menghitung, jika tidak ada perubahan kebijakan, jumlah sampah plastik yang bocor ke alam akan naik dari 11 juta ton menjadi 29 juta ton per tahun pada 2040. Ini akan memperparah krisis lingkungan global,

mengingat plastik membutuhkan ratusan tahun untuk terurai dan telah ditemukan di puncak gunung, dasar laut, hingga dalam tubuh manusia.

Solusi dan Jalan Tengah yang Diusulkan

Sejumlah pakar kebijakan lingkungan menyarankan agar negosiasi plastik global lebih fokus pada pengurangan sampah plastik di sumbernya.

Salah satu pendekatan yang mulai banyak didukung adalah sistem Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen plastik bertanggung jawab atas pengelolaan produk plastik mereka sejak awal hingga akhir siklus hidupnya. Model ini telah diterapkan di beberapa negara Eropa dan mulai dilirik oleh negara berkembang.

Selain itu, inovasi di bidang bahan alternatif juga menjadi harapan baru. Pengembangan plastik biodegradable dan teknologi daur ulang canggih dinilai bisa membantu mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional.

Namun, para ahli mengingatkan, solusi ini tidak boleh menjadi dalih untuk terus memproduksi plastik dalam jumlah besar tanpa pembatasan tegas.

Transparansi dalam Negosiasi dan Keterlibatan Publik

Salah satu kritik terbesar terhadap proses negosiasi perjanjian plastik global adalah kurangnya transparansi dan keterlibatan publik.

Organisasi masyarakat sipil mendesak agar dokumen dan hasil perundingan dibuka secara luas, sehingga masyarakat dapat mengawasi dan memberikan masukan. Mereka juga meminta agar suara komunitas terdampak, seperti nelayan, petani, dan warga pesisir, didengar dalam proses pengambilan keputusan.

Di era digital, kampanye media sosial untuk menekan pemerintah agar lebih ambisius dalam negosiasi plastik global semakin masif. Tagar #BreakFreeFromPlastic dan #PlastikBebasPolusi ramai digunakan untuk menggalang dukungan.

Gerakan akar rumput seperti ini dianggap penting untuk menjaga akuntabilitas para pengambil kebijakan.

Masa Depan Kebijakan Lingkungan Global

Dengan belum tercapainya konsensus dalam konferensi plastik internasional, masa depan kebijakan lingkungan terkait plastik masih penuh tanda tanya.

Banyak pemerhati lingkungan mendesak agar negara produsen plastik utama tidak hanya memikirkan kepentingan ekonomi jangka pendek, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap kesehatan, lingkungan, dan generasi mendatang. Tanpa pembatasan produksi plastik yang jelas, krisis polusi plastik dikhawatirkan akan semakin sulit dikendalikan.

Satu hal yang pasti, negosiasi plastik global adalah pertaruhan besar dalam sejarah upaya pengurangan sampah plastik dunia.

Jalan menuju perjanjian internasional yang ambisius dan efektif memang tidak mudah, namun tekanan publik dan dorongan data ilmiah yang semakin kuat bisa jadi kunci perubahan. Semua pihak kini menanti langkah tegas negara-negara utama dalam menuntaskan perdebatan pembatasan produksi plastik demi masa depan yang lebih bersih dan sehat.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0