Sejarah Halalbihalal Indonesia dari Tradisi Jawa hingga Era Soekarno

Oleh VOXBLICK

Minggu, 22 Maret 2026 - 21.50 WIB
Sejarah Halalbihalal Indonesia dari Tradisi Jawa hingga Era Soekarno
Sejarah Halalbihalal Indonesia (Foto oleh Arie Rachmat)

VOXBLICK.COM - Tradisi halalbihalal di Indonesia merupakan salah satu peristiwa sosial-budaya yang terus berlangsung setiap tahun pasca-Lebaran. Praktik ini melibatkan jutaan masyarakat dari berbagai lapisan untuk saling memaafkan, mempererat hubungan, dan membangun persatuan, baik di lingkungan keluarga, institusi, hingga tingkat nasional. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah halalbihalal memiliki akar mendalam dari tradisi Jawa dan mendapat makna baru pada masa awal kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui peran Presiden Soekarno.

Asal-usul Halalbihalal: Tradisi Jawa dan Islam Nusantara

Halalbihalal bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga merupakan hasil akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam.

Di Jawa, sebelum istilah "halalbihalal" populer, masyarakat telah mengenal tradisi saling bermaafan dan silaturahmi setelah Lebaran, salah satunya dikenal dengan istilah "sungkeman" di kalangan keraton dan masyarakat umum. Tradisi ini menekankan pentingnya harmoni sosial dan pengakuan atas kesalahan untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai.

Sejarah Halalbihalal Indonesia dari Tradisi Jawa hingga Era Soekarno
Sejarah Halalbihalal Indonesia dari Tradisi Jawa hingga Era Soekarno (Foto oleh Werner Pfennig)

Istilah “halalbihalal” sendiri diperkirakan mulai dikenal secara luas pada awal abad ke-20. Menurut beberapa catatan, seperti disampaikan oleh budayawan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), istilah ini merupakan adaptasi dari kosakata Arab yang

diindonesiakan, meski dalam tata bahasa Arab tidak dikenal istilah “halalbihalal” sebagai satu frasa. Di Jawa, istilah ini menjadi populer karena mudah diucapkan dan mengandung makna mendalam tentang saling menghalalkan kesalahan serta memperbaiki hubungan sosial.

Era Soekarno: Halalbihalal sebagai Instrumen Persatuan Nasional

Perkembangan penting terjadi pada tahun 1948, ketika Indonesia baru saja merdeka namun masih menghadapi konflik internal dan eksternal.

Presiden Soekarno, yang dikenal sebagai tokoh pemersatu bangsa, melihat pentingnya membangun harmoni nasional pasca-Lebaran. Dalam berbagai literatur, seperti diungkapkan oleh sejarawan Asep Kambali, Soekarno meminta KH Wahab Chasbullahpendiri Nahdlatul Ulamauntuk membantu meredakan ketegangan politik di antara elite pemerintahan dan DPR melalui forum silaturahmi nasional, yang kemudian diberi nama "Halalbihalal".

Acara halalbihalal pertama secara nasional dilaksanakan di Istana Negara, dihadiri oleh pejabat, tokoh agama, dan masyarakat lintas golongan.

Tujuannya jelas: mengikis pertentangan, memperkuat semangat kebangsaan, dan memfasilitasi rekonsiliasi pasca-Ramadan. Sejak saat itu, tradisi halalbihalal terus dilestarikan, bahkan diadopsi sebagai forum resmi di institusi pemerintahan, perusahaan, hingga organisasi masyarakat.

Makna, Perjalanan, dan Dinamika Halalbihalal di Indonesia

Seiring waktu, halalbihalal berkembang menjadi tradisi nasional yang sangat khas Indonesia. Praktiknya tidak hanya terbatas pada lingkup keluarga, tetapi juga menjadi agenda rutin di berbagai instansi, komunitas, bahkan perusahaan swasta.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 90% responden Muslim di Indonesia mengaku terlibat dalam tradisi halalbihalal tiap tahun, baik secara langsung maupun daring pada masa pandemi.

  • Makna Sosiokultural: Halalbihalal memperkuat nilai gotong-royong, solidaritas, dan inklusivitas lintas suku, agama, dan status sosial.
  • Perjalanan Sejarah: Dari tradisi lokal, halalbihalal bertransformasi menjadi agenda kenegaraan sejak era Soekarno dan terus berlanjut hingga kini.
  • Dinamika Kontemporer: Di era digital, halalbihalal juga dilakukan melalui platform daring, merespons perubahan gaya hidup masyarakat urban.

Dampak Halalbihalal terhadap Masyarakat dan Politik Indonesia

Tradisi halalbihalal memiliki implikasi luas yang dirasakan hingga saat ini.

Dalam konteks sosial, halalbihalal berperan sebagai jembatan rekonsiliasi dan memperkuat jejaring sosial, tidak hanya di lingkungan keluarga tetapi juga di dunia kerja dan institusi negara. Di bidang politik, tradisi ini menjadi momentum strategis untuk melakukan konsolidasi, negosiasi, dan penyelesaian konflik secara damai.

Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), menunjukkan bahwa halalbihalal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial-politik, terutama di masa transisi pemerintahan atau setelah

pemilu. Selain itu, halalbihalal juga memberikan dampak ekonomi, misalnya pada sektor UMKM melalui peningkatan konsumsi makanan-minuman dan jasa transportasi selama periode Lebaran.

Rangkuman Sejarah dan Relevansi Halalbihalal

Sejarah halalbihalal di Indonesia merupakan cermin dari kekuatan tradisi lokal yang mampu beradaptasi dan memberi kontribusi nyata dalam memperkuat persatuan bangsa.

Dari akar budaya Jawa hingga menjadi instrumen politik nasional pada era Soekarno, halalbihalal tetap relevan sebagai sarana untuk membangun harmoni sosial, mempererat solidaritas, dan menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika zaman.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0