Ahmad Tohari Bahas Kemanusiaan Sejarah dan Politik di UIN Saizu
VOXBLICK.COM - Budayawan Ahmad Tohari hadir sebagai pembicara dalam Seminar Nasional di UIN Saizu Purwokerto yang mengangkat tema jejak luka sejarah dan nilai kemanusiaan dalam politik Indonesia. Dalam forum akademik tersebut, Tohari membahas bagaimana pengalaman sejarah, budaya, dan etika kemanusiaan dapat menjadi lensa untuk membaca dinamika politik di Indonesiamulai dari cara masyarakat memahami kekerasan, ingatan kolektif, hingga tanggung jawab moral dalam proses politik.
Seminar ini juga menghadirkan K.H. Saifuddin Zuhri sebagai narasumber.
Kehadiran dua tokoh dengan latar beragambudaya-literer dan kiai-politikmembuat diskusi tidak berhenti pada analisis teks atau peristiwa sejarah, melainkan bergerak menuju pembahasan nilai dan praktik kemanusiaan yang relevan bagi kehidupan publik hari ini.
Ahmad Tohari: jejak sejarah bukan sekadar ingatan, tetapi tanggung jawab moral
Dalam paparannya, Ahmad Tohari menekankan bahwa “jejak luka sejarah” tidak dapat dimaknai sebagai cerita yang selesai di masa lalu.
Luka sejarahtermasuk dampak sosial dari kekerasan politik, konflik, dan represimenciptakan pola pengalaman yang memengaruhi hubungan antarkelompok hingga generasi berikutnya. Karena itu, membahasnya memerlukan sikap etis: bagaimana merawat ingatan tanpa mengabadikan kebencian, dan bagaimana menggunakan pengetahuan sejarah untuk mendorong kebijakan yang lebih manusiawi.
Tohari juga mengaitkan tema tersebut dengan nilai kemanusiaan dalam politik Indonesia. Menurutnya, politik tidak semestinya hanya dipahami sebagai kompetisi kekuasaan, melainkan sebagai ruang tanggung jawab publik.
Dalam konteks ini, kemanusiaan menjadi prinsip yang menuntun cara negara dan aktor politik merespons penderitaan warga, termasuk saat menghadapi persoalan warisan konflik.
K.H. Saifuddin Zuhri: perspektif budaya-agama untuk membaca dinamika politik
K.H. Saifuddin Zuhri hadir untuk memperkaya diskusi dengan perspektif yang berakar pada tradisi keagamaan dan pengalaman sejarah bangsa.
Dalam forum yang berlangsung di lingkungan UIN, pandangan beliau membantu menghubungkan dimensi moral, sejarah, dan budaya dengan praktik politik sehari-hari.
Diskusi tidak hanya menyoroti “apa yang terjadi” pada masa lalu, tetapi juga “bagaimana nilai kemanusiaan seharusnya hadir” dalam proses politik masa kini.
Dengan pendekatan ini, seminar menjadi lebih dari sekadar penelusuran akademik ia menjadi ruang refleksi atas etika publik, termasuk pentingnya sikap adil terhadap korban, penghormatan pada martabat manusia, serta penguatan pendidikan sejarah yang berorientasi pada pemahaman, bukan pembenaran.
Relevansi seminar di kampus: budaya, sejarah, dan politik bertemu dalam satu kerangka
Seminar Nasional di UIN Saizu Purwokerto menegaskan keterkaitan antara tiga bidang yang sering dipisahkan dalam pembahasan publik: budaya, sejarah, dan politik.
Melalui pembahasan Ahmad Tohari dan narasumber lainnya, forum ini menunjukkan bahwa karya sastra, tradisi budaya, dan narasi sejarah dapat menjadi medium untuk memahami politik secara lebih manusiawi.
Secara substansi, tema “jejak luka sejarah” mengundang audiensterutama mahasiswa dan akademisiuntuk melihat bagaimana narasi kolektif terbentuk: siapa yang bercerita, siapa yang diingat, dan siapa yang dilupakan.
Sementara itu, tema “nilai kemanusiaan dalam politik Indonesia” mengarahkan pembahasan pada pertanyaan praktis: bagaimana kebijakan publik seharusnya melindungi warga dari pengulangan kekerasan, dan bagaimana etika politik mencegah dehumanisasi.
Hal-hal penting yang dibahas dalam seminar
Berikut poin-poin yang menjadi inti pembahasan dalam seminar nasional tersebut:
- Jejak luka sejarah sebagai pengalaman sosial yang berlanjut dan memengaruhi hubungan antarkelompok.
- Kemanusiaan sebagai prinsip etis dalam politik, bukan sekadar slogan.
- Peran budaya dan karya naratif (termasuk literatur) untuk membentuk cara masyarakat memahami konflik dan penderitaan.
- Perspektif sejarah yang mendorong pembelajaran publik: bagaimana memproses ingatan tanpa mengunci kebencian.
- Dialog lintas latar antara tokoh budaya dan perspektif keagamaan untuk memperluas kerangka analisis politik.
Dampak dan implikasi lebih luas: pendidikan sejarah dan etika kebijakan publik
Seminar seperti ini memiliki implikasi yang melampaui forum kampus.
Pertama, diskursus tentang jejak luka sejarah dan nilai kemanusiaan dapat memperkuat kualitas pendidikan sejarah dan pendidikan kewarganegaraan yang lebih berorientasi pada pemahaman konteks, empati pada korban, serta kemampuan berpikir kritis. Bila pembelajaran sejarah hanya berhenti pada penghafalan fakta, masyarakat berisiko mengulang pola pikir yang memproduksi konflik baru. Sebaliknya, pendekatan yang menekankan kemanusiaan membantu membangun literasi publik yang lebih dewasa.
Kedua, forum ini juga relevan bagi regulasi dan tata kelola kebijakan yang bersinggungan dengan pemulihan korban, pelindungan martabat manusia, dan penyelesaian konflik.
Prinsip kemanusiaan dapat menjadi rujukan dalam penyusunan programmisalnya dalam bentuk mekanisme bantuan sosial, perlindungan hukum, dan penguatan layanan dukungan psikososialyang tidak hanya menargetkan pemulihan administratif, tetapi juga pemulihan martabat.
Ketiga, dari sisi kebiasaan masyarakat, seminar dapat mendorong ruang diskusi publik yang lebih sehat: masyarakat belajar membedakan antara kritik politik dan dehumanisasi, serta antara pengungkapan sejarah dan penyulutan kebencian.
Dalam jangka panjang, iklim dialog seperti ini penting untuk mengurangi polarisasi yang sering muncul ketika narasi sejarah dipakai sebagai alat pembenaran sepihak.
Makna acara bagi pembaca: memahami politik melalui kacamata kemanusiaan
Bagi pembacaterutama mahasiswa dan pengambil kebijakankehadiran Ahmad Tohari dalam seminar nasional di UIN Saizu Purwokerto memperlihatkan bahwa analisis politik tidak cukup berhenti pada strategi kekuasaan.
Ada dimensi yang lebih dalam: bagaimana sejarah dan budaya membentuk cara manusia memaknai penderitaan, bagaimana kemanusiaan seharusnya menjadi batas etis dalam tindakan politik, serta bagaimana ingatan kolektif dapat diarahkan untuk belajar, bukan untuk mengulang.
Dengan menggabungkan perspektif budayawan dan narasumber berlatar keagamaan, seminar ini menawarkan kerangka yang relevan untuk memahami dinamika politik Indonesia secara lebih manusiawi.
Bagi publik akademik, acara ini juga menjadi pengingat bahwa kampusmelalui ruang diskusi seperti seminar nasionaldapat berperan aktif dalam membangun literasi kemanusiaan yang kelak berpengaruh pada kualitas kebijakan dan etika berpolitik di masa depan.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0