Mengapa Ethereum Gagal Ikuti Lonjakan Besar Industri Kripto

Oleh VOXBLICK

Jumat, 01 Mei 2026 - 18.45 WIB
Mengapa Ethereum Gagal Ikuti Lonjakan Besar Industri Kripto
Ethereum gagal ikuti lonjakan kripto (Foto oleh Jonathan Borba)

VOXBLICK.COM - Ethereum sudah lama dikenal sebagai koin terbesar kedua di dunia kripto, hanya kalah dari Bitcoin. Namun, ketika industri kripto dilanda lonjakan besar pada 2024, Ethereum justru tampak tertinggal jika dibandingkan dengan rival-rival barunya. Padahal, jaringan ini pernah dianggap sebagai tulang punggung inovasi blockchain berkat fitur smart contract-nya. Lantas, apa yang membuat Ethereum gagal mengikuti arus besar tersebut? Mari kita telusuri teknologi di balik Ethereum, tantangan yang dihadapinya, dan mengapa para investor mulai berpaling ke blockchain lain.

Ethereum: Fondasi Kripto Modern dan Evolusinya

Ethereum pertama kali diperkenalkan pada tahun 2015 oleh Vitalik Buterin.

Berbeda dengan Bitcoin yang fokus pada transfer nilai, Ethereum membawa konsep smart contract, yang memungkinkan siapa saja membuat aplikasi terdesentralisasi (dApp) di atas blockchain. Ini membuka jalan bagi tren NFT, DeFi, hingga DAO yang meledak dalam beberapa tahun terakhir.

Mengapa Ethereum Gagal Ikuti Lonjakan Besar Industri Kripto
Mengapa Ethereum Gagal Ikuti Lonjakan Besar Industri Kripto (Foto oleh Morthy Jameson)

Namun, seiring waktu, banyak pengguna mulai mengeluhkan kecepatan transaksi yang lambat dan biaya (gas fee) yang sangat tinggi pada saat jaringan ramai.

Meskipun Ethereum berhasil bertransisi dari Proof of Work ke Proof of Stake pada tahun 2022 (dikenal sebagai The Merge), masalah skala dan biaya tetap menjadi batu sandungan.

Mengapa Ethereum Tidak Sanggup Mengejar Lonjakan Industri?

Pada saat banyak aset kripto mencetak rekor harga baru, Ethereum justru berjalan di tempat. Ada beberapa alasan utama yang membuat Ethereum gagal mengikuti lonjakan besar di industri kripto:

  • Masalah Skalabilitas: Ethereum saat ini hanya mampu memproses sekitar 15-30 transaksi per detik (TPS). Bandingkan dengan Solana yang bisa menangani lebih dari 65.000 TPS, atau bahkan Polygon yang menawarkan solusi Layer-2 untuk mempercepat transaksi Ethereum.
  • Biaya Gas Tinggi: Ketika aktivitas jaringan melonjak, biaya transaksi bisa membengkak hingga puluhan bahkan ratusan dolar. Hal ini jelas menurunkan minat pengguna ritel dan developer baru untuk membangun di atas Ethereum.
  • Persaingan dari Blockchain Baru: Banyak blockchain generasi terbaru seperti Solana, Avalanche, dan Aptos menawarkan transaksi yang lebih murah dan cepat. Mereka juga menggaet developer dengan ekosistem yang lebih ramah dan insentif menarik.
  • Upgrade yang Lambat: Proses peningkatan Ethereum, seperti sharding dan rollup, berjalan lambat karena harus mengutamakan keamanan dan desentralisasi. Sementara itu, blockchain baru bisa bergerak lebih agresif.

Perbandingan Praktis: Ethereum vs Rivalnya

Agar lebih jelas, mari bandingkan spesifikasi teknis dan pengalaman pengguna antara Ethereum dengan beberapa pesaing utamanya:

  • Ethereum: Mendukung ribuan dApps, sangat aman dan terdesentralisasi, namun lambat dan mahal.
  • Solana: Sangat cepat dan murah, namun pernah mengalami downtime dan masih dalam tahap pengembangan keamanan.
  • Polygon: Menjadi solusi Layer-2 di atas Ethereum, mempercepat transaksi dengan biaya jauh lebih murah, tapi tetap bergantung pada keamanan Ethereum.
  • Avalanche: TPS tinggi, biaya rendah, kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine (EVM), namun ekosistemnya belum sebesar Ethereum.

Data pada Q2 2024 menunjukkan, meski nilai total aset terkunci (TVL) di Ethereum masih terbesar, pertumbuhan volume transaksi dan jumlah pengguna aktif harian justru lebih tinggi di Solana, Polygon, dan beberapa blockchain baru.

Upaya Pembaruan: Apakah Ethereum Mampu Bangkit?

Ethereum sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai inisiatif seperti Danksharding dan pengembangan rollup (misalnya Arbitrum, Optimism) sedang digarap untuk meningkatkan skala dan menurunkan biaya.

Akan tetapi, proses ini memakan waktu dan seringkali terhambat oleh kebutuhan menjaga keamanan serta konsensus komunitas.

Sementara itu, developer dan pengguna mulai mencoba ekosistem baru yang menawarkan pengalaman lebih cepat dan murah. Ini menyebabkan pertumbuhan Ethereum melambat, bahkan ketika industri kripto secara keseluruhan sedang mengalami booming besar.

Apakah Ethereum Masih Layak untuk Masa Depan?

Ethereum tetap menjadi pionir dan fondasi utama dunia blockchain, terutama untuk aplikasi keuangan terdesentralisasi dan NFT.

Namun, untuk bisa bersaing di tengah lonjakan industri kripto, Ethereum perlu beradaptasi lebih cepat dalam hal teknologi dan pengalaman pengguna. Jika tidak, bukan tidak mungkin posisinya akan terus tergerus oleh blockchain baru yang lebih gesit dan inovatif.

Bagi para pengguna dan investor, memahami kekuatan sekaligus keterbatasan Ethereum menjadi kunci sebelum mengambil keputusan.

Teknologi blockchain berkembang sangat pesat, dan hanya yang mampu berinovasi dengan cepatlah yang akan tetap relevan di masa depan.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0