Produsen Baterai China Kembangkan Baterai Natrium Alternatif Lithium

Oleh VOXBLICK

Sabtu, 21 Maret 2026 - 13.00 WIB
Produsen Baterai China Kembangkan Baterai Natrium Alternatif Lithium
Baterai natrium buatan China (Foto oleh Hilary Halliwell)

VOXBLICK.COM - Produsen baterai terkemuka asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dan BYD, telah memulai produksi massal baterai natrium-ion sebagai alternatif dari baterai lithium-ion yang selama ini mendominasi pasar kendaraan listrik (EV). Inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada mineral kritis seperti lithium dan kobalt, yang harganya semakin melonjak dan pasokannya terbatas secara global.

Produsen Utama dan Langkah Strategis

CATL, produsen baterai terbesar di dunia, resmi meluncurkan baterai natrium-ion generasi pertamanya pada pertengahan 2021. Pada awal 2024, perusahaan ini mulai memasok baterai natrium-ion untuk kendaraan listrik kelas menengah dan rendah, serta

aplikasi penyimpanan energi stasioner. BYD, pesaing terbesar CATL dan produsen EV terkemuka dunia, juga telah mengumumkan pengembangan baterai natrium-ion dan siap memproduksi secara komersial pada tahun ini.

Produsen Baterai China Kembangkan Baterai Natrium Alternatif Lithium
Produsen Baterai China Kembangkan Baterai Natrium Alternatif Lithium (Foto oleh Castorly Stock)

Langkah ini menandai pergeseran penting dalam industri baterai global.

Menurut laporan Benchmark Mineral Intelligence, dominasi China dalam rantai pasok baterai lithium-ion telah menimbulkan kekhawatiran di banyak negara terkait keamanan energi dan ketersediaan bahan baku. Dengan beralih ke natrium, yang melimpah dan mudah diekstraksi, China berupaya memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi teknologi baterai dunia.

Alasan dan Manfaat Pengembangan Baterai Natrium

Baterai lithium-ion selama ini menjadi pilihan utama pada kendaraan listrik, penyimpanan energi, hingga perangkat elektronik. Namun, ketergantungan pada lithium, kobalt, dan nikel membuat harga dan pasokan bahan baku ini sangat fluktuatif.

Organisasi seperti International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan lithium akan meningkat hingga 40 kali lipat pada 2040 seiring pertumbuhan pasar EV global.

  • Ketersediaan Natrium: Natrium jauh lebih melimpah dari lithium dan tersebar luas di berbagai wilayah, termasuk Tiongkok, sehingga tidak tergantung pada negara atau pemasok tertentu.
  • Biaya Lebih Rendah: Biaya produksi baterai natrium-ion diperkirakan bisa lebih murah hingga 30% dibandingkan baterai lithium, karena bahan bakunya lebih murah dan proses ekstraksinya lebih sederhana.
  • Keamanan Operasional: Baterai natrium-ion umumnya lebih stabil pada suhu tinggi dan memiliki risiko kebakaran lebih rendah dibanding lithium-ion.
  • Ramah Lingkungan: Proses pembuatan dan daur ulang baterai natrium-ion cenderung menghasilkan dampak lingkungan yang lebih kecil.

Tantangan dan Performa Teknologi

Meskipun menghadirkan sejumlah keunggulan, baterai natrium-ion masih menghadapi tantangan teknis.

Daya tampung energi (energy density) baterai natrium saat ini umumnya sekitar 140-160 Wh/kg, lebih rendah dibandingkan lithium-ion yang telah mencapai 200-250 Wh/kg. Namun, produsen seperti CATL menyatakan telah mencapai angka 160 Wh/kg pada generasi terbaru, dan riset terus dilakukan untuk mendekati performa lithium-ion.

Selain itu, siklus pengisian ulang dan umur pakai baterai natrium-ion saat ini masih sedikit di bawah baterai lithium.

Namun, untuk aplikasi kendaraan listrik murah, sepeda motor listrik, serta penyimpanan energi skala besar, performa baterai natrium dinilai sudah cukup kompetitif.

Dampak Terhadap Industri dan Rantai Pasok Global

Pergeseran menuju baterai natrium-ion berpotensi mengubah peta rantai pasok industri energi global.

Ketergantungan pada negara pemasok lithium seperti Australia, Chili, dan kobalt dari Kongo dapat berkurang, sehingga risiko geopolitik dan fluktuasi harga bahan baku dapat diminimalisasi. Negara-negara produsen kendaraan listrik dan perangkat penyimpanan energi juga bisa memiliki alternatif lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Bagi industri otomotif, adopsi baterai natrium membuka peluang penetrasi kendaraan listrik di segmen harga terjangkau.

Pemerintah Tiongkok pun telah mendukung pengembangan ekosistem baterai natrium dengan insentif riset dan kemitraan antara produsen, universitas, serta lembaga riset. Sementara itu, produsen Eropa dan Amerika Serikat mulai melirik teknologi ini untuk diversifikasi sumber pasokan dan memperkuat keamanan energi nasional.

Dengan langkah strategis produsen baterai China, teknologi baterai natrium-ion kemungkinan besar akan menjadi bagian penting dalam masa depan kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi, serta mendukung transisi energi global yang lebih inklusif

dan berkelanjutan.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0