Terjebak di Zona Radiasi Misterius Diburu Makhluk Tak Terlihat
VOXBLICK.COM - Langit sudah menggelap ketika aku sadar telah berjalan terlalu jauh ke dalam zona terlarang itu. Kabut tipis menyelimuti tanah berlumpur, dan setiap langkah terasa semakin berat, seolah udara pun menolak keberadaanku. Di dadaku, alat pengukur radiasi bergetar ringan, jarum merahnya melonjak tak menentu. Aku, seorang pemburu yang biasa menantang sunyi hutan, malam itu benar-benar merasa tersesat. Tak ada suara burung, tak ada suara ranting patah, hanya detak jantungku yang berdetak keras dan sesekali bisikan samar yang tidak bisa kujelaskan asalnya.
Orang-orang desa sering memperingatkan tentang tempat inisebuah zona radiasi misterius yang konon dihuni oleh makhluk tak kasat mata. Dulu aku menertawakan cerita mereka, menganggapnya hanya mitos pengusir anak-anak nakal.
Tapi malam itu, dengan senapan di tangan dan udara dingin menusuk tulang, aku merasakan sesuatu mengawasiku dari balik kabut, dari tempat yang tak kasat mata.
Langkah-Langkah di Balik Kabut
Tiba-tiba, udara di sekitarku berubah. Bau logam menyengat menusuk hidung, dan bulu kudukku berdiri tanpa alasan jelas. Aku menahan napas, berusaha mendengar lebih jelas, tapi yang kudapatkan hanya suara detakan alat radiasi yang makin cepat.
Di kejauhan, samar, terdengar langkah kakipelan, berat, dan tidak beraturan.
- Langkah itu tidak pernah mendekat, tapi juga tak pernah menjauh.
- Setiap aku berhenti, langkah itu ikut berhenti.
- Ketika kuputuskan untuk berbalik, tak ada apapun di belakangku. Hanya pohon-pohon mati dan tanah yang retak.
Tanganku mulai bergetar. Aku bicara pada diriku sendiri, mencoba mengusir rasa takut. "Hanya suara binatang," pikirku. Tapi suara itu bukan milik binatang manapun yang pernah kukenal. Langkahnya berat, menyeret, seolah makhluk itu terluka atau...
bukan berasal dari dunia ini.
Bayangan yang Tak Pernah Tampak
Setiap kali aku menoleh, mataku menatap kosong ke dalam kegelapan. Tak ada apa-apa. Tapi setiap bulu di tubuhku berteriak bahwa ada sesuatu di sini.
Aku mempercepat langkah, berharap bisa keluar dari zona radiasi misterius ini sebelum tubuhku benar-benar menyerah. Namun, semakin cepat aku berjalan, semakin berat udara yang kurasakan. Setiap napas seperti menghirup serpihan kaca.
Suara bisikan mulai terdengar di telinga, kadang jelas, kadang hanya seperti desir angin. "Jangan lari...," suara itu memanggil, begitu dekat, seolah muncul dari dalam kepalaku sendiri. Aku menutup telinga, menahan air mata yang mulai jatuh.
Aku tahu, jika aku berhenti, aku akan benar-benar melihat apa yang membuntutiku sejak tadi.
Perburuan yang Membalik
Aku mencoba mengingat jalan keluar, tapi kabut yang semakin pekat menelan setiap jejak langkahku. Dahan-dahan pohon seperti tangan-tangan kurus yang mencoba meraihku. Setiap suara langkah kini berubah menjadi derap cepat, mengejarku dari segala arah.
Aku berlari, menabrak semak, terjatuh, dan ketika bangun, aku menemukan sesuatu yang membuat darahku membeku.
- Jejak kakibukan milikkumenyebar di tanah berlumpur, mengelilingiku.
- Jejak itu dalam, besar, dan bentuknya aneh, seperti campuran kaki manusia dan binatang buas.
- Tak ada suara, hanya keheningan mematikan.
Jantungku berdegup liar. Aku menoleh, dan untuk sepersekian detik, kulihat bayangan gelap yang bergerak cepat di antara pepohonan. Tak ada wajah, hanya siluet samar, seolah-olah kegelapan itu sendiri hidup dan menatapku.
Akhir yang Membeku di Tengah Kabut
Udara semakin berat, dan alat radiasi di dadaku mengeluarkan suara berisik yang menusuk telinga. Aku tak tahu berapa lama lagi bisa bertahan.
Dalam keputusasaan, aku menjerit dan menembakkan senapan ke arah bayangan itunamun peluruku hanya menembus udara. Tawa lirih menggema di sekelilingku, dingin, dan tidak manusiawi.
Dengan sisa tenaga, aku mencoba berlari ke arah di mana aku pikir jalan keluar berada. Namun, setiap langkah membawaku kembali ke tempat yang sama. Jejak kaki itu terus bertambah, mengelilingiku, menari di sekeliling tubuhku yang mulai lemah.
Aku jatuh berlutut, napasku sesak, dan dunia mulai berputar. Dalam samar-samar pandanganku, kulihat kabut itu berputar membentuk sosok tinggi tanpa wajah, dan suara bisikan itu kembalikali ini terdengar jelas di telingaku:
"Kau tidak pernah benar-benar sendirian di zona ini."
Kegelapan menyergapku. Saat kubuka mata, aku sudah tidak tahu lagi apakah aku masih hidupatau kini menjadi bagian dari zona radiasi misterius itu, menunggu pemburu berikutnya yang akan datang...
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0