Penumpang Turun di Tengah Hutan dan Aku Mengikutinya di Malam Itu

Oleh VOXBLICK

Sabtu, 17 Januari 2026 - 02.30 WIB
Penumpang Turun di Tengah Hutan dan Aku Mengikutinya di Malam Itu
Penumpang turun di tengah hutan (Foto oleh Lorenzo Manera)

VOXBLICK.COM - Aku sudah hampir sepuluh tahun menjadi sopir bus malam yang melintasi jalan antarkota di Sumatera. Tak terhitung berapa kali aku menyaksikan kabut tebal menyelimuti jalur hutan, atau suara burung malam yang menyelinap di sela-sela sunyi. Namun, malam itumalam yang menyeretku ke kisah yang tak pernah berani kuceritakan secara utuhsemuanya berubah. Malam itu, ada sesuatu yang turun di tengah hutan, dan aku... aku bodoh karena mengikutinya.

Malam yang Tak Biasa di Atas Jalan Lurus

Jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Hanya ada enam penumpang tersisa di dalam bus, semuanya tertidur atau pura-pura tertidur, kecuali satu. Seorang wanita muda duduk di bangku paling belakang, menatap keluar jendela gelap dengan wajah pucat.

Sempat terbersit rasa penasaran, tapi aku memilih fokus pada jalanan berkelok yang sepi. Sampai tiba-tiba, ia berdiri dan menekan bel darurat. Aku terkejut tak ada halte atau rumah penduduk sejauh 10 kilometer ke depan. Bus pun berhenti mendadak, rem berdecit di atas aspal yang dingin.

Penumpang Turun di Tengah Hutan dan Aku Mengikutinya di Malam Itu
Penumpang Turun di Tengah Hutan dan Aku Mengikutinya di Malam Itu (Foto oleh Pixabay)

Wanita itu menatapku sebentar, matanya kosongseolah tak ada kehidupan di sana. Tanpa sepatah kata, ia melangkah turun, menghilang ke dalam kegelapan hutan.

Udara malam terasa lebih berat, dan entah kenapa, aku terpanggil untuk mengikuti jejaknya, meninggalkan bus dan penumpang lain yang masih terlelap.

Jejak di Antara Pepohonan Gelap

Hutan malam itu benar-benar sunyi. Tak terdengar suara binatang, hanya deru nafasku sendiri dan gemerisik daun kering yang terinjak. Senter di tangan menggigil, cahayanya menari-nari di antara batang-batang pohon yang tinggi.

Aku mempercepat langkah, mengikuti bayangan samar perempuan itu yang tampak melayang di antara kabut tipis.

  • Ada bau tanah basah dan aroma bunga liar yang menusuk hidung.
  • Suara ranting patah jauh di depan, seolah ada seseorangatau sesuatuyang menuntunku lebih dalam.
  • Rasa dingin perlahan berubah jadi gigil, seiring bisikan angin yang membawa suara lirih memanggil namaku.

Setiap langkah terasa seperti jebakan. Aku tak tahu kenapa tak bisa berhentiseolah sepasang mata memaksaku untuk terus maju. Lalu, aku melihatnya. Di bawah pohon besar, wanita itu berdiri membelakangiku.

Rambutnya terurai menutup wajah, gaun putihnya kotor dan basah. Dia berbisik, pelan tapi jelas, “Tolong... pulangkan aku.”

Sosok di Balik Kabut

Langit semakin gelap, kabut turun menutupi segalanya. Aku hendak mendekat, tapi tiba-tiba tanah di sekitarku terasa lunak, seperti menghisap kakiku.

Aku panik, senter terlepas dari genggaman dan jatuh, cahayanya bergulir menyorot wajah wanita ituwajah yang ternyata bukan milik manusia. Kulitnya pucat keabu-abuan, matanya hitam tanpa bola mata, mulutnya menganga lebar penuh darah. Aku mundur, tapi kakiku tak bisa bergerak.

Dia melayang mendekat, bisikan lirihnya berubah menjadi jeritan. Hutan seakan berputar, suara-suara aneh bermunculan dari segala arah. Aku menutup mata, berharap semua ini mimpi.

Tapi suara itu, suara perempuan tadi, kini berbisik tepat di telingaku, “Jangan pernah kembali ke hutan ini.”

Bus Kosong dan Kursi Belakang

Entah bagaimana, aku tersadar di kursi sopir. Bus sudah kosong, suasana subuh mulai menyapa. Tak ada penumpang, tak ada jejak wanita itu.

Tapi ketika aku melihat ke kaca spion, kursi paling belakang terlihat basah, dan ada bekas telapak tangan di jendelabekas yang tak pernah bisa hilang, meski sudah berkali-kali kubersihkan.

  • Setiap malam, suara bel darurat itu kadang berbunyi sendiri.
  • Tak seorang pun penumpang mau duduk di kursi belakang lagi.
  • Dan aku... aku tidak pernah lagi berhenti di tengah hutan, apa pun alasannya.

Namun, kadang, ketika malam benar-benar sunyi, aku masih mendengar suara lirih memanggil dari balik kabutmeminta dipulangkan, entah ke mana. Dan aku tahu, apa pun yang terjadi malam itu, ia belum benar-benar pergi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0