Malam Itu, Pintu Rumah Terbuka, Ayahku yang Tiada Berdiri di Sana

Oleh VOXBLICK

Minggu, 18 Januari 2026 - 01.30 WIB
Malam Itu, Pintu Rumah Terbuka, Ayahku yang Tiada Berdiri di Sana
Ayahku yang Tiada Kembali (Foto oleh Sonya Borovaya)

VOXBLICK.COM - Hening malam menggantung di udara, menyusup ke celah-celah rumah tua kami yang berdiri di pinggiran kota. Jam dinding berdetak pelan, jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku berbaring di kamar, lampu sudah kupadamkan, hanya cahaya remang dari luar yang menyusup lewat celah jendela. Saat kelopak mataku hampir menutup, suara ketukan pelan terdengar dari arah ruang tamu. Tiga kali. Perlahan, beraturan. Jantungku berdegup lebih cepat, rasa kantuk langsung sirna.

Aku menahan napas, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya suara angin atau hewan malam yang iseng. Tapi suara itu datang lagi, kali ini lebih jelas, lebih dekat.

Aku mengintip dari sela pintu kamar, lorong rumah tampak gelap, hanya disinari cahaya temaram lampu jalan yang masuk dari kaca buram. Tak ada siapa-siapa. Namun, ada sesuatu di udara malam itu yang membuat bulu kudukku meremangseolah-olah ada sesuatu yang menunggu di balik pintu depan.

Malam Itu, Pintu Rumah Terbuka, Ayahku yang Tiada Berdiri di Sana
Malam Itu, Pintu Rumah Terbuka, Ayahku yang Tiada Berdiri di Sana (Foto oleh Maria Orlova)

Ketukan Tengah Malam

Langkahku pelan, hampir tak bersuara. Lantai kayu di bawah kakiku berdecit lirih. Aku mendekat ke ruang tamu, menahan napas, mencoba mengintip dari balik tirai. Tak ada siapa-siapa di luar.

Tapi pintu utama yang kukunci sebelum tidur tadi, kini tampak sedikit terbukasekitar dua jari lebarnya. Angin malam mengusap pipiku, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang asing, samar-samar seperti bau dupa yang terbakar setengah.

Ketika aku maju dan menyentuh gagang pintu, dinginnya terasa menusuk, seolah-olah baru saja disentuh oleh sesuatu yang tak kasat mata. Aku menarik napas panjang, lalu perlahan membuka pintu itu. Di ambang, siluet seorang pria berdiri, membelakangiku.

Rambutnya tipis, tubuhnya kurus, baju koko lusuh yang sangat familiar. Aku hampir tak bisa berkata-kata.

Ayahku yang Telah Tiada

“Ayah…?” sapaku lirih, suaraku bergetar. Pria itu berbalik perlahan. Wajahnya pucat, matanya kosong, menatapku tanpa ekspresi. Aku terpaku di tempat, tubuhku menggigil hebat.

Kenangan terakhir tentang ayah berkelebat di benakku: tubuhnya terbaring di rumah sakit, napasnya tinggal satu-satu, dan akhirnya, dingin tanpa suara. Aku sendiri yang menutup matanya, dan aku sendiri yang menaburkan tanah di makamnya.

  • Rambut ayahku kusut, seperti belum pernah disisir.
  • Di ujung lengannya, ada bekas tanah yang menempel, coklat pekat.
  • Bibirnya membiru, dan dadanya diam, tanpa tarikan napas.

“Nak… sudah malam. Bukakan pintu, aku kedinginan,” bisiknya, suara serak yang hanya bisa kudengar di mimpi buruk. Kaki-kakiku terasa berat, seolah tertanam di lantai. Aku ingin berlari, ingin berteriak, tapi lidahku kelu.

Aku hanya bisa menatap mata kosong itumata ayahku yang sudah tiada semenjak tiga bulan lalu.

Antara Nyata dan Mimpi

Semua terasa begitu nyata. Napas ayah membentuk embun tipis di udara, meski malam itu tak sedingin biasanya. Ia melangkah masuk, pelan, menyeret kakinya di lantai.

Setiap langkahnya meninggalkan jejak basah, seperti lumpur yang baru diangkat dari liang kubur. Aku mundur setapak demi setapak, punggungku menempel di dinding. Ayah berdiri tepat di depanku, aroma tanah basah dan dupa menguar lebih kuat, menusuk hidung.

“Kamu… sudah makan?” tanyanya lagi, kali ini nadanya lebih dalam, hampir seperti suara dari dasar sumur. Aku tak sanggup menjawab. Tiba-tiba, lampu ruang tamu berkedip, lalu padam seketika. Gelap gulita menelan semuanya.

Dalam kegelapan, aku merasakan sentuhan dingin di bahukuerat dan berat, seolah-olah tangan itu bukan milik manusia.

Bayang-Bayang di Ambang Pintu

Ketika lampu kembali menyala, ayah sudah tak ada. Hanya jejak lumpur di lantai, mengarah ke depan pintu yang kini terbuka lebar. Angin malam masuk, membawa bisikan-bisikan tak jelas.

Aku berdiri terpaku, tubuhku lemas, keringat dingin membasahi punggung. Semua terasa seperti mimpi buruk, tapi lumpur di lantai itu nyata. Aku masih bisa merasakan dingin dari sentuhan itu, membekas di kulit bahuku.

Bahkan sekarang, setiap malam, aku selalu memastikan pintu terkunci rapat. Tapi kadang, saat malam sudah larut dan keheningan menyelimuti rumah, aku mendengar suara ketukan pelan dari arah ruang tamu. Tiga kali. Perlahan, beraturan.

Dan aku tahu, ayah menunggu di ambang pintumenatapku dengan mata kosong, menantikan sesuatu yang belum tuntas di antara kami.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0