Cara Menjadi Lebih Manusiawi di Era Digital 2026

Oleh VOXBLICK

Sabtu, 31 Januari 2026 - 08.30 WIB
Cara Menjadi Lebih Manusiawi di Era Digital 2026
Kebiasaan manusiawi di era digital (Foto oleh cottonbro studio)

VOXBLICK.COM - Tren baru muncul di tengah dominasi teknologi pada tahun 2026: kebiasaan sederhana seperti menulis kartu ucapan tangan, membaca puisi, dan mengurangi jumlah foto digital mulai populer di kalangan masyarakat urban dan profesional muda. Fenomena ini didorong kekhawatiran terhadap dampak kesehatan mental akibat paparan teknologi tanpa jeda, serta pencarian makna yang lebih personal dalam interaksi sehari-hari.

Berbagai komunitas di kota-kota besar, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bandung, melaporkan peningkatan aktivitas menulis surat atau kartu pribadi.

Data dari Indonesian Digital Wellness Survey 2026 menunjukkan 47% responden usia 20-35 tahun kini secara rutin berusaha membatasi konsumsi konten digital dan menggantinya dengan kegiatan yang bersifat reflektif, seperti membaca puisi atau menulis jurnal fisik.

Cara Menjadi Lebih Manusiawi di Era Digital 2026
Cara Menjadi Lebih Manusiawi di Era Digital 2026 (Foto oleh RDNE Stock project)

Studi yang diterbitkan oleh Center for Mental Health and Society menyebutkan bahwa kebiasaan sederhana, seperti membatasi pengambilan foto digital dan memperbanyak kegiatan berbasis kertas, berhubungan dengan peningkatan tingkat

kepuasan hidup dan penurunan stres. Salah satu peneliti, Dr. Irma Lestari, mengungkapkan, “Ritual fisik seperti menulis kartu ucapan atau membaca puisi bersama keluarga menjadi bentuk jeda psikologis yang penting dalam kehidupan digital yang serba cepat.”

Kebiasaan Baru dalam Menjaga Keseimbangan Digital

Munculnya gerakan ‘digital minimalism’ di Indonesia bukan hanya sekadar respons tren global, melainkan kebutuhan nyata bagi generasi yang merasa lelah akan notifikasi dan konten daring tanpa henti.

Beberapa kebiasaan yang sedang naik daun di tahun 2026 antara lain:

  • Menulis kartu atau surat tangan: Banyak toko buku dan toko kreatif melaporkan kenaikan penjualan alat tulis dan kartu ucapan hingga 35% dibandingkan tahun sebelumnya (data: Asosiasi Toko Buku Indonesia).
  • Membaca puisi dan karya sastra: Komunitas baca offline, seperti Ruang Puisi di Jakarta, mengadakan sesi rutin yang diikuti ratusan anggota setiap bulan.
  • Mengurangi foto digital: Pengguna media sosial mulai menghapus ribuan foto lama dan hanya menyimpan dokumentasi yang benar-benar bermakna, didorong kekhawatiran privasi serta kebutuhan ruang penyimpanan digital.
  • Jurnal harian fisik: Menulis catatan harian dengan tangan kembali diminati sebagai cara refleksi dan mengurangi kecanduan perangkat digital.

Alasan di Balik Tren Menjadi Lebih Manusiawi

Menurut laporan APJII 2026, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 89%. Namun, survei yang sama mengungkapkan bahwa 62% responden merasa mudah lelah secara emosional akibat overload informasi digital.

Psikolog digital, Reni Safitri, M.Psi, menyatakan, “Kegiatan berbasis kertas dan interaksi fisik memberi ruang bagi otak untuk beristirahat, sehingga membantu menjaga kesehatan mental.”

Pengalaman personal dan sosial yang lebih bermakna menjadi alasan utama masyarakat mengadopsi kebiasaan ini.

Sebuah kartu tulisan tangan, misalnya, dianggap lebih menyentuh dan memiliki nilai emosional dibanding pesan singkat digital yang cepat berlalu.

Dampak Lebih Luas pada Masyarakat dan Industri

Perubahan perilaku ini berdampak pada berbagai sektor. Industri alat tulis, percetakan, dan toko buku mengalami kebangkitan setelah sempat tergerus digitalisasi.

Data Indonesian Retail Association mencatat pertumbuhan penjualan alat tulis sebesar 22% sepanjang semester pertama 2026. Di sisi lain, perusahaan teknologi mulai merespons dengan menyediakan fitur ‘digital decluttering’ atau pengelolaan memori digital yang lebih mudah diakses oleh pengguna.

Perusahaan-perusahaan besar, terutama di sektor kreatif dan pendidikan, juga mulai mendorong karyawan untuk mengambil waktu istirahat dari layar (screen break) dan mengintegrasikan sesi refleksi non-digital ke dalam rutinitas kerja.

Regulasi baru dari Kementerian Kesehatan bahkan merekomendasikan waktu maksimal penggunaan perangkat digital harian, demi mencegah efek negatif jangka panjang terhadap kesehatan mental.

Tren kembali ke kebiasaan manusiawi ini menunjukkan adanya pergeseran nilai di era digital 2026. Masyarakat kini lebih menyadari pentingnya keseimbangan antara teknologi dan aktivitas yang memperkuat koneksi antarmanusia, sebagai upaya menjaga

kesehatan mental dan kualitas hidup di tengah pesatnya arus digitalisasi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0