Cara Menyampaikan Kabar Buruk dengan Percaya Diri dan Empati

Oleh VOXBLICK

Selasa, 28 April 2026 - 17.15 WIB
Cara Menyampaikan Kabar Buruk dengan Percaya Diri dan Empati
Menyampaikan kabar buruk dengan empati (Foto oleh Karola G)

VOXBLICK.COM - Ketika mendengar istilah menyampaikan kabar buruk, mungkin yang terlintas di benak kita adalah situasi penuh kecanggungan, kecemasan, bahkan ketakutan. Banyak banget mitos yang beredar, seperti “lebih baik langsung saja tanpa basa-basi”, atau “jangan pernah menunjukkan emosi sama sekali agar tetap profesional”. Faktanya, mitos-mitos ini justru bisa memperburuk kondisi mental penerima kabar, bahkan juga berdampak ke penyampai pesan itu sendiri. Yuk, bongkar satu per satu misinformasi soal cara menyampaikan kabar buruk, sambil belajar teknik komunikasi empati yang didukung saran ahli.

Mengapa Menyampaikan Kabar Buruk Itu Sulit?

Ada anggapan bahwa hanya orang tertentu yang bisa menyampaikan kabar buruk dengan baik. Padahal, semua orang pasti pernah berada di posisi harus membawa kabar yang tidak mengenakkanbaik di keluarga, lingkungan kerja, atau pertemanan. Menurut data dari WHO, komunikasi yang buruk saat menyampaikan berita negatif bisa memperbesar risiko stres, kecemasan, dan bahkan trauma, baik bagi penerima maupun penyampai pesan.

Sayangnya, banyak orang masih terjebak dalam pola komunikasi yang kaku atau justru menghindari konfrontasi. Padahal, belajar menyampaikan kabar buruk dengan percaya diri dan empati adalah langkah penting dalam membangun kesehatan mental bersama.

Cara Menyampaikan Kabar Buruk dengan Percaya Diri dan Empati
Cara Menyampaikan Kabar Buruk dengan Percaya Diri dan Empati (Foto oleh Klaus Nielsen)

Membongkar Mitos Seputar Menyampaikan Kabar Buruk

  • Mitos 1: “Langsung saja, jangan bertele-tele”
    Banyak yang berpikir bahwa bicara to the point adalah cara terbaik. Nyatanya, terlalu “langsung” tanpa empati bisa membuat penerima berita jadi defensif atau bahkan merasa tidak dihargai. Proses mental seseorang dalam menerima kabar buruk butuh waktu dan dukungan emosional.
  • Mitos 2: “Jangan menunjukkan emosi, supaya tetap profesional”
    Sebagian orang mengira ekspresi emosi adalah tanda kelemahan. Padahal, menurut riset psikologi komunikasi, menunjukkan empati melalui ekspresi wajah, nada suara, atau kata-kata adalah kunci agar pesan tersampaikan dengan lebih manusiawi dan tidak melukai perasaan.
  • Mitos 3: “Lebih baik kabar buruk disampaikan lewat pesan teks saja”
    Mungkin terdengar praktis, tapi komunikasi tertulis sering kehilangan nuansa emosi dan memperbesar risiko salah paham. Jika memungkinkan, penyampaian secara tatap muka atau setidaknya dengan suara (telepon/video call) jauh lebih baik.

Teknik Komunikasi Empati: Saran dari Para Ahli

Menurut jurnal komunikasi dari WHO, berikut tips yang bisa diterapkan agar proses menyampaikan kabar buruk menjadi lebih sehat untuk semua pihak:

  • Siapkan Mental dan Informasi
    Jangan terburu-buru. Ambil waktu untuk mempersiapkan diri secara emosi dan data yang akan disampaikan. Ketahui fakta-fakta penting agar tidak terjadi miskomunikasi.
  • Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat
    Carilah lingkungan yang aman dan nyaman, bebas dari gangguan. Ini penting agar penerima berita merasa dihargai dan bisa bereaksi tanpa tekanan.
  • Gunakan Bahasa yang Jelas dan Lembut
    Hindari istilah-istilah ambigu. Sampaikan dengan bahasa yang sopan, perlahan, dan beri jeda jika penerima terlihat butuh waktu mencerna informasi.
  • Dengarkan Respon Penerima
    Berikan ruang untuk bertanya atau mengekspresikan perasaan. Dengarkan tanpa menghakimi, dan tunjukkan bahwa Anda siap mendampingi.
  • Berikan Dukungan Lanjutan
    Tawarkan solusi atau langkah berikutnya, misalnya bantuan profesional atau sumber daya pendampingan, agar penerima tidak merasa sendirian.

Empati Bukan Berarti Mengorbankan Diri Sendiri

Ada juga mitos yang mengatakan bahwa penyampai kabar buruk harus selalu menahan perasaan demi penerima. Faktanya, menjaga kesehatan mental diri sendiri juga sangat penting.

Jangan ragu untuk mencari dukungan emosional dari teman, rekan kerja, atau profesional jika proses ini terasa berat. Menurut para ahli, empati adalah tentang memahami perasaan orang lain, bukan mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Pentingnya Latihan dan Refleksi Diri

Seperti keterampilan lain, kemampuan menyampaikan kabar buruk dengan percaya diri dan empati bisa dilatih.

Cobalah refleksi diri setelah menyampaikan berita penting: apa yang sudah berjalan baik, bagian mana yang bisa diperbaiki? Diskusikan dengan rekan atau mentor untuk mendapat perspektif baru. Ingat, komunikasi yang sehat adalah pondasi relasi yang kuat di keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.

Setiap orang punya cara berbeda dalam menerima dan menyampaikan kabar buruk. Jika Anda sedang menghadapi situasi serupa dan merasa ragu, tak ada salahnya berdiskusi langsung dengan dokter atau profesional kesehatan mental.

Pendampingan ahli bisa membantu menemukan cara komunikasi paling tepat, sesuai kebutuhan diri Anda dan orang lain.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0