China Protes Penggunaan Section 301 oleh AS dalam Sengketa Dagang
VOXBLICK.COM - Pemerintah China secara resmi menyampaikan protes kepada Amerika Serikat terkait penggunaan Section 301 dalam investigasi praktik perdagangan yang dilakukan oleh Negeri Paman Sam. Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa langkah AS tersebut dinilai tidak adil dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), di tengah ketegangan perdagangan yang belum mereda antara kedua negara ekonomi terbesar dunia ini.
Protes Resmi dari Pemerintah China
Pada 5 Juni 2024, Kementerian Perdagangan China mengeluarkan pernyataan tegas menentang keputusan Amerika Serikat yang kembali menggunakan Section 301 dari Trade Act 1974 untuk menyelidiki dan memberikan sanksi dagang terhadap produk asal China.
Juru bicara kementerian, He Yadong, menyebut bahwa penggunaan Section 301 "merusak tatanan perdagangan internasional yang berbasis aturan" dan meminta Washington untuk segera menghentikan tindakan sepihak tersebut.
Section 301 adalah instrumen hukum yang sering digunakan AS untuk menyelidiki dan merespons praktik perdagangan negara lain yang dianggap tidak adil.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasal ini menjadi dasar utama bagi AS untuk mengenakan tarif tambahan terhadap barang-barang impor asal China, terutama sejak eskalasi perang dagang pada 2018.
Pemerintah AS, melalui Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), menyatakan langkah ini diambil untuk melindungi industri domestik dan menanggapi praktik yang dianggap merugikan pelaku usaha Amerika, termasuk dugaan transfer teknologi paksa
serta pelanggaran hak kekayaan intelektual oleh entitas China.
Signifikansi Sengketa Section 301 bagi Perdagangan Global
Sengketa terkait Section 301 antara China dan AS menjadi perhatian utama karena berdampak sistemik terhadap arsitektur perdagangan dunia. Menurut data WTO, kedua negara secara bersama-sama menyumbang lebih dari 35% volume perdagangan global.
Setiap kebijakan tarif, sanksi, atau pembatasan ekspor-impor antara keduanya berpotensi mengganggu rantai pasok internasional dan memicu ketidakpastian pasar.
- Volume perdagangan terdampak: Pada 2023, total nilai perdagangan bilateral China-AS tercatat lebih dari US$ 575 miliar, meski diwarnai penurunan akibat perang dagang yang berkepanjangan.
- Penerapan tarif: AS masih memberlakukan tarif tambahan antara 7,5% hingga 25% untuk produk-produk strategis asal China, termasuk elektronik, mesin industri, dan kendaraan listrik.
- Reaksi mitra dagang lain: Negara-negara Uni Eropa dan Asia menyoroti potensi efek domino dari langkah AS, yang dapat memicu proteksionisme dan penurunan perdagangan multilateral.
WTO sendiri telah beberapa kali menyatakan bahwa penggunaan Section 301 tanpa melalui mekanisme penyelesaian sengketa di WTO melanggar komitmen internasional.
China menegaskan akan mempertahankan hak dan kepentingan industrinya melalui jalur hukum, termasuk mengajukan keberatan resmi ke WTO jika diperlukan.
Dampak dan Implikasi Lebih Luas
Ketegangan terkait Section 301 memiliki implikasi luas bagi pelaku industri, konsumen, dan kebijakan ekonomi global. Beberapa sektor yang paling terdampak antara lain:
- Industri teknologi: Perusahaan AS dan China di bidang semikonduktor, perangkat elektronik, serta kendaraan listrik menghadapi kenaikan biaya dan hambatan ekspor-impor.
- Rantai pasok global: Penambahan tarif dan pembatasan ekspor menyebabkan relokasi pabrik serta perubahan strategi pemasok internasional, termasuk pergeseran produksi ke negara Asia Tenggara.
- Konsumen: Harga barang impor yang lebih tinggi, baik di pasar AS maupun China, berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.
- Stabilitas regulasi: Ketidakpastian kebijakan antara dua negara besar ini dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global dan mendorong perusahaan untuk mencari alternatif pasar atau sumber bahan baku.
Penggunaan Section 301 oleh Amerika Serikat dalam sengketa dagang dengan China menyoroti pentingnya dialog dan penyelesaian berbasis aturan WTO.
Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh pelaku industri, regulator, dan komunitas perdagangan internasional untuk menilai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global serta masa depan hubungan dagang kedua negara.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0