FISIP UNDIP Bedah Buku Politik Teknokratis Interseksionalitas Pemilu
FISIP UNDIP menggelar bedah buku politik teknokratis dan pemilu
VOXBLICK.COM - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar bedah buku berjudul Politik Teknokratis Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan publik untuk membahas bagaimana cara pandang teknokratis memengaruhi strategi politik, cara membaca isu pemilu, hingga relasinya dengan konsep interseksionalitas. Diskusi berlangsung sebagai forum akademik yang berfokus pada pemahaman proses demokrasibukan sekadar mengulas teori secara normatif.
Dalam acara tersebut, pembahasan diarahkan pada dua isu besar: (1) logika politik teknokratis yang menekankan rasionalitas, indikator kinerja, dan pengelolaan pemerintahan berbasis keahlian serta (2) interseksionalitas yang menyoroti bagaimana
identitas dan pengalaman sosial (misalnya gender, kelas, disabilitas, atau latar budaya) berkelindan dan memengaruhi akses, representasi, serta dampak kebijakan. Dengan memadukan keduanya, bedah buku menekankan relevansi analisis akademik terhadap proses pemilu yang dihadapi masyarakat.
Siapa yang terlibat dan apa yang dibahas
Bedah buku ini diselenggarakan oleh FISIP UNDIP sebagai bagian dari aktivitas akademik dan ruang diskusi publik.
Para peserta berasal dari kalangan mahasiswa dan peminat kajian politik, sementara materi utama bersumber dari gagasan dalam buku yang menjadi rujukan diskusi. Acara juga memberi ruang tanya jawab untuk menguji pemahaman peserta terhadap konsep-konsep yang dibahas, termasuk bagaimana teknokrasi dan interseksionalitas dapat dibaca dalam konteks pemilu.
Secara substansi, diskusi berfokus pada cara pandang teknokratis dalam politik elektoral: bagaimana narasi “kemenangan” dapat dibangun melalui klaim kapasitas, kompetensi, dan kemampuan mengelola pemerintahan.
Pada saat yang sama, peserta diajak menilai apakah pendekatan semacam itu cukup peka terhadap kompleksitas pengalaman sosial pemilih. Interseksionalitas dalam konteks pemilu kemudian dibahas sebagai lensa analitis untuk memahami bahwa kebutuhan dan preferensi pemilih tidak tunggal, melainkan dipengaruhi oleh lapisan identitas dan kondisi sosial yang saling bertaut.
Relevansi bagi pemahaman demokrasi dan isu pemilu
Bedah buku ini penting diketahui karena pemilu bukan hanya ajang kompetisi elektoral, tetapi juga proses pembentukan agenda publik.
Ketika politik teknokratis menjadi dominan, publik perlu memahami bagaimana logika “keahlian” dipakai untuk membenarkan pilihan politik tertentu. Diskusi di FISIP UNDIP menempatkan pertanyaan ini secara akademik: sejauh mana teknokrasi memperkuat kualitas demokrasi, dan sejauh mana ia berisiko menyederhanakan pengalaman sosial pemilih.
Dalam pembahasan, peserta juga memperoleh gambaran tentang bagaimana isu pemilu dapat dibaca melalui indikator yang lebih luas, misalnya:
- Relasi narasi kompetensi: bagaimana kandidat atau tim kampanye menggunakan argumen rasionalitas, data, dan kinerja untuk membangun legitimasi.
- Pengaruh struktur sosial: bagaimana identitas dan posisi sosial pemilih memengaruhi akses informasi, partisipasi politik, dan dampak kebijakan pascapemilu.
- Komunikasi kebijakan: bagaimana agenda teknokratis diterjemahkan agar tetap relevan bagi kelompok yang beragam.
- Kualitas deliberasi: bagaimana ruang diskusi publik dan debat kebijakan seharusnya mempertimbangkan beragam pengalaman sosial, bukan hanya aspek teknis.
Dengan kerangka tersebut, bedah buku membantu mahasiswa dan publik memahami bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar “keputusan berbasis teknis”.
Demokrasi juga membutuhkan sensitivitas terhadap keragaman sosial agar kebijakan dan pilihan politik tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga adil secara sosial.
Implikasi lebih luas: pendidikan politik, tata kelola, dan kualitas pemilu
Diskusi tentang politik teknokratis dan interseksionalitas memiliki implikasi yang dapat dirasakan dalam beberapa aspek berikut:
- Pendidikan politik yang lebih kritis: kegiatan akademik seperti bedah buku mendorong mahasiswa untuk menguji asumsi “teknis = netral”. Ini penting agar literasi politik tidak berhenti pada slogan atau narasi kampanye.
- Tata kelola dan kebijakan berbasis data: teknokrasi dapat memperkuat perumusan kebijakan melalui indikator kinerja dan evaluasi. Namun, diskusi menekankan bahwa data tetap perlu dibaca dalam konteks sosial agar tidak mengabaikan kelompok rentan.
- Kualitas partisipasi pemilih: pendekatan interseksional membantu memahami hambatan partisipasi yang dialami kelompok tertentu. Dampaknya bisa terlihat pada bagaimana kebijakan publik dirancang untuk mengurangi kesenjangan, bukan hanya meningkatkan efisiensi.
- Regulasi dan komunikasi publik: pemahaman terhadap dua lensa ini dapat memperkaya cara penyusunan program sosialisasi pemilu dan komunikasi kebijakan agar lebih inklusif serta mudah diakses lintas kelompok.
Secara edukatif, acara ini juga memperkuat kebiasaan akademik untuk menautkan kajian teori dengan isu pemilu yang aktual.
Ketika mahasiswa terbiasa membaca politik melalui lebih dari satu lensateknokratis dan interseksionalmereka akan memiliki kemampuan analisis yang lebih baik saat menilai program kandidat, kualitas debat publik, serta dampak kebijakan terhadap kehidupan nyata masyarakat.
Langkah diskusi yang memperkaya literasi publik
Bedah buku di FISIP UNDIP menegaskan bahwa diskusi politik yang berbasis akademik dapat menjadi jembatan antara ruang kuliah dan kebutuhan pemahaman publik.
Dengan membahas Politik Teknokratis Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu, kegiatan ini mengundang peserta untuk melihat proses demokrasi secara lebih utuh: bagaimana rasionalitas teknokratis bekerja dalam strategi politik, serta bagaimana interseksionalitas membantu membaca keberagaman pengalaman pemilih.
Bagi mahasiswa, acara ini memperkaya perspektif dalam mempelajari ilmu politik, khususnya ketika menilai isu pemilu melalui kerangka yang lebih kritis.
Bagi publik, forum diskusi semacam ini membantu meningkatkan literasi politik agar masyarakat tidak hanya menerima narasi kemenangan berbasis kompetensi, tetapi juga menanyakan: kompetensi seperti apa, untuk siapa, dan dengan dampak apa bagi kelompok yang beragam.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0