Hollywood Jenuh Franchise? Frankenstein & Nosferatu Bawa Angin Segar Film Orisinal!

Oleh VOXBLICK

Rabu, 26 November 2025 - 07.40 WIB
Hollywood Jenuh Franchise? Frankenstein & Nosferatu Bawa Angin Segar Film Orisinal!
Frankenstein Nosferatu lawan franchise (Foto oleh Kübra)

VOXBLICK.COM - Rasanya wajar kalau belakangan ini banyak dari kita merasa bosan dengan menu bioskop yang itu-itu saja. Setiap beberapa bulan, pasti ada saja pengumuman sekuel ke-5, prekuel yang tak diminta, atau reboot dari film yang sebenarnya belum lama rilis. Hollywood memang sedang terjebak dalam pusaran film franchise, dan ini bukan cuma perasaan kita saja, tapi juga tercermin dari data performa box office dan respons penonton yang makin terpecah.

Kabar baiknya, di tengah kepungan jagat sinematik yang tak ada habisnya itu, ada secercah harapan dari arah yang tak terduga: film-film klasik ikonik yang sudah masuk ranah publik.

Sebut saja dua nama besar yang siap mendobrak kejenuhan ini: Frankenstein dan Nosferatu. Keduanya bukan franchise baru, bukan pula bagian dari semesta film yang sudah ada. Mereka datang sebagai angin segar film orisinal, menawarkan interpretasi baru dari cerita-cerita yang sudah melegenda, sekaligus menjadi penawar kejenuhan yang kita butuhkan.

Hollywood Jenuh Franchise? Frankenstein & Nosferatu Bawa Angin Segar Film Orisinal!
Hollywood Jenuh Franchise? Frankenstein & Nosferatu Bawa Angin Segar Film Orisinal! (Foto oleh Tima Miroshnichenko)

Ketika Kreativitas Terjebak dalam Lingkaran Setan Sekuel

Coba deh kita jujur, berapa banyak film yang Anda tonton tahun lalu yang merupakan bagian dari franchise besar? Mungkin sebagian besar.

Dari Marvel, DC, Star Wars, Fast & Furious, hingga berbagai remake Disney, daftar film yang mengandalkan nama besar memang panjang. Ini bukan tanpa alasan. Studio-studio besar cenderung memilih jalur aman dengan IP (Intellectual Property) yang sudah dikenal dan terbukti menghasilkan uang. Mereka berpikir, kenapa harus ambil risiko dengan cerita baru jika ada jaminan penonton dari IP yang sudah ada?

Namun, strategi ini punya efek samping. Seiring waktu, penonton mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Survei dan diskusi di media sosial seringkali menyoroti betapa Hollywood jenuh franchise.

Cerita terasa generik, karakter kurang berkembang karena harus melayani plot yang lebih besar, dan yang paling parah, banyak film terasa seperti setumpuk tugas rumah yang harus diselesaikan sebelum film inti rilis. Ini menciptakan siklus di mana kualitas seringkali dikorbankan demi kuantitas dan kesinambungan "semesta" yang kadang terasa dipaksakan. Ini pula yang membuat banyak dari kita mencari alternatif segar di tengah dominasi sekuel dan reboot.

Frankenstein dan Nosferatu: Bukan Sekadar Horor Klasik Biasa

Inilah kenapa kemunculan adaptasi baru dari Frankenstein dan Nosferatu terasa begitu menjanjikan. Keduanya adalah cerita yang sudah berumur seabad lebih, masuk ranah publik, dan sudah sering diadaptasi.

Tapi kali ini, ada yang berbeda. Proyek-proyek ini didukung oleh sutradara-sutradara visioner yang dikenal dengan gaya khas dan kemampuannya menciptakan karya yang benar-benar berkarakter.

Frankenstein: Lebih dari Sekadar Monster Menakutkan

Kabar tentang proyek Frankenstein yang digarap oleh sutradara sekelas Guillermo del Toro saja sudah cukup bikin penggemar film merinding (dalam artian positif, tentu).

Del Toro dikenal dengan sentuhan artistiknya yang gelap, imajinatif, dan kemampuannya menggali kedalaman emosional dari karakter-karakter "monster"-nya. Ingat bagaimana ia membuat kita bersimpati pada makhluk amfibi di The Shape of Water? Atau bagaimana ia merangkai dongeng kelam di Pans Labyrinth?

Frankenstein karya Mary Shelley adalah sebuah mahakarya sastra yang bukan hanya tentang monster, tapi juga tentang:

  • Ambisi ilmiah yang tak terkendali.
  • Kesepian dan pengasingan.
  • Pencarian identitas dan penerimaan.
  • Pertanyaan etis tentang kehidupan dan kematian.

Dengan del Toro di kursi sutradara, kita bisa berharap sebuah adaptasi yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga menggugah secara filosofis.

Ini adalah kesempatan untuk melihat kembali cerita klasik ini dari sudut pandang yang segar, jauh dari bayang-bayang film horor B-movie atau parodi yang sering muncul.

Nosferatu: Teror Gotik di Tangan Robert Eggers

Lalu ada Nosferatu, film horor bisu klasik dari tahun 1922 yang merupakan adaptasi tidak resmi dari Dracula.

Kali ini, sutradara Robert Eggers (dikenal lewat The Witch dan The Lighthouse) yang mengambil alih kemudi. Eggers adalah maestro dalam menciptakan atmosfer horor yang mencekam, detail sejarah yang akurat, dan visual yang memukau.

Film-film Eggers bukan sekadar horor jump scare. Ia membangun ketakutan dari:

  • Suasana yang intens dan claustrophobic.
  • Performa aktor yang kuat.
  • Detail sinematografi yang kaya simbolisme.
  • Tema-tema kegilaan dan isolasi.

Versi Nosferatu oleh Eggers diprediksi akan menjadi pengalaman sinematik yang gelap, gotik, dan sangat personal, jauh dari hingar-bingar efek CGI dan ledakan yang sering kita lihat di film-film franchise.

Ini adalah kesempatan untuk merasakan horor dalam bentuknya yang paling murni dan artistik, sebuah film orisinal dalam arti interpretasi baru.

Mengapa Film Klasik Jadi Angin Segar di Hollywood?

Ada beberapa alasan mengapa studio dan penonton mulai melirik kembali harta karun sastra dan sinema klasik yang sudah masuk ranah publik ini sebagai angin segar:

  1. Kebebasan Kreatif yang Lebih Luas: Karena sudah masuk ranah publik, tidak ada "pemilik" IP yang bisa membatasi visi sutradara. Mereka bisa mengambil inti cerita dan mengembangkannya sesuai interpretasi mereka, tanpa harus khawatir melanggar kanon atau ekspektasi penggemar yang kaku. Ini memungkinkan lahirnya film orisinal dalam bentuk adaptasi.
  2. Daya Tarik Universal dan Abadi: Cerita-cerita seperti Frankenstein dan Nosferatu telah teruji oleh waktu. Tema-tema yang diangkatketakutan akan yang tidak diketahui, ambisi yang menghancurkan, kesepian, cinta terlarangbersifat universal dan relevan di setiap zaman. Ini memudahkan penonton untuk terhubung, bahkan jika belum pernah membaca atau menonton versi sebelumnya.
  3. Potensi untuk Eksplorasi Mendalam: Banyak karya klasik memiliki lapisan-lapisan makna filosofis, sosiologis, atau psikologis. Sutradara dapat menggali ini lebih dalam, mengubah cerita horor sederhana menjadi sebuah komentar sosial yang relevan di era modern, atau studi karakter yang kompleks.
  4. Bukan Bagian dari "Semesta" yang Membebani: Salah satu keluhan utama tentang franchise adalah keharusan untuk menonton banyak film sebelumnya agar bisa memahami plot. Film-film seperti adaptasi baru Frankenstein atau Nosferatu berdiri sendiri. Penonton bisa datang tanpa beban, menikmati cerita yang lengkap dalam satu kali tontonan. Ini adalah penawar kejenuhan yang paling efektif.

Kemunculan proyek-proyek ini menunjukkan bahwa ada keinginan kuat dari para sineas untuk menceritakan kisah-kisah yang berani, artistik, dan memiliki kedalaman.

Ini juga menjadi sinyal bagi Hollywood bahwa penonton tidak selalu menginginkan sekuel dan reboot yang aman dan seragam. Ada apresiasi yang besar untuk karya-karya yang menantang, yang membuat kita berpikir, dan yang meninggalkan kesan mendalam.

Pada akhirnya, kesuksesan adaptasi baru Frankenstein dan Nosferatu bisa menjadi katalis.

Ini bisa mendorong studio untuk lebih berani berinvestasi pada film orisinal, baik yang benar-benar baru maupun yang menginterpretasi ulang film klasik dengan sentuhan modern. Ini bukan berarti era franchise akan segera berakhir, tapi setidaknya, kita bisa berharap menu bioskop kita akan menjadi lebih bervariasi dan kaya. Sebuah angin segar yang sangat dibutuhkan untuk industri film dan, tentu saja, untuk kita para penikmatnya.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0