Jejak Goresan di Jendela Tengah Malam yang Membekukan Darah
VOXBLICK.COM - Malam itu, hujan turun rintik-rintik, membasahi kaca jendela kamarku yang menghadap langsung ke kebun belakang. Tidak ada angin, tidak ada suara, hanya detakan jam dinding tua dan bisikan hujan yang samar. Aku menatap langit-langit, menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Di luar, bayang-bayang pohon menari gelisah diterpa cahaya lampu taman yang sendu. Semua terlihat biasa sajasampai suara itu datang.
“Krrr… krrrkkk…” Sebuah suara goresanhalus, namun jelasmengiris keheningan. Aku menegakkan badan, telingaku menangkap suara itu semakin jelas.
Dari balik tirai tipis, aku bisa merasakan sesuatu mengamati, menunggu, bersembunyi di balik kegelapan. Aku menahan napas, degup jantungku berpacu lebih cepat. Siapa yang menggores jendela di tengah malam begini?
Kehadiran yang Tidak Terlihat
Aku berusaha menenangkan diri, mencoba mencari alasan logis. Mungkin ranting pohon, pikirku, atau seekor kucing liar yang tersesat. Namun suara itu berulang iramanya terlalu teratur, seolah ada pola.
Setiap goresan menggema, menari di benakku, mengaduk-aduk rasa takut yang selama ini hanya tinggal di sudut imajinasi.
Perlahan aku mendekati jendela. Tirai tipis bergoyang, membiaskan cahaya lampu yang kini terasa muram. Tanganku gemetar saat meraih ujung kain, ragu-ragu untuk menyingkapnya. Di luar, gelap menelan semuanya.
Namun di kaca, samar-samar ada bekas goresanpanjang, berliku, seperti jejak kuku yang ditarik dengan penuh kemarahan.
Malam yang Membekukan Darah
Suara itu berhenti mendadak. Sunyi. Aku hampir yakin apa pun yang ada di luar sana juga menahan napas, mengintai dari balik gelap. Rasa dingin menjalari tengkukku, membuat bulu kudukku berdiri.
Aku mengetuk kaca pelan, mencoba menantang rasa takutku sendiri. Tidak ada jawaban. Hanya bayanganku sendiri yang terpantul, mataku membelalak menanti sesuatu yang tak ingin kulihat.
- Bekas goresan di kaca semakin jelas, seolah-olah baru saja dibuat.
- Tak ada jejak kaki atau tanda-tanda kehidupan lain di luar jendela.
- Setiap suara, sekecil apa pun, kini terasa seperti ancaman.
Aku melangkah mundur, berharap semua itu hanya khayalan. Namun, ketukan pelan menggantikan suara goresan. “Tok… tok… tok…” Suara itu datang dari luar, namun rasanya sangat dekat. Aku membeku, tak mampu bergerak.
Sekilas, aku melihat sesuatu bergerak di balik kacabayangan hitam panjang yang mustahil dibayangkan wujudnya.
Rahasia di Balik Jendela
Malam semakin dalam. Handphone di samping tempat tidurku tak berguna tak ada sinyal, tak ada internet. Aku benar-benar terisolasi. Detak jam terasa lebih lambat, menandai setiap detik yang terasa begitu panjang.
Aku ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. Aku hanya bisa menatap jendela, menunggu.
Tiba-tiba, jendela bergetar keras, seolah-olah ada sesuatu yang mencoba masuk. Aku tersentak mundur, terjatuh di lantai. Dalam sekejap, semua lampu padam.
Gelap pekat menelanku, menyisakan hanya suara napasku sendiri dan ketukan samar dari luar. Tak ada yang bisa kulakukan selain menutup mata dan berharap semuanya segera berlalu.
Namun, sebelum aku benar-benar menutup mata, aku melihat sepasang mata merah menyala dari balik kaca, menatapku lurus-lurus. Bekas goresan di jendela kini bercampur dengan tulisan samar, seolah-olah ada pesan yang ingin disampaikan.
Malam itu, aku tak pernah benar-benar tidur. Dan keesokan paginya, saat matahari mulai menyelinap masuk, jendela kamarku bersih tanpa bekas, seolah-olah semua hanyalah mimpi buruk.
Tapi setiap malam, aku masih mendengar suara goresan itusemakin dekat, semakin jelas. Mungkin, malam ini, dia akan menunggu di balik jendela yang lain.
>Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0