Pengakuan Mengejutkan Kakek di Sel Mati Malam Terakhir Hidupnya
VOXBLICK.COM - Langit malam itu gelap tanpa bintang, bahkan lampu-lampu penjara pun terasa enggan menembus kelam. Aku duduk di kursi besi berkarat, menatap dinding-dinding lembab yang hanya memantulkan suara napas berat kakekku, Pak Rahmat. Sudah hampir tengah malam, dan kata orang, malam itu adalah malam terakhirnya sebelum ajal menjemput di sel mati.
Akucucunyadatang bukan hanya untuk perpisahan. Ada sesuatu yang selalu terasa tak selesai di antara kami. Kakek, dengan tubuh renta dan tangan yang gemetar, menatapku lekat-lekat dari balik jeruji.
Matanya tampak jauh, seperti menatap ke masa lalu yang berat.
Bayangan di Balik Jeruji
Hening menyelimuti ruangan, hanya suara detak jam tua di pojok yang mengikis waktu. Tiba-tiba, kakek memanggil namakupelan, nyaris berbisik. “Duduklah lebih dekat. Ada sesuatu yang harus kau dengar, rahasia yang sudah terlalu lama terkubur.”
Suara kakek serak, menggantung di udara. “Apa kau tahu kenapa aku di sini?” tanyanya, matanya berkilat aneh. Aku hanya bisa menggeleng, tak sanggup berkata-kata. Ia tertawa pelan, suara tawanya seperti bunyi rantai yang diseret di lantai batu.
Rahasia Gelap yang Terungkap
Kakek mulai bercerita. Ia bilang, malam-malam di sel mati bukan hanya tentang menunggu ajal. Ada sesuatu yang berkeliaran di antara bayangan, sesuatu yang hanya terlihat oleh mereka yang bernasib sama. “Mereka datang setiap malam,” bisiknya.
“Mereka membisiki namaku, menuntutku untuk mengaku. Aku bahkan tak tahu siapa mereka, tapi suara mereka seperti suara masa lalu yang tak pernah mati.”
- Kakek mengaku sering bermimpi buruk tentang seorang anak kecil tanpa wajah yang menjerit di lorong penjara.
- Ia kerap mendengar dentingan sendok di tengah malam, padahal semua alat makan sudah diamankan sipir.
- Setiap pukul tiga dini hari, ia merasa ada tangan dingin yang mencengkeram pergelangan kakinya dari bawah ranjang besi tua itu.
“Dulu aku pikir itu hanya halusinasi,” lanjutnya, suaranya makin lirih. “Tapi tadi malam, aku melihatnya. Sosok itu berdiri di pojok sel, menatapku. Ia membisikkan satu namanamamu.”
Malam Terakhir yang Membekas
Seketika bulu kudukku berdiri. Aku menatap kakek, mencari kepastian di matanya, tapi yang kulihat hanya keterpaksaan dan ketakutan. Ia meraih tanganku dari balik jeruji, genggamannya dingin dan lemah. “Maafkan kakek.
Apa pun yang terjadi nanti malam, jangan kembali ke sini. Jangan pernah cari tahu tentang malam ini.”
Ruangan terasa makin pengap. Di luar, suara rantai dan kunci beradu. Para sipir mulai berbisik, seolah tahu ada sesuatu yang tak wajar di balik sel itu. Kakek menutup matanya, dan tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat.
Ia mulai bicara dalam bahasa yang tak kukenal, suara serak berubah jadi lirih, lalu menggemabergema di dinding batu seperti suara dari dasar sumur.
Beberapa menit berlalu. Kakek tiba-tiba terdiam. Aku mengguncang-guncangkan lengannya, tapi ia hanya tersenyum kecil, matanya kosong. Di saat itulah aku menyadari, di balik dinding sel, terdengar suara tawa anak kecilpelan, namun jelas.
Suara itu seolah mengundang, memanggil namaku. Aku menoleh ke arah lorong, tapi hanya kegelapan pekat yang menyambut.
Akhir yang Tak Pernah Selesai
Aku meninggalkan sel itu dengan tubuh gemetar dan pikiran kacau. Sepanjang lorong penjara, suara tawa itu terus mengikutiku, masuk ke dalam mimpiku berhari-hari setelahnya.
Setiap malam, aku terbangun dengan keringat dingin, merasa ada yang menatap dari sudut kamar.
Malam terakhir kakek di sel mati telah berlalu. Tapi pengakuan kelam dan suara-suara itu tak pernah benar-benar pergi. Sampai hari ini, aku masih mendengar bisikan samar di telinga, memanggil namaku dengan nada yang tak pernah bisa kulupakan.
Dan setiap kali aku melihat bayangan di cermin saat malam tiba, aku bertanya-tanyaapakah rahasia kakek benar-benar sudah terkubur bersama jasadnya, atau sebenarnya baru saja dimulai?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0