Email Misterius Tengah Malam yang Mengubah Hidupku Selamanya
VOXBLICK.COM - Malam itu, jam digital di sudut kamarku baru saja menunjukkan pukul 00:07 ketika notifikasi email berdenting samar di ponselku. Biasanya, aku menahan diri untuk tidak mengecek pesan apa pun di tengah malam. Namun entah mengapa, malam itu tanganku terasa gatal untuk memeriksa layar. Mata masih berat, aku menggeser kunci layar dan melihat satu email baru dengan subjek yang tidak biasa: “Kau Sudah Bangun?”
Baris subjek itu terasa seperti bisikan di telingaku. Tidak ada nama pengirim, hanya serangkaian angka acak dan simbol. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutku. Aku mengetuk email itu tubuhku menegang begitu membaca pesan singkat di dalamnya:
“Jangan lihat ke jendela.”
Perasaan Dingin di Tengah Malam
Sejenak aku membeku. Pesan itu begitu singkat, tapi menimbulkan sensasi aneh di punggungku. Kamarku berada di lantai dua, dan jendela tepat di samping ranjang. Angin malam berdesir pelan, membuat tirai tipis menari lembut.
Aku mencoba meyakinkan diri kalau ini hanya ulah iseng, mungkin spam, atau seseorang yang salah kirim. Namun tetap saja, mataku tak berani melirik ke arah jendelaperasaan waspada bercampur takut menguasai pikiranku.
Saat aku hendak memadamkan layar, notifikasi kedua masuk. Kali ini pesannya lebih panjang, dan nadanya seperti mengenalku secara personal:
“Jangan pura-pura tidak mendengar. Aku tahu kau membaca emailku. Apapun yang terjadi, jangan pernah lihat ke jendela. Aku mohon.”
Bisikan dari Luar Jendela
Jantungku berdebar kencang. Tiba-tiba saja, aku mendengar sesuatu dari luar jendelasuara gesekan, seperti kuku yang menggores kaca. Aku menahan napas, memejamkan mata erat-erat.
Dalam benakku, aku mencoba mengingat langkah-langkah logis yang pernah kubaca jika mengalami hal aneh:
- Jangan panik.
- Jangan bereaksi pada suara aneh.
- Pastikan pintu kamar terkunci.
Kutegakkan tubuh di ranjang, mengintip layar ponsel yang masih menyala. Ada email ketiga masuk. Kali ini isinya hanya dua kata:
“Sudah terlambat.”
Air liurku terasa kering. Keringat dingin menetes di pelipis. Suara goresan di jendela kini berubah menjadi ketukan pelan, teratur, seakan seseorangatau sesuatuberusaha menarik perhatianku.
Rasanya seluruh udara di kamar menjadi berat, membuatku nyaris tak bisa bernapas.
Bayangan Hitam dan Rasa Takut yang Mencekam
Ketukan itu semakin kencang. Aku menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melihat ke jendela. Namun, rasa ingin tahu perlahan menggerogoti ketakutanku.
Aku mengintip sedikit ke arah tirai, dan di antara remang cahaya lampu jalan, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sanabayangan hitam, kurus, berdiri tepat di luar jendela, seolah menatapku tanpa mata.
Ponselku kembali bergetar. Email keempat muncul, kali ini tanpa subjek. Isi pesannya:
“Dia sudah melihatmu. Jangan pernah balas email ini. Tutup matamu.”
Aku menuruti pesan itu. Kututup mataku, menunduk, berusaha menahan isak. Ketukan di jendela berubah menjadi suara cakaran, lalu mendadak hening. Aku tak berani bergerak hingga fajar menyingsing, dan ketika aku membuka mata, bayangan itu sudah lenyap.
Tapi di kaca jendela, ada bekas tangan tipis dan pesan yang ditulis dengan uap:
“Sampai jumpa di malam berikutnya.”
Tak Pernah Ada Jawaban
Sejak malam itu, hidupku berubah. Setiap tengah malam, aku selalu terbangun dengan ketakutan tanpa sebab, berharap tidak ada notifikasi email masuk.
Tapi rasa dingin dan hening yang mencekam selalu menyelimuti kamarku, seolah menunggu sesuatu untuk kembali.
Aku tak pernah membalas email misterius itu.
Namun kadang, di layar ponselku muncul notifikasi baru dengan subjek yang sama: “Kau Sudah Bangun?” Dan setiap kali itu terjadi, aku hanya bisa menahan napas, menungguapakah malam ini, sesuatu di luar jendela akan kembali mengetuk?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0