Membongkar Mitos Kesehatan dari Pusat Riset Kedokteran UI
VOXBLICK.COM - Banyak banget mitos kesehatan yang beredar, bahkan di lingkungan pendidikan tinggi seperti kampus kedokteran. Misalnya, ada yang percaya makan malam bikin gemuk, atau bahwa semua lemak harus dihindari. Tidak sedikit yang akhirnya mengambil keputusan soal pola makan berdasarkan info simpang siur, padahal dampaknya bisa serius untuk kesehatan. Untuk membantu kamu memilah fakta dari mitos, artikel ini mengupas mitos-mitos populer soal gizi berdasarkan riset dari pusat pendidikan dan penelitian kedokteran Universitas Indonesia (UI), lengkap dengan insight dari para ahli dan sumber kredibel seperti WHO.
Mitos #1: “Makan Malam Penyebab Utama Kegemukan”
Banyak orang takut makan malam karena mengira semua kalori yang dikonsumsi setelah jam 6 sore pasti berubah jadi lemak.
Faktanya, menurut penelitian tim gizi FKUI dan data WHO, kegemukan lebih dipengaruhi oleh total asupan kalori harian dibanding waktu makan. Tubuh kita terus membakar energi, baik siang maupun malam. Yang jadi masalah adalah pola makan berlebihan atau ngemil tanpa sadar, bukan sekadar waktu makannya.
Dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK dari Departemen Ilmu Gizi UI menjelaskan, “Yang penting adalah jumlah dan kualitas makanan, bukan hanya jam makan. Selama total kalori tidak berlebihan, makan malam tidak harus dihindari.
” Jadi, tidak perlu melewatkan makan malam demi langsing, tapi bijaklah memilih menu dan porsinya.
Mitos #2: “Semua Lemak itu Jahat dan Harus Dihindari”
Lemak sering dapat stigma negatif, padahal tubuh memerlukan asupan lemak sehat untuk menjalankan fungsi vital, seperti produksi hormon dan penyerapan vitamin.
Menurut data WHO dan riset FKUI, lemak sehat seperti yang terdapat pada alpukat, ikan, dan kacang-kacangan justru penting untuk jantung dan otak. Sementara itu, lemak trans dari makanan olahan memang sebaiknya dihindari.
- Lemak baik: Lemak tak jenuh, misal dari ikan, alpukat, minyak zaitun.
- Lemak jahat: Lemak trans & jenuh berlebihan, misal dari gorengan, makanan olahan.
Jadi, bukan berarti semua lemak bikin penyakit. Kuncinya ada pada jenis dan jumlahnya.
Mitos #3: “Gula Merah Lebih Sehat dari Gula Putih”
Banyak yang mengira gula merah atau palm sugar otomatis lebih sehat daripada gula putih. Sebenarnya, baik gula merah maupun putih tetap merupakan sumber kalori tambahan yang harus dibatasi.
Menurut penjelasan Dr. Saptawati Bardosono, MSc, dosen FKUI, kandungan kalori dan indeks glikemik gula merah tidak jauh berbeda dengan gula putih. Keduanya tetap bisa meningkatkan risiko diabetes jika dikonsumsi berlebihan.
Mitos #4: “Vitamin C Dosis Tinggi Mencegah Semua Penyakit”
Minum vitamin C ekstra tinggi saat merasa tidak enak badan memang sudah jadi kebiasaan banyak orang. Namun, menurut hasil riset FKUI dan panduan WHO, tubuh hanya bisa menyerap vitamin C dalam jumlah terbatas.
Kelebihan vitamin C tidak otomatis meningkatkan daya tahan tubuh dan justru bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau batu ginjal. Lebih baik memenuhi kebutuhan vitamin C lewat buah dan sayur segar setiap hari, bukan dengan suplemen berlebihan.
Mitos #5: “Diet Bebas Karbohidrat Cepat Menurunkan Berat Badan”
Tren diet tanpa karbohidrat memang sering dianggap solusi instan untuk menurunkan berat badan. Padahal, karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama.
Riset dari pusat riset kedokteran UI menunjukkan bahwa diet ekstrem tanpa karbohidrat bisa membuat tubuh lemas, mood menurun, dan berisiko kekurangan serat. Kunci sehat adalah memilih karbohidrat kompleks (nasi merah, ubi, gandum utuh) dan mengatur porsinya, bukan menghindari karbohidrat sama sekali.
Tips Memilah Informasi Gizi yang Tepat
- Selalu cek sumber informasi, utamakan dari jurnal kedokteran atau lembaga kesehatan seperti WHO atau FKUI.
- Jangan mudah percaya pada promosi produk atau diet viral tanpa bukti ilmiah.
- Perhatikan kebutuhan tubuh masing-masing, karena kondisi setiap orang berbeda.
- Diskusikan perubahan pola makan dengan profesional kesehatan.
Banyak mitos soal gizi yang masih dipercaya karena info yang beredar belum tentu benar. Dengan memahami fakta dari pusat riset kedokteran UI dan sumber terpercaya, kamu bisa lebih bijak dalam menjaga kesehatan.
Kalau ingin mencoba pola makan baru atau rencana diet tertentu, ada baiknya mendiskusikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizikarena mereka bisa membantu menyesuaikan pilihan terbaik sesuai kondisi tubuh dan kebutuhanmu.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0