Mengapa Mommy Blogger Kiri Sulit Ditemukan di Media Sosial

Oleh VOXBLICK

Senin, 23 Februari 2026 - 06.00 WIB
Mengapa Mommy Blogger Kiri Sulit Ditemukan di Media Sosial
Mommy blogger progresif di media sosial (Foto oleh Anna Shvets)

VOXBLICK.COM - Mommy blogger dengan perspektif kiriyang mengusung nilai-nilai progresif, kesetaraan gender, serta advokasi hak-hak perempuan dan minoritasmenjadi kelompok yang sulit ditemukan di lanskap media sosial Indonesia. Narasi parenting digital masih didominasi oleh suara konservatif dan pandangan tradisional tentang peran ibu dan keluarga. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang representasi dan keberagaman wacana dalam ruang digital parenting, terutama di platform seperti Instagram, Facebook, dan Twitter.

Porsi Dominan: Siapa dan Apa yang Terjadi?

Beberapa tahun terakhir, jumlah mommy blogger di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya pengguna internet perempuan usia produktif.

Menurut laporan We Are Social 2023, lebih dari 72% perempuan Indonesia usia 25-44 tahun aktif di media sosial, dengan topik parenting menjadi salah satu konten populer. Namun, survei informal dari beberapa komunitas parenting digital seperti Parentalk dan Mamapedia menunjukkan, lebih dari 80% influencer atau blogger parenting yang dikenal luas mengusung nilai-nilai konservatif terkait peran perempuan, keluarga inti, dan pola asuh tradisional.

Di tengah keberagaman demografi pengguna, suara atau blog yang secara terbuka menyuarakan nilai-nilai kiriseperti advokasi hak reproduksi, pengasuhan setara gender, kritik terhadap norma keluarga patriarkal, sampai isu-isu sosial progresifhampir tak

terdengar atau bahkan tidak dikenal luas. Pengamatan terhadap 100 akun mommy blogger terpopuler di Indonesia pada tahun 2023, yang dilakukan oleh Lembaga Studi Media dan Gender, menemukan kurang dari 5% yang membahas isu feminisme atau keadilan sosial secara eksplisit.

Mengapa Mommy Blogger Kiri Sulit Ditemukan di Media Sosial
Mengapa Mommy Blogger Kiri Sulit Ditemukan di Media Sosial (Foto oleh Ivan S)

Faktor Penyebab Minimnya Mommy Blogger Kiri

  • Risiko Stigma dan Serangan Digital: Banyak blogger perempuan progresif menghadapi risiko diserang secara verbal, doxing, hingga pelaporan akun jika mengunggah konten yang dianggap bertentangan dengan norma mayoritas. Survei SAFEnet (2022) mencatat 68% perempuan pembuat konten pernah mengalami pelecehan daring karena opini mereka.
  • Keterbatasan Dukungan Ekosistem: Brand, agensi, dan sponsor lebih banyak mendukung blog atau akun yang aman dan sesuai arus utama, demi menghindari kontroversi. Kerjasama komersial cenderung diberikan pada narasi yang tidak menimbulkan polemik.
  • Algoritma Media Sosial: Platform seperti Instagram dan Facebook kerap memprioritaskan konten yang sesuai selera mayoritas, sehingga suara progresifyang lebih kritis dan argumentatifkurang terekspos secara organik.
  • Konstruksi Sosial-Budaya: Di banyak komunitas, narasi keibuan masih dilekatkan pada figur pengasuh utama, penurut, dan penjaga nilai keluarga tradisional. Konsep parenting setara atau anti-patriarki dianggap melawan arus besar.

Dampak Minimnya Representasi Kiri dalam Parenting Digital

Minimnya suara mommy blogger kiri berdampak langsung pada terbatasnya ragam referensi pengasuhan di ranah digital. Hal ini memperkuat dominasi narasi konservatif dan mempersempit diskusi seputar:

  • Hak perempuan untuk bekerja dan berbagi peran domestik secara setara
  • Pengakuan keluarga non-nuklir atau bentuk keluarga alternatif
  • Pendidikan seks yang komprehensif dan berbasis sains bagi anak-anak
  • Dukungan terhadap ibu tunggal, ibu bekerja, atau keluarga dengan orientasi berbeda

Menurut pengamat media sosial dan gender, Dr. Santi Pratiwi dari Universitas Indonesia, “Minimnya representasi ini memperkuat bias gender dan menjauhkan diskursus publik dari pemahaman yang inklusif dan adil di bidang parenting.”

Implikasi untuk Ekosistem Parenting Digital dan Masyarakat

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada persepsi publik tentang keluarga, tetapi juga pada industri digital, regulasi media sosial, hingga kebijakan publik terkait perempuan dan anak. Dominasi narasi konservatif mempersempit ruang dialog tentang:

  • Kebijakan cuti melahirkan dan dukungan kesejahteraan ibu
  • Perlindungan perempuan dari kekerasan berbasis gender
  • Kesetaraan akses pendidikan dan karier bagi ibu

Bagi industri konten, terbatasnya representasi mommy blogger kiri berarti peluang kolaborasi, inovasi produk parenting, dan jangkauan audiens yang lebih beragam menjadi tidak optimal.

Bagi masyarakat luas, keberagaman narasi parenting dapat memperkaya pilihan keluarga dalam mengasuh anak sesuai nilai dan kebutuhan masing-masing.

Dengan demikian, memperluas ruang bagi mommy blogger kiri untuk tampil dan didukung di media sosial dapat menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem parenting digital yang lebih inklusif, adil, serta responsif terhadap dinamika sosial dan

kebutuhan zaman.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0