Online Gaming Lolos dari Banned Australia Tapi Tetap Bikin Ketagihan

Oleh VOXBLICK

Jumat, 02 Januari 2026 - 09.20 WIB
Online Gaming Lolos dari Banned Australia Tapi Tetap Bikin Ketagihan
Online gaming lolos banned Australia (Foto oleh Julia M Cameron)

VOXBLICK.COM - Pemerintah Australia baru saja membuat gebrakan dengan mengumumkan aturan pelarangan media sosial bagi anak-anak di bawah umur 16 tahun. Aturan ini langsung jadi perbincangan hangat, apalagi di tengah kekhawatiran soal kesehatan mental remaja yang makin sering terpapar konten negatif dan cyberbullying. Tapi, di tengah sorotan pada media sosial, online gaming justru lolos dari jeratan regulasi inimeski para ahli bilang, efek adiksinya nggak kalah bahaya.

Aturan baru yang dirancang oleh pemerintah, seperti dilansir dari BBC News (3 Juni 2024), menargetkan raksasa media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat. Sementara itu, layanan gaming online yang juga ramai digunakan anak-anak dan remaja, belum tersentuh sama sekali. Padahal, menurut penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kecanduan game bahkan sudah termasuk kategori gangguan mental sejak 2018.

Online Gaming Lolos dari Banned Australia Tapi Tetap Bikin Ketagihan
Online Gaming Lolos dari Banned Australia Tapi Tetap Bikin Ketagihan (Foto oleh Julia M Cameron)

Kenapa Hanya Media Sosial yang Dilarang?

Pemerintah Australia beralasan bahwa media sosial jadi sumber utama masalah kesehatan mental remaja, mulai dari kecemasan, depresi, sampai masalah citra tubuh.

Menteri Komunikasi Australia, Michelle Rowland, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif paparan media sosial yang tidak terkontrol.

“Kami ingin memastikan anak-anak Australia tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun mental. Media sosial selama ini jadi biang masalah utama,” ujar Rowland dalam konferensi pers. Tapi, sampai saat ini, belum ada rencana spesifik untuk membatasi akses ke game online, meskipun laporan dari Sydney Morning Herald menyebutkan kecanduan game juga semakin meningkat di kalangan remaja Australia.

Game Online: Lolos Regulasi, Tapi Tetap Bikin Ketagihan

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa game online tidak ikut dibatasi? Menurut Dr. Michael Carr-Gregg, psikolog remaja terkemuka di Australia, game online kini sama adiktifnya dengan media sosial.

“Banyak game menggunakan sistem reward dan notifikasi mirip media sosial, yang bikin pemain terus-menerus ingin kembali main,” jelasnya.

Data dari Statista menunjukkan, sekitar 67% penduduk Australia bermain game, dan 91% anak-anak usia 5-17 tahun pernah mencoba game online. Waktu rata-rata bermain game online di kelompok usia ini mencapai 90 menit per hari, bahkan lebih tinggi di masa liburan sekolah.

  • Kecanduan game online dapat menyebabkan gangguan tidur, performa akademik menurun, hingga isolasi sosial.
  • WHO memasukkan gaming disorder ke dalam ICD-11 sejak 2018, menandakan bahayanya diakui secara global.
  • Risiko kecanduan meningkat jika anak-anak bermain tanpa pengawasan dan kontrol waktu yang jelas.

Suara Orang Tua dan Para Ahli Kesehatan Mental

Banyak orang tua mengaku kebingungan. Di satu sisi, mereka lega anak-anak tidak lagi mudah mengakses media sosial. Tapi di sisi lain, game online justru jadi pelarian baru yang nggak kalah bikin pusing. “Anak saya memang sekarang lebih jarang buka Instagram, tapi sekarang malah main game sampai tengah malam,” kata Linda, seorang ibu di Melbourne, saat diwawancara ABC News Australia.

Psikolog anak, Dr. Sarah Green, menegaskan pentingnya regulasi yang juga menyentuh aktivitas gaming. “Kalau hanya fokus ke sosial media, masalah kecanduan digital tidak akan selesai.

Game online bisa sama merusaknya untuk kesehatan mental anak-anak,” ujarnya. Ia menyarankan agar pemerintah segera membuat kebijakan yang mengatur durasi bermain game online, termasuk sistem verifikasi usia yang ketat.

Dampak Jangka Panjang Ketagihan Game Online

Efek game online pada remaja nggak cuma soal lupa waktu. Studi dari National Institutes of Health menyebut, kecanduan game bisa memengaruhi perkembangan otak remaja, terutama pada bagian yang mengatur kontrol impuls dan pengambilan keputusan. Selain itu, interaksi sosial anak-anak juga bisa terganggu, karena mereka lebih memilih dunia virtual ketimbang kehidupan nyata.

  • Risiko depresi dan kecemasan meningkat pada remaja yang kecanduan game online.
  • Kemampuan fokus dan prestasi belajar menurun akibat waktu bermain yang berlebihan.
  • Rasa percaya diri dan keterampilan sosial bisa terganggu karena minimnya interaksi nyata.

Perlu Langkah Nyata, Bukan Hanya Larangan Sepihak

Sementara Australia mengambil langkah tegas terhadap media sosial, para ahli menilai masalah kecanduan digital tidak akan selesai jika hanya menargetkan satu platform saja.

Pengawasan dari orang tua, edukasi literasi digital di sekolah, dan regulasi dari pemerintah harus berjalan seimbang. Game online memang lolos dari banned kali ini, tapi risiko adiksi dan gangguan mental tetap mengintai generasi muda.

Bagi orang tua, penting untuk tetap terlibat dalam aktivitas digital anak-anak, termasuk game online.

Batas waktu, diskusi terbuka, dan pemahaman soal risiko kecanduan bisa jadi kunci, supaya teknologi tetap jadi teman, bukan musuh, bagi kesehatan mental remaja Australia.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0