GPS Membawaku ke Tempat yang Tak Pernah Ada Malam Itu
VOXBLICK.COM - Langit malam terasa begitu berat, seolah-olah awan hitam menekan lapisan bumi. Aku menatap layar ponsel yang menampilkan aplikasi GPS, garis biru kecil menuntunku ke sebuah alamat yang bahkan tak pernah aku dengar sebelumnya. Entah mengapa, malam itu aku begitu yakin mempercayai suara monoton dan lembut dari aplikasi itu. Suara yang kini terdengar semakin asing di telingaku.
Perjalanan dimulai dengan lancar. Lampu-lampu jalanan masih menyala terang, deretan rumah penduduk perlahan-lahan berganti dengan hutan kecil yang gelap. GPS berbunyi, “Belok kanan dalam 100 meter.
” Aku menuruti tanpa ragu, meski di sisi kanan hanya ada jalan tanah sempit yang tertutup ilalang tinggi. Aku menelan ludah, merasa ada sesuatu yang menekan dadaku, tapi dorongan untuk melanjutkan terlalu kuat untuk diabaikan.
Jalanan makin sunyi. Tak ada lampu, tak ada rumah, hanya suara gemerisik angin dan ranting yang patah di bawah ban mobilku. Tiba-tiba, GPS berkata, “Anda telah sampai di tujuan.” Aku menahan napas.
Di depanku hanyalah pekat, pohon-pohon tua, dan kabut tipis yang muncul entah dari mana. Tak ada bangunan, tak ada tanda kehidupan. Hanya aku, mobil, dan suara detak jantung yang menggema di telinga.
Malam yang Membeku
Perasaan aneh itu semakin kuat. Aku mencoba memeriksa ulang alamat, berharap ada kesalahan. Tetapi layar ponsel tetap menunjukkan titik tujuan di lokasi ini.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tak ada apapun di luar sana kecuali kegelapan yang seolah-olah menelan semua suara dan cahaya. Aku tak tahu harus berbuat apa logika dan rasa takut saling bertarung dalam pikiranku.
Lalu, dari balik pepohonan, aku melihat seberkas cahaya kecil, seperti lampu senter yang terayun-ayun pelan. Suaraku tercekat, tubuhku kaku. Cahaya itu mendekat, menari-nari di antara batang pohon.
Aku ingin menyalakan mesin mobil dan pergi, tapi entah mengapa tubuhku justru membeku di tempat.
Bisikan dari Kegelapan
Suara GPS kembali terdengar, kini lebih pelan, hampir seperti berbisik, “Turunlah dari mobil.” Aku bergidik. Tak pernah sebelumnya aku mendengar suara GPS berubah seperti itu. Jari-jariku gemetar, kunci mobil terasa dingin di genggamanku.
Lampu senter itu kini berhenti, tepat di pinggir jalan, hanya beberapa meter dariku. Aku menajamkan mata, berusaha mencari wujud si pemilik cahaya. Tapi yang kulihat hanyalah siluet gelap, terlalu tinggi untuk manusia biasa.
- Udara di sekitarku tiba-tiba berubah dingin menggigit.
- Jendela mobil berembun oleh napasku sendiri yang memburu.
- Suara-suara aneh mulai terdengar, seperti bisikan dan tawa samar di kejauhan.
Samar-samar, aku mendengar sesuatu menggores kaca jendelaku. Perlahan, aku menoleh. Tak ada apa-apa di luar, namun embun di kaca membentuk tulisan aneh, seperti huruf yang digoreskan dengan jari.
Aku tak mengerti artinya, tapi entah kenapa, aku tahu itu semacam peringatan.
Jalan yang Tak Pernah Ada
GPS mati seketika. Layar ponsel padam, suara-suara menghilang. Aku panik, menekan-nekan tombol power, tapi ponselku tidak mau menyala. Aku mencoba menyalakan mesin mobil, namun hanya suara klik yang kudengar. Aku terjebak.
Keheningan di luar kini semakin pekat, dan cahaya senter itu kembali bergerak, mengitari mobilku, pelan-pelan, seolah menunggu aku keluar.
Tak ada sinyal, tak ada bantuan. Setiap detik terasa seperti jam. Aku memejamkan mata, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.
Tapi ketika aku membuka mata, aku melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia inibayangan hitam dengan mata merah menyala, menatapku dari balik kaca depan. Bibirnya bergerak, membisikkan sesuatu yang tak pernah ingin kudengar seumur hidupku.
Suara Terakhir di Malam Itu
Entah berapa lama aku berada di sana. Tiba-tiba, GPS menyala kembali dengan sendirinya. Suara itu kini parau, tak seperti sebelumnya. “Arahkan ke belakang. Jangan menoleh.” Aku tak tahu lagi harus percaya pada siapa.
Namun, dalam kepanikan, aku mengikuti instruksi itu. Aku berjalan mundur, menahan napas, menolak menoleh ke arah suara ketukan di belakang mobilku.
Setelah beberapa langkah, suara GPS berhenti. Aku sendirian, di tengah kegelapan. Di kejauhan, terdengar lagi suara tawa samar, dan cahaya senter itu perlahan menghilang di antara pepohonan.
Aku mencoba mencari jalan kembali, namun jalanan yang tadi kulalui telah lenyap, digantikan oleh hutan lebat yang tak pernah kulihat di peta manapun.
Malam itu, GPS membawaku ke tempat yang tak pernah ada, dan hingga kini, aku masih bertanya-tanya: apakah aku benar-benar kembali?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0