Penjaga Lansia di Desa Gunung dan Rahasia Tua yang Mengintai
VOXBLICK.COM - Malam di desa pegunungan selalu datang lebih cepat, seolah-olah kegelapan tak sabar menelan setiap sudut rumah-rumah kayu tua yang berdiri rapuh di lereng terjal. Aku, Sari, baru tiga bulan menjadi penjaga lansia di rumah paling ujung, tempat seorang nenek renta bernama Mbah Saminah tinggal sendirian. Tak banyak yang berani mendekat ke sini setelah maghrib, apalagi setelah bisik-bisik warga tentang suara-suara aneh dan bayangan panjang yang melintas di sela pepohonan pinus.
Dini hari itu, udara terasa membeku. Angin gunung menderu di sela dinding bambu, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tualebih purbadari sekadar embun pagi.
Aku baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk Mbah Saminah ketika ia memanggil dengan suara serak, “Sari, malam ini kau harus membantuku. Sudah waktunya.” Matanya yang suram menatap ke luar jendela, ke arah hutan yang pekat dan tak berujung.
Aku menggigil, bukan karena dingin, tapi karena firasat buruk yang menelusup bersama bisikan angin. Aku tahu, malam ini bukan malam biasa.
Ada rahasia tua yang mengintai kami dari balik pepohonan, rahasia yang lebih tua dari kematian itu sendiri.
Ritual Malam Sunyi
Mbah Saminah meminta aku menyiapkan kain putih, segenggam beras, dan kendi berisi air sumur yang belum disentuh cahaya pagi. “Jangan tanya kenapa, cukup lakukan saja,” katanya pelan, nyaris berbisik.
Aku menuruti tanpa protes, meski tangan gemetar saat melipat kain dan menuang air ke kendi.
- Rumah itu tiba-tiba terasa lebih sempit, seolah-olah dindingnya merapat dan bayang-bayang di sudut ruangan semakin gelap.
- Suara-suara samar terdengarseperti langkah kaki di atap, atau mungkin ranting yang patah di luar jendela.
- Jam berdetak lambat, setiap detik terasa seperti menit yang tak berujung.
Setelah semuanya siap, Mbah Saminah memintaku membantunya berdiri. Ia berjalan terpincang menuju teras belakang, matanya tak pernah lepas dari kegelapan hutan. “Mereka akan datang, Sari.
Kau jangan tinggalkan aku, apapun yang terjadi,” bisiknya. Aku mengangguk, meski jantungku berdegup kencang, nyaris pecah.
Bayangan dari Hutan Purba
Di teras, kami duduk bersila di atas tikar pandan. Mbah Saminah mulai melantunkan mantra dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. Angin berhenti, seolah-olah waktu sendiri menahan napas.
Lalu, dari balik pepohonan, aku melihatnyabayangan besar, tinggi, dan tak berbentuk, bergerak perlahan ke arah kami. Udara di sekitarnya membeku, dan bau busuk tanah kubur menusuk hidung.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Mbah Saminah menggenggam tanganku erat, jarinya dingin seperti es. “Jangan lepaskan,” katanya sekali lagi.
Bayangan itu semakin dekat, mataku mulai kabur, dan desiran suara-suara aneh memenuhi telingaku. Mereka bukan suara manusia, melainkan suara dari sesuatu yang telah lama dilupakan oleh dunia.
- Bulu kudukku meremang saat suara itu mulai berbisik di telingaku.
- Mataku menangkap siluet tangan-tangan kurus yang meraih dari kegelapan.
- Nafasku tercekat, tubuhku kaku, tak bisa bergerak sama sekali.
Rahasia Tua yang Mengintai
Ketika bayangan itu hampir menyentuh kami, Mbah Saminah menumpahkan kendi air ke tanah sambil berteriak dengan suara yang lebih muda, lebih kuat dari yang pernah kudengar darinya. Cahaya aneh menyala sebentar, lalu semuanya gelap.
Aku kehilangan kesadaran, hanya bisa mendengar suara langkah kaki yang menjauh dan suara tertawa kecil yang menggema di antara pepohonan.
Aku terbangun di pagi hari, sendirian di teras. Kain putih dan kendi sudah hilang, hanya sisa beras tercecer di tanah. Mbah Saminah tak ada di mana pun.
Hanya kursi goyang kosong yang berayun perlahan, mencicit pelanseolah-olah seseorang baru saja berdiri dari sana.
Yang Tertinggal Setelah Malam Itu
Rumah Mbah Saminah kini kosong, tapi setiap malam, aku masih mendengar suara langkah kaki di atap, suara berbisik dari hutan, dan kursi goyang yang tetap bergerak sendiri. Tidak ada yang tahu ke mana Mbah Saminah pergi.
Warga desa hanya berkata, “Dia memang sudah waktunya.” Tapi aku tahu, malam itu, aku dan Mbah Saminah telah menghadapi sesuatu yang tak bisa dijelaskansesuatu yang lebih tua dari kematian, dan sekarang... mungkin, giliran aku yang dijaga dari rahasia tua yang mengintai.
>Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0