Jangan Pernah Melihat Saat Ia Masuk ke Rumah
VOXBLICK.COM - Suara langkah kaki itu tak pernah salah. Berat, pelan, dan seolah-olah menghitung setiap detik menuju akhir keberanianku. Malam ini, suara itu kembali terdengar di lorong depan rumahku. Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan: diam, matikan lampu, danyang terpentingjangan pernah melihat ke arah pintu saat ia masuk ke rumah.
Tak ada yang tahu pasti dari mana makhluk misterius itu datang. Tapi setiap beberapa minggu sekali, ia akan memilih satu rumah di desa ini. Tak ada yang pernah mengaku melihat wujudnya secara langsung.
Namun aku pernah mendengar bisikan samar dari tetangga: “Jangan pernah menatap matanya, apa pun yang terjadi.”
Ketika Malam Menjadi Terlalu Sunyi
Jam dinding berdetak sangat pelan, seolah waktu pun enggan berjalan. Aku duduk di sudut ruang tamu, hanya ditemani nyala samar lampu meja. Angin dari jendela membawa bau tanah basah, menambah suasana yang mencekam.
Tiba-tiba, semua suara menghilang jangkrik, anjing tetangga, bahkan deru kipas angin. Hening yang tak wajar.
Aku tahu, inilah saatnya. Aku menahan napas ketika suara pintu depan berderit perlahan. Tak ada angin, tapi daun pintu bergerak sendiri. Aku menunduk, menutup mata rapat-rapat, dan berharap makhluk itu segera pergi tanpa mengusikku.
Tapi malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu dalam keheningan ini yang membuat jantungku berdetak semakin cepat.
Keberanian yang Salah Tempat
Aku mencoba mengingat pesan nenek: “Tak peduli seberapa besar keingintahuanmu, jangan pernah melihat ke arahnya.” Tapi rasa takut dan penasaran bercampur jadi satu, menggoda untuk sekilas saja melirik.
Aku mendengar napas berat di dekatku, panas dan lembab seperti embusan angin dari neraka. Lantai kayu berderit di bawah beban yang tak terlihat.
- Langkahnya begitu lambat, seolah ia tahu aku menahan diri untuk tidak melihat.
- Bau amis menyengat memenuhi ruangan, membuatku ingin muntah.
- Bayangan hitam merayap di dinding, bergerak tanpa sumber cahaya.
Tiba-tiba, suara kursi kayu di sampingku tergeser sendiri. Aku menggigit bibir sampai berdarah, menahan teriakan. Dalam hati aku berdoa, semoga makhluk itu puas hanya dengan kehadiran tanpa perlu menyentuhku.
Bisikan dari Kegelapan
Malam semakin pekat. Aku bisa merasakan kehadirannya tepat di belakangku. Ada bisikan lirih, suara yang tak bisa kupahami. Kata-kata itu seperti mantra kuno, menelusup masuk ke telinga dan menusuk hingga ke tulang.
Dengan tubuh gemetar, aku menutup telinga. Namun suara itu semakin keras, memaksa mataku ingin terbuka.
Rasa penasaran benar-benar menjadi kutukan. Di sela ketakutan, aku bertanya dalam hati: Bagaimana rupa makhluk itu? Apakah benar yang diceritakan selama ini? Telingaku menempel di lutut, tangan menutupi wajah.
Tapi bisikan itu berubah menjadi jeritan. Ruangan terasa berputar, udara menjadi dingin menggigit.
Seseorangatau sesuatumenyentuh bahuku. Sentuhan yang dingin dan kasar. Aku tak tahan lagi. Perlahan, dengan sisa keberanian yang tersisa, aku membuka mata dan menoleh ke belakang.
Malam yang Tak Pernah Sama Lagi
Wajahnya… Bayangan gelap, tanpa mata, tanpa mulut. Tapi aku bisa merasakan tatapan itu menembus jiwaku. Mata kosongnya memantulkan wajahku sendiri, tapi dengan senyum aneh yang tak pernah kupasang.
Seketika tubuhku lemas. Aku ingin berteriak, tapi lidahku kelu. Makhluk itu hanya berdiri, menatapku dalam keheningan yang mematikan. Tiba-tiba, listrik padam. Ruangan menjadi sepenuhnya gelap.
Aku tak bisa lagi melihat apa punatau mungkin, aku sudah tak bisa melihat sama sekali.
Ketika lampu kembali menyala, aku sendirian di ruang tamu. Tapi jejak kaki berlumpur masih membekas di lantai, menuju kamarku. Dan di cermin, ada bayangan hitam berdiri di belakangku, menunggu aku menatapnya sekali lagi.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0