Rahasia Mengerikan di Balik Plafon Toko Kelontongku
VOXBLICK.COM - Aku bekerja di sebuah toko kelontong kecil di pinggiran kota, tempat yang seolah tak pernah sepi dari bisik-bisik aneh dan suara langkah kaki yang tak pernah jelas asalnya. Terkadang, jika malam terlalu larut, aku bisa merasakan hawa dingin merambat dari sela-sela rak, menelusup hingga ke tulang. Tetapi malam itu, sesuatu jauh lebih mengerikan mengintai di atas kepalakudi balik plafon toko kelontongku.
Ubin yang Bergerak di Tengah Malam
Semua bermula saat aku sedang menghitung stok mi instan di rak paling pojok. Lampu toko kelontong sudah meredup, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu sorot utama.
Tiba-tiba, suara gemeretak halus terdengar dari atas, seperti sesuatu yang menggesek-gesek ubin langit-langit. Aku mencoba mengabaikan, mengira itu tikus yang nyasar. Namun, suara itu semakin kencang, ritmenya tak beraturan, kadang terdengar seperti bisikan samar yang menyatu dengan suara gesekan.
Aku menegadahkan kepala, menatap plafon toko yang sudah berumur puluhan tahun. Beberapa ubin terlihat lebih kusam dan berdebu, tetapi malam itu, aku melihat salah satu ubin bergerak perlahanseolah didorong dari dalam.
Bisikan dan Bayangan di Balik Plafon
Aku melangkah hati-hati, mendekati tangga kecil di gudang belakang. Setiap langkah terasa berat, seolah tubuhku menolak untuk mengetahui apa yang bersembunyi di balik langit-langit itu. Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Aku naikkan tangga, lalu mengintip ke sela ubin yang setengah terangkat.
Aroma lembap dan apek menyambutku, bercampur bau sesuatu yang membusuk. Dalam gelap, aku melihat bayangan bergerak cepat, seperti tangan kurus merayap di sela balok kayu. Aku menahan napas, berharap itu hanya ilusi cahaya.
Namun, suara bisikan terdengar jelas kali inimemanggil namaku, berulang-ulang, dengan suara serak yang tidak mungkin berasal dari manusia.
Malam yang Tak Pernah Sama Lagi
Setelah kejadian itu, suasana toko kelontongku berubah drastis. Setiap malam, aku mendengar:
- Langkah kaki dari atas plafon, kadang berlari kecil, kadang berhenti tepat di atasku.
- Bisikan samar, seperti suara anak kecil menangis, bercampur tawa cekikikan yang menyeramkan.
- Ubin yang terangkat sendiri, meninggalkan debu beterbangan dan jejak tangan kotor di permukaannya.
Rahasia Lama yang Terkubur
Aku mencoba mencari tahu kepada warga sekitar, namun mereka hanya menggeleng pelan setiap kali aku menyinggung soal plafon toko kelontongku. Seorang nenek tua pernah berbisik, “Jangan pernah buka ubin itu malam-malam, Nak. Ada yang menunggu di sana.
” Tapi rasa ingin tahu dalam diriku semakin menjadi-jadi.
Suatu malam, aku nekat mengangkat kembali ubin yang pernah bergerak sendiri itu. Di baliknya, kulihat sesuatu yang tak seharusnya adasebuah boneka tua, kainnya lusuh penuh bercak merah, matanya menatap lurus ke arahku.
Di samping boneka itu, ada coretan-coretan di kayu, seperti bekas kuku seseorang yang mencoba keluar.
Ketika Plafon Menjadi Gerbang Ketakutan
Malam-malam berikutnya, kejadian aneh semakin sering terjadi. Aku merasa selalu diawasi, bahkan saat toko sudah tutup dan aku sendirian di dalam.
Kadang, aku mendengar suara benda jatuh dari atas, dan setiap kali aku periksa, ubin plafon selalu bergeser sedikit, seolah ada sesuatu yang ingin keluar. Sampai akhirnya, suatu malam, aku mendengar suara pintu gudang terbuka sendiri. Angin dingin berhembus, dan samar-samar, aku melihat bayangan tangan kurus menjulur dari sela plafon, menggenggam boneka tua itu.
Aku berlari keluar toko, meninggalkan lampu menyala dan pintu terbuka. Ketika aku menoleh, kulihat ubin plafon di bagian tengah toko perlahan terangkat, memperlihatkan sepasang mata merah yang menatap tajam ke arahku.
Entah apa yang bersembunyi di balik plafon toko kelontongkutapi sejak malam itu, tidak ada satu pun dari kami yang berani membuka toko sampai pagi. Dan kadang, dari kejauhan, aku masih bisa mendengar bisikan itu memanggil namaku, menunggu saatnya untuk turun ke bawah.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0