Rahasia Nama Bayi Tetangga yang Salah Eja Bikin Merinding
VOXBLICK.COM - Suara tangisan bayi selalu mengusik keheningan malam di gangku yang sempit. Tapi sejak keluarga Milton pindah ke rumah di seberang jalan, tangisan itu berubah menjadi sesuatu yang lainsesuatu yang lebih dingin, lebih menusuk. Aku belum pernah benar-benar bertemu mereka, hanya sekilas melihat sosok ibu muda yang selalu tampak kelelahan, dan seorang pria berjenggot tipis yang jarang berbicara. Namun, sejak suara itu muncul, tidurku tak pernah benar-benar pulas.
Malam itu, aku terjaga pukul dua pagi. Hujan rintik menari di atap seng, dan aku yakin mendengar bisikan lembut dari balik dinding. Bukan suara orang dewasa, bukan juga suara tangis. Lebih mirip gumaman, seolah ada yang mencoba berbicara dalam tidur.
Aku mendekat ke jendela, menajamkan telinga, dan suara itu menjadi semakin jelas.
Bisikan Dari Kamar Bayi
Suatu malam, aku memberanikan diri keluar rumah. Jalanan lengang, hanya lampu kuning di depan rumah Milton yang masih menyala temaram.
Aku berhenti di bawah jendela kamar bayi mereka dan mendengar dengan jelasada suara bayi, namun kali ini bukan tangisan. Ia menggumam pelan, hampir seperti berbicara, “Namaku bukan itu... namaku bukan itu...” Berulang-ulang, lirih, namun jelas.
Jantungku berdegup kencang. Aku yakin suara itu bukan igauan biasa. Ada rasa putus asa dalam bisikannya, seolah sang bayi berusaha keras memperbaiki sesuatu yang keliru. Aku mundur perlahan, berusaha menepis pikiran aneh yang mulai menghantui.
Misteri Nama Yang Salah Eja
Beberapa hari kemudian, aku bertemu dengan ibu Milton di toko kelontong. Ia bercerita sambil tersenyum canggung tentang bayinya yang baru lahir. “Namanya Laila, tapi waktu pengurusan akta, entah kenapa jadi ‘Laial’.
Kami sudah coba koreksi, tapi katanya prosesnya ribet sekali.”
- Nama bayi yang disalah-eja dan tak bisa diubah.
- Bisikan aneh yang terdengar dari kamar bayi setiap malam.
- Kegelisahan yang makin terasa di lingkungan sekitar.
Setelah pertemuan itu, aku semakin sering mendengar suara-suara aneh. Setiap malam, gumaman itu makin jelas, kadang terdengar seperti suara dua orang yang saling berbisik di dalam gelap.
Aku mencoba mengabaikannya, tapi suara itu seolah menyeretku lebih dalam ke dalam misteri nama bayi tetanggaku yang salah eja dan bikin merinding.
Bayangan di Balik Tirai
Suatu malam, aku terbangun oleh suara ketukan pelan di jendela kamar. Di luar, hanya gelap dan hujan. Tapi aku yakin, aku melihat sekelebat bayangan kecil di balik tirai rumah Milton. Bayangan itu bergerak pelan, lalu berhenti seolah menatapku.
Aku menahan napas, berharap itu hanya imajinasi.
Keesokan harinya, aku mendengar kabar dari tetangga lain. Mereka juga mulai merasakan keganjilan: tanaman yang layu tiba-tiba, suara mainan yang bergerak sendiri di malam hari, dan udara dingin yang menusuk setiap kali melewati rumah Milton.
Semuanya menuding pada satu halbayi dengan nama yang salah eja, yang seolah tidak pernah benar-benar tidur tenang.
Malam Terakhir yang Tak Pernah Usai
Malam itu, aku tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Aku menyalakan lampu senter kecil dan menyelinap ke halaman rumah Milton. Dari balik jendela, aku lihat buaian bayi bergoyang pelan, padahal tak ada angin.
Lalu, suara itu kembali terdengar, lebih lantang: “Namaku Laial... bukan... bukan... Aku ingin pulang...”
Sesaat, aku merasa ada yang menatapku dari kegelapan kamar itu. Mata kecil, bundar, menyorotkan cahaya aneh. Aku terpaku, tak mampu bergerak. Lalu tiba-tiba, bayangan itu menghilang, dan lampu seluruh rumah padam serempak. Hening.
Hanya suara hujan, dan bisikan yang entah mengapa, kini terdengar sangat dekat di telingaku.
Sejak malam itu, tak ada lagi suara tangis atau bisikan dari rumah Milton. Rumah itu kini selalu gelap, tak pernah terlihat penghuninya.
Tapi kadang, jika malam terlalu sunyi, aku masih bisa mendengar suara bayi berbisik, seolah memberitahukuada nama yang belum selesai dipanggil, ada rahasia yang belum selesai diceritakan.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0