Protes Kata Kapitil dan Tailan KBBI, Badan Bahasa Beri Penjelasan

Oleh VOXBLICK

Senin, 09 Februari 2026 - 09.00 WIB
Protes Kata Kapitil dan Tailan KBBI, Badan Bahasa Beri Penjelasan
Protes kata kapitil dan Tailan (Foto oleh Stefan G)

VOXBLICK.COM - Penambahan dua kata baru, "kapitil" dan "Tailan", dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring baru-baru ini memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat dan pegiat bahasa. Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) turut memberikan penjelasan resmi mengenai polemik yang muncul tersebut.

Apa yang Terjadi dan Siapa yang Terlibat?

Dalam update KBBI daring pada Juni 2024, dua entri baru yakni "kapitil" dan "Tailan" terdaftar sebagai lema. Kata "kapitil" dijelaskan sebagai padanan untuk "modal" (capital), sedangkan "Tailan" sebagai bentuk baru untuk "Thailand".

Perubahan ini langsung menuai protes di media sosial, terutama dari akademisi, pegiat bahasa, hingga masyarakat umum. Banyak yang mempertanyakan dasar ilmiah, urgensi, dan mekanisme pemutakhiran kosakata tersebut.

Pihak utama yang terlibat adalah Badan Bahasa selaku otoritas pengelola KBBI.

Beberapa tokoh publik, seperti sastrawan dan dosen bahasa, juga angkat bicara melalui berbagai kanal, menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menambah atau mengubah lema di KBBI yang selama ini menjadi rujukan nasional.

Protes Kata Kapitil dan Tailan KBBI, Badan Bahasa Beri Penjelasan
Protes Kata Kapitil dan Tailan KBBI, Badan Bahasa Beri Penjelasan (Foto oleh Andrey Matveev)

Penjelasan Resmi Badan Bahasa

Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa KBBI adalah kamus hidup yang terus mengalami pembaruan sejalan dengan perkembangan bahasa. Ia menegaskan, “KBBI bukan kitab suci.

Ia adalah dokumen yang selalu terbuka untuk perubahan dan penyempurnaan.” Menurut Aminudin, penambahan lema baru dilakukan berdasarkan hasil kajian, usulan masyarakat, dan dinamika penggunaan bahasa di ruang publik.

Badan Bahasa juga memaparkan bahwa proses pemutakhiran KBBI selalu melibatkan tim ahli bahasa, pemeriksa, serta pengkaji eksternal. Namun, pihaknya mengakui adanya celah diskusi dan evaluasi atas setiap entri baru yang dinilai kontroversial.

“Masyarakat boleh mengajukan keberatan atau masukan melalui kanal resmi. Kami sangat terbuka terhadap kritik konstruktif,” jelas Aminudin.

Alasan Pentingnya Pembaruan KBBI

KBBI merupakan rujukan utama bagi penggunaan bahasa Indonesia, mulai dari dunia pendidikan, media, hingga administrasi pemerintahan. Karena itu, setiap perubahantermasuk penambahan kata kapitil dan Tailanmemiliki dampak luas:

  • Standarisasi Bahasa: KBBI menjadi acuan standar penggunaan kata di ranah formal. Penambahan kata baru dapat memicu perubahan dalam dokumen resmi maupun kurikulum.
  • Pendidikan dan Media: Guru, siswa, jurnalis, dan penulis merujuk KBBI, sehingga setiap entri baru bisa langsung memengaruhi praktik berbahasa sehari-hari.
  • Ketahanan Bahasa: Penyempurnaan atau penyesuaian lema dilakukan untuk menjaga relevansi bahasa Indonesia menghadapi globalisasi dan perubahan sosial budaya.

Dampak Lebih Luas: Dinamika Bahasa dan Peran Masyarakat

Protes terhadap penambahan kata kapitil dan Tailan di KBBI menyoroti dinamika hubungan antara otoritas bahasa dan pengguna bahasa. Isu ini memperjelas beberapa hal penting:

  • Keterbukaan Proses: Perubahan lema di KBBI menuntut transparansi dan partisipasi publik agar setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun sosiolinguistik.
  • Edukasi Publik: Masyarakat perlu memahami bahwa kamus adalah refleksi perkembangan bahasa, bukan aturan mutlak. Namun, ada harapan agar kamus tetap menjaga kualitas dan akurasi setiap lema.
  • Keseimbangan Inovasi dan Tradisi: Di satu sisi, inovasi dalam bahasa diperlukan untuk mengikuti perkembangan zaman. Di sisi lain, perubahan harus mempertimbangkan akar sejarah dan tradisi kebahasaan yang telah mapan.

Polemik ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran masyarakat dalam mengawal perkembangan bahasa Indonesia serta menegaskan pentingnya komunikasi dua arah antara pengelola KBBI dan para penggunanya.

Dengan demikian, isu penambahan kata kapitil dan Tailan di KBBI bukan sekadar soal istilah baru, melainkan refleksi dari dinamika sosial, budaya, dan ilmiah yang terus membentuk wajah bahasa Indonesia masa kini dan mendatang.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0