Proyeksi Chainalysis Stablecoin Bisa Capai 1,5 Kuadriliun 2035
VOXBLICK.COM - Chainalysis kembali membuat pasar kripto menaruh perhatian lebih besar pada stablecoin. Dalam proyeksinya, volume stablecoin berpotensi melonjak hingga 1,5 kuadriliun pada tahun 2035. Angka ini bukan sekadar statistikia menjadi sinyal bahwa pembayaran berbasis aset digital bisa semakin “terlihat” di ekonomi nyata: dari transaksi harian, kebutuhan likuiditas onchain, sampai peluang menggeser peran jaringan pembayaran tradisional seperti Visa dan Mastercard.
Yang menarik, proyeksi ini juga nyambung dengan tren yang sudah mulai terasa di periode 2025–2035: pertumbuhan ekosistem DeFi, peningkatan adopsi stablecoin untuk settlement lintas bursa, hingga penggunaan stablecoin sebagai
jembatan nilai (value bridge) saat volatilitas kripto lainnya masih menjadi tantangan. Nah, kalau kamu ingin memahami dampaknya secara menyeluruh, berikut peta jalan logisnyamulai dari utilitas pembayaran sampai perubahan struktur ekonomi onchain.
Kenapa stablecoin jadi “bahan bakar” utama onchain?
Stablecoin pada dasarnya dirancang untuk menjaga nilai relatif terhadap aset acuan (umumnya USD). Karena itu, ia cocok untuk kebutuhan yang butuh kestabilanbukan spekulasi.
Saat orang dan bisnis melakukan transaksi, mereka ingin kepastian: berapa nilai yang ditransfer, berapa biaya, dan kapan settlement terjadi.
Di jaringan kripto, stablecoin sering menjadi “tiket masuk” untuk aktivitas lain. Misalnya:
- Perdagangan: trader menukar aset kripto lain ke stablecoin untuk parkir nilai atau mengelola risiko volatilitas.
- DeFi: pinjam-meminjam, yield, dan perdagangan derivatif onchain umumnya memakai stablecoin sebagai dasar likuiditas.
- Remittance dan transaksi lintas negara: stablecoin bisa mengurangi friction dibanding jalur perbankan tradisional.
- Pembayaran: merchant dan platform yang mengintegrasikan pembayaran bisa mengurangi risiko fluktuasi.
Dengan kata lain, ketika volume stablecoin naik, aktivitas ekosistem ikut “naik kelas”.
Proyeksi Chainalysis tentang 1,5 kuadriliun pada 2035 bisa dibaca sebagai indikator bahwa stablecoin akan makin sering dipakai sebagai unit pembayaran dan settlement, bukan hanya sebagai instrumen trading.
Angka 1,5 kuadriliun: apa maknanya untuk ekosistem?
Volume stablecoin yang sangat besar biasanya mencerminkan beberapa hal secara bersamaan: peningkatan pengguna, peningkatan frekuensi transaksi, dan perluasan kasus penggunaan.
Pada rentang 2025–2035, ada tiga pendorong utama yang bisa menjelaskan mengapa angka tersebut masuk akal (setidaknya sebagai skenario proyeksi).
- Likuiditas makin dalam: semakin banyak stablecoin beredar, semakin mudah pengguna masuk/keluar posisi tanpa “mengagetkan” pasar.
- Integrasi infrastruktur: pertumbuhan wallet, exchange, payment gateway, dan onchain analytics membuat stablecoin lebih mudah dipakai.
- Standardisasi transaksi: pola transfer, routing likuiditas antar-chain, serta peningkatan tooling mendukung transaksi yang lebih cepat dan murah.
Secara konsekuensi, ekonomi onchain berpotensi mengalami “efek domino”. Saat stablecoin menjadi medium yang dominan, maka:
- Volume transaksi meningkat di DEX, lending, dan berbagai aplikasi onchain.
- Barier masuk pengguna baru menurun karena stablecoin mengurangi rasa takut terhadap volatilitas.
- Aktivitas lintas ekosistem (misalnya dari exchange ke DeFi) menjadi lebih mulus.
Potensi menggeser Visa dan Mastercard: realita atau hype?
Proyeksi stablecoin sebesar 1,5 kuadriliun pada 2035 sering memicu narasi “menggeser Visa dan Mastercard”. Penting untuk membaca ini secara proporsional.
Jaringan pembayaran tradisional bukan hanya soal “pembayaran”, tapi juga mencakup jaringan kepatuhan, rekonsiliasi, dan layanan bernilai tambah.
- Pembayaran lintas negara: transfer yang biasanya memakan waktu dan biaya bisa dipercepat dengan stablecoin.
- Merchant digital global: bisnis online yang menjual ke banyak negara sering butuh settlement yang efisien.
- Settlement B2B: perusahaan yang beroperasi lintas platform bisa memanfaatkan stablecoin untuk perputaran dana.
Kalau stablecoin makin dominan untuk pembayaran dan settlement, “peran” jaringan tradisional dapat bergeser dari sekadar pemrosesan transaksi ke model yang lebih hibrida: bekerja sama dengan penyedia stablecoin, mengadopsi infrastruktur blockchain, atau membangun layanan tokenized settlement.
Jadi, bukan berarti Visa dan Mastercard akan hilang. Yang mungkin terjadi adalah kompetisi di lapisan tertentu: kecepatan, biaya, dan fleksibilitas settlement.
Dampak ke adopsi: dari trader ke pengguna sehari-hari
Adopsi stablecoin biasanya tidak terjadi secara instan. Umumnya ada tahapan: awalnya dipakai oleh komunitas kripto, lalu meluas ke pengguna yang lebih luas melalui kebutuhan praktis. Di sinilah utilitas pembayaran menjadi kunci.
Bayangkan kamu ingin melakukan transaksi yang butuh nilai stabil: pembayaran jasa, pembelian digital, atau pengiriman dana ke keluarga. Stablecoin memberikan pengalaman yang lebih “mendekati uang” dibanding aset kripto volatil.
Ketika pengalaman ini konsistencepat, murah, dan mudahmaka stablecoin bisa beralih dari pilihan “opsional” menjadi “pilihan utama” di beberapa skenario.
Untuk mendukung adopsi, beberapa faktor yang perlu matang antara lain:
- Pengalaman pengguna: wallet yang ramah, onramp/offramp yang jelas, dan biaya transaksi yang transparan.
- Kepatuhan dan keamanan: integrasi KYC/AML yang tepat guna, serta perlindungan dari penipuan.
- Keandalan jaringan: stabilitas blockchain, routing lintas chain, dan manajemen likuiditas.
Tren 2025–2035: apa yang kemungkinan terjadi di pasar?
Jika kita melihat proyeksi Chainalysis sebagai kompas, maka ada pola tren yang bisa kamu antisipasi. Berikut beberapa arah yang paling relevan untuk periode 2025–2035.
- Persaingan ekosistem stablecoin: bukan hanya siapa yang terbesar, tapi siapa yang paling efisien untuk pembayaran, settlement, dan integrasi.
- Tokenisasi aset dan settlement: stablecoin bisa menjadi “jembatan” untuk transaksi tokenized assets yang makin populer.
- Onchain compliance: analitik, pelaporan, dan penegakan kebijakan makin kuat sehingga penggunaan stablecoin makin “mainstream”.
- Interoperabilitas: transfer antar-chain dan antar-platform akan makin sering terjadi, karena pengguna ingin fleksibilitas tanpa drama teknis.
Dalam praktiknya, pertumbuhan volume stablecoin biasanya diikuti oleh peningkatan aktivitas infrastruktur: indexer, analytics, custody, risk engine, dan layanan pembayaran berbasis kripto.
Artinya, dampaknya tidak hanya ke harga asettapi juga ke industri pendukung.
Risiko yang tetap perlu diwaspadai
Walaupun proyeksi menjanjikan, stablecoin bukan tanpa tantangan. Kalau kamu ingin melihat gambaran yang realistis, ada beberapa risiko yang harus tetap diperhatikan selama adopsi tumbuh.
- Risiko regulasi: kebijakan tiap negara bisa memengaruhi akses, penerbit, dan cara penggunaan stablecoin.
- Risiko cadangan (reserve): kualitas aset cadangan dan transparansi penerbit menjadi faktor penting untuk kepercayaan.
- Risiko operasional: gangguan jaringan, kegagalan sistem, atau masalah custody dapat berdampak pada likuiditas.
- Risiko keamanan: penipuan, phishing, dan eksploitasi smart contract bisa merusak kepercayaan pengguna.
Menariknya, proyeksi volume yang besar justru menuntut standar yang lebih tinggi. Semakin besar pemakaian, semakin besar juga ekspektasi terhadap keamanan, kepatuhan, dan transparansi.
Kenapa ini penting bagi kamu yang mengikuti crypto market?
Kalau kamu mengikuti perkembangan crypto market, proyeksi Chainalysis tentang stablecoin memberi sinyal bahwa pasar akan semakin bergeser dari “sekadar perdagangan” menuju “ekonomi transaksi”.
Stablecoin menjadi lapisan dasar yang memungkinkan aplikasi lain tumbuh: dari pembayaran sampai DeFi, dari remittance sampai settlement antar platform.
Dengan potensi mencapai 1,5 kuadriliun pada 2035, stablecoin bisa menjadi salah satu elemen paling menentukan dalam arsitektur keuangan digital.
Bukan karena ia selalu menang di semua aspek, tetapi karena ia menyelesaikan masalah yang paling praktis: nilai yang stabil untuk digunakan berulang kali.
Jika kamu ingin mengambil sikap yang lebih cerdas, fokuslah pada indikator yang “berhubungan langsung” dengan adopsi: pertumbuhan pengguna dan integrasi, volume transaksi yang sehat, perkembangan regulasi, serta kualitas ekosistem pembayaran onchain.
Di situlah kamu biasanya bisa melihat arah sebelum angka-angka besar benar-benar terwujud.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0