Seribu Pegawai Google Desak Hentikan Kerjasama dengan ICE dan CBP

Oleh VOXBLICK

Jumat, 27 Februari 2026 - 06.30 WIB
Seribu Pegawai Google Desak Hentikan Kerjasama dengan ICE dan CBP
Pegawai Google desak hentikan kerjasama (Foto oleh RDNE Stock project)

VOXBLICK.COM - Hampir seribu pegawai Google menandatangani surat terbuka yang mendesak perusahaan menghentikan segala bentuk kerjasama bisnis dengan dua lembaga pemerintah Amerika Serikat, yaitu Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan Customs and Border Protection (CBP). Tuntutan ini mencuat di tengah kekhawatiran karyawan terhadap peran teknologi Google dalam mendukung operasi pengawasan dan penegakan imigrasi yang dianggap bermasalah, terutama terkait isu kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Surat terbuka tersebut, yang dipublikasikan pada awal Juni 2024, berisi permintaan agar manajemen Google mengakhiri kontrak dan menghentikan penyediaan layanan cloud serta teknologi kecerdasan buatan (AI) kepada ICE dan CBP.

Para penandatangan menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai potensi penyalahgunaan teknologi untuk memperkuat pengawasan, deportasi, dan tindakan yang dinilai melanggar prinsip etika perusahaan.

Seribu Pegawai Google Desak Hentikan Kerjasama dengan ICE dan CBP
Seribu Pegawai Google Desak Hentikan Kerjasama dengan ICE dan CBP (Foto oleh wal_ 172619)

Rincian Tuntutan dan Respon Google

Dalam surat tersebut, pegawai Google menyoroti beberapa poin utama:

  • Meminta perusahaan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh kontrak dengan lembaga pemerintah yang berpotensi terlibat dalam pelanggaran HAM.
  • Menghentikan segera kerjasama dengan ICE dan CBP, termasuk proyek layanan cloud, sistem pengenalan wajah, dan aplikasi AI yang dapat dipakai untuk pengawasan atau penegakan hukum imigrasi.
  • Menegaskan pentingnya peran Google dalam menjaga etika teknologi, sejalan dengan prinsip-prinsip yang telah diumumkan oleh perusahaan terkait pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Juru bicara Google hingga berita ini diturunkan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait surat terbuka tersebut.

Namun, Google sebelumnya sempat menegaskan bahwa kontrak dengan lembaga pemerintah harus mematuhi hukum dan kebijakan internal perusahaan, serta tidak digunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai inti Google.

Latar Belakang: Kerjasama Teknologi dan Isu Hak Asasi

ICE dan CBP merupakan dua lembaga utama dalam penegakan hukum dan kebijakan imigrasi di Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, kedua lembaga ini kerap dikritik atas kebijakan pemisahan keluarga migran, penahanan massal, serta penggunaan teknologi pengawasan canggih dalam operasi-operasi mereka.

Google, bersama sejumlah raksasa teknologi lainnya, diketahui memiliki kontrak penyediaan layanan cloud dan kecerdasan buatan yang digunakan untuk memproses data, memantau pergerakan, hingga mendukung sistem administratif kedua lembaga tersebut.

Menurut laporan The Intercept dan The New York Times, nilai kontrak yang melibatkan perusahaan teknologi besar dengan lembaga pemerintah AS mencapai puluhan juta dolar per tahun.

Kekhawatiran pegawai Google bukan tanpa alasan. Pada 2018, Google pernah menghadapi protes internal atas keterlibatannya dalam Project Mavenproyek pengembangan kecerdasan buatan untuk keperluan militer.

Kala itu, tekanan dari ribuan pegawai membuat perusahaan menghentikan partisipasinya di proyek tersebut.

Dampak dan Implikasi Lebih Luas

Desakan pegawai Google untuk menghentikan kerjasama dengan ICE dan CBP berpotensi membawa dampak signifikan, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga industri teknologi secara umum. Ada beberapa implikasi yang patut dicermati:

  • Etika Bisnis Teknologi: Aksi ini menambah daftar panjang kasus di mana pekerja teknologi menuntut perusahaan lebih bertanggung jawab secara sosial. Tuntutan pegawai menegaskan pentingnya transparansi dan pertimbangan etika dalam pengambilan keputusan bisnis.
  • Regulasi dan Pengawasan: Pemerintah dan masyarakat sipil semakin menyoroti peran penyedia layanan cloud serta AI dalam mendukung kebijakan pemerintah yang kontroversial. Hal ini dapat mendorong pembentukan regulasi baru terkait kerja sama antara sektor swasta dan lembaga pemerintah.
  • Kebijakan Internal Perusahaan: Google dan perusahaan teknologi lain mungkin perlu memperbarui kebijakan internal mereka, terutama dalam hal audit kontrak dan keterlibatan pegawai dalam proses pengambilan keputusan strategis.
  • Kepercayaan Publik dan Reputasi: Respons perusahaan atas protes internal ini akan berdampak pada persepsi publik, loyalitas pegawai, serta daya saing di pasar kerja teknologi global.

Isu yang diangkat oleh hampir seribu pegawai Google ini menyoroti ketegangan antara pertumbuhan bisnis teknologi dan tuntutan etika di era digital.

Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian para pemangku kepentingan di bidang teknologi, pemerintahan, dan masyarakat luas, mengingat besarnya pengaruh perusahaan seperti Google terhadap tata kelola teknologi dan hak asasi manusia.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0