Tersesat di Purgatorium Setelah Menjadi Insinyur di Surga

Oleh VOXBLICK

Selasa, 25 November 2025 - 02.10 WIB
Tersesat di Purgatorium Setelah Menjadi Insinyur di Surga
Kisah insinyur terjebak purgatorium (Foto oleh Ginette Smiler Sear)

VOXBLICK.COM - Langit di atas kepala terasa begitu datar dan asing. Akudulu seorang insinyur di surgakini berdiri di tengah kabut kelabu yang membungkus setiap sudut purgatorium. Di sinilah aku terjebak, di antara bisikan samar dan bayangan yang menari tanpa bentuk. Setiap detik berlalu, rasa ingin pulangatau bahkan sekadar mengetahui waktumenjadi obsesi yang membakar dada.

Mereka bilang, surga adalah tempat keindahan tanpa cela. Aku tahu itu benar, karena aku pernah merancang jembatan-jembatan cahaya di sana, mengatur aliran sungai emas yang tidak pernah surut.

Tapi sejak “insiden itu”sesuatu yang bahkan aku tak sepenuhnya ingataku terseret ke tempat ini. Di purgatorium, waktu dan ruang menjadi teka-teki, dan aku bukan lagi seorang pencipta, melainkan hanya penonton dari kegilaan yang tak berujung.

Tersesat di Purgatorium Setelah Menjadi Insinyur di Surga
Tersesat di Purgatorium Setelah Menjadi Insinyur di Surga (Foto oleh Александра Колпакова)

Jejak Pertama di Negeri Tanpa Nama

Langkahku berat ketika pertama kali menyadari aku tak lagi di surga. Dinding-dinding di sini seperti hidupmereka bernafas, berbisik, dan terkadang menjerit pelan mengusik malam.

Aku mencoba mencari logika di balik setiap lorong dan ruang kosong, berharap ada pintu keluar bagi seorang insinyur yang terbiasa memecahkan masalah. Namun, purgatorium menolak semua rumusku.

  • Jam dinding berputar ke belakang, mengulang waktu yang tak pernah sama.
  • Bayangan sendiri kadang menolak mengikuti gerakku, seolah-olah ada sosok lain yang berlainan niat.
  • Langkah kaki tanpa pemilik sering terdengar di lorong, berhenti hanya ketika aku membeku ketakutan.

Di sini, aku tak pernah benar-benar sendiritetapi teman yang menemani hanyalah rasa takut dan keraguan yang tumbuh subur dalam gelap.

Misteri Mesin yang Tak Pernah Mati

Suatu malam, ketika kabut menebal hingga aku tak bisa melihat ujung tanganku sendiri, aku mendengar suara dengung mesin. Dulu, suara itu menandakan kehidupangenerator surga, alat-alat mutakhir ciptaanku.

Tapi di purgatorium, suara mesin berubah menjadi irama sumbang, seolah-olah ada sesuatu yang salah, sesuatu yang rusak parah. Aku terpancing mendekat, berharap menemukan mesin yang bisa kutangani, mungkin pintu keluar kembali ke surga.

Di balik pintu baja berkarat, kulihat sebuah perangkat aneh: campuran antara teknologi ilahi dan bahan-bahan dunia yang sudah lapuk. Mesin itu bergerak sendiri, kadang menggeram, kadang menangis seperti manusia.

Ketika aku coba membongkar panelnya, suara bisikan terdengar dari sela-sela kabel:

“Setiap yang masuk, tidak akan kembali. Setiap yang memperbaiki, akan menjadi bagian dari mesin.”

Jari-jariku gemetar, dan aku mundur perlahan, menahan napas agar tidak mengganggu makhluk-makhluk yang mungkin bersembunyi di balik bayang-bayang mesin itu.

Bayangan Tak Diundang

Hari-hari di purgatorium terasa seperti lingkaran setan. Terkadang, aku mendengar suara-suara yang dulu akrabrekan-rekan insinyur dari surga, memanggil namaku dari kejauhan.

Namun, saat aku menyusuri lorong gelap, yang kutemukan hanya bayangan panjang menari di dinding, berbisik dalam bahasa yang tak kumengerti. Satu malam, aku bertatapan dengan diriku sendiri di sebuah cermin retak. Namun, refleksi itu tersenyum sinis, dan matanya bukan milikku.

Sejak saat itu, aku tahu, purgatorium tak hanya menahan tubuhku, tetapi juga perlahan mencuri jiwaku.

Pilihan yang Tak Pernah Ada

Aku mencoba menulis pesan, meninggalkan tanda-tanda untuk siapa saja yang mungkin datang setelahku. Namun, setiap pagi, jejak itu selalu lenyapdigantikan oleh simbol-simbol aneh yang tak pernah kubuat.

Aku mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah aku benar-benar pernah menjadi insinyur di surga? Atau purgatorium telah menghapus semua yang dulu aku tahu?

  • Apakah mesin-mesin itu pernah nyata, atau hanya bayangan dari pikiranku yang mulai runtuh?
  • Siapa yang sebenarnya menulis pesan-pesan di dinding setiap malam?
  • Berapa lama lagi aku bisa bertahan, sebelum akhirnya menjadi bagian dari mesin?

Di ujung lorong, pintu baja terbuka perlahan. Suara mesin semakin keras, dan kali ini, aku mendengar suara tawatawa yang persis seperti milikku, namun lebih dalam, lebih tua. Aku melangkah maju, meski seluruh tubuhku bergetar.

Di sini, di purgatorium, mungkin hanya ada satu kepastian: tak semua insinyur yang tersesat akan ditemukan kembali.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0