Setiap Tahun Aku Mendapat Kartu Ulang Tahun dari Orang Asing
VOXBLICK.COM - Bayangkan, setiap tahun pada hari ulang tahunmu, sebuah kartu ucapan tiba di depan pintu. Bukan dari keluarga, bukan dari sahabat lama, bahkan bukan dari siapa pun yang kau kenal. Bertahun-tahun sudah aku menerima kartu ulang tahun dari orang asingdan setiap tahun, rasa dingin yang merambat ke tulang semakin sulit diabaikan.
Satu Kartu, Satu Tahun, Satu Misteri
Kisah ini bermula pada ulang tahunku yang kesepuluh. Di antara kado-kado yang tertumpuk di meja, sebuah amplop krem tanpa perangko dan tanpa nama pengirim tergeletak di bawah pintu rumah.
Di dalamnya, hanya secarik kartu dengan gambar balon warna-warni dan tulisan tangan yang samar: “Selamat ulang tahun, semoga harimu menyenangkan.” Sederhana, namun tak biasa. Ibuku mengira itu dari teman sekolahku yang malu-malu, atau tetangga yang ingin bercanda. Aku tak terlalu memikirkannya, hingga tahun berikutnya, kartu serupa kembali muncul.
Setiap tahun, tanpa absen, kartu itu selalu menanti di depan pintu, kadang di bawah keset, kadang terselip di celah pintu pagar. Tak pernah ada nama, tak pernah ada alamat pengirim. Hanya tulisan tangan yang sama: miring, rapi, dan terasa asing.
Aku mulai merasa diawasi, namun siapa yang peduli pada seorang anak kecil yang mengkhawatirkan kartu ulang tahun?
Jejak yang Tak Pernah Jelas
Memasuki usia remaja, aku mulai menyimpan semua kartu itu dalam sebuah kotak kayu kecil di bawah tempat tidur. Suatu malam, ketika aku iseng meneliti tulisan tangan pada masing-masing kartu, aku menyadari sesuatu yang aneh:
- Tahun demi tahun, tinta pada tulisan perlahan memudar, seolah-olah kartu itu sudah sangat tua sebelum diterima.
- Di bagian sudut kanan bawah, selalu ada noda kecil seperti bekas jarikadang merah, kadang hitam.
- Setiap kartu beraroma samar yang aneh, seperti campuran debu tua dan bunga layu.
Aku bertanya pada ayah dan ibu, tapi mereka hanya menatapku dengan wajah bingungmereka mengira itu sekadar lelucon teman sekolah.
Tapi aku tahu, tak ada satu pun temanku yang tahu tanggal ulang tahunku secara pasti, apalagi alamat rumahku yang sering berpindah-pindah.
Bayangan di Balik Jendela
Suatu malam, beberapa hari sebelum ulang tahunku yang ke-19, aku terjaga oleh suara ketukan pelan di jendela kamar. Jantungku berdegup kencang. Aku menahan napas, menengok perlahan ke balik tirai. Tak ada siapa-siapa, hanya angin malam yang berbisik.
Paginya, seperti biasa, sebuah kartu ulang tahun sudah menanti di depan pintu. Tapi kali ini, di dalamnya tertera pesan yang berbeda:
“Sudah hampir waktunya. Sampai jumpa malam ini.”
Tanganku bergetar. Tak ada yang tahu tentang kartu-kartu ini selain akuaku bahkan berhenti bercerita pada keluarga sejak bertahun-tahun lalu. Aku menatap keluar jendela, mencari sosok asing di antara bayangan pepohonan.
Hari itu, waktu berjalan lambat. Setiap suara langkah di depan rumah membuatku terlonjak. Aku bahkan hampir tak berani keluar kamar.
Malam Ulang Tahun Terakhir?
Menjelang tengah malam, aku duduk di tepi ranjang, mendekap kotak kayu berisi kartu-kartu itu. Lampu kamar sengaja kupadamkan, hanya cahaya dari layar ponsel yang menari di dinding. Satu jam, dua jam, tak ada apa-apa.
Aku mulai mengantuk dan hampir menertawakan ketakutanku sendiri, hingga terdengar suara pelan di depan pintu: “Tok... tok... tok...”
Dengan langkah gemetar, aku berjalan ke pintu. Di balik celahnya, hanya hening. Aku membuka perlahandan di sana, bukan satu kartu, melainkan setumpuk amplop tua bertuliskan namaku, dengan tinta memudar dan noda merah di sudutnya.
Di atas tumpukan itu, sebuah foto lama: potret seorang anak kecil berdiri di depan rumah ini, dengan mata yang menatap lurus ke arah kamerawajahnya sangat mirip denganku.
Di balik foto itu, tertulis: “Kamu ingat aku, kan? Selamat ulang tahun, adikku.”
Malam itu, aku tidak tidur. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar tidak sendiri di rumah ini.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0