Volume Onchain Perp DEX Turun Lima Bulan Usai Puncak Oktober 2025

Oleh VOXBLICK

Senin, 08 Juni 2026 - 11.30 WIB
Volume Onchain Perp DEX Turun Lima Bulan Usai Puncak Oktober 2025
Turun lima bulan berturut (Foto oleh AlphaTradeZone)

VOXBLICK.COM - Kalau kamu mengikuti pergerakan perpetual DEX dan indikator volume onchain, kabar terbaru cukup mengkhawatirkan: volume onchain perpetual DEX terus melemah selama lima bulan berturut-turut sejak puncak sekitar Oktober 2025. Penurunan ini bukan sekadar “grafik turun”, tapi sinyal bahwa aktivitas perdagangan di rantai (onchain) kehilangan momentumyang pada akhirnya bisa memengaruhi likuiditas, volatilitas, sampai kualitas eksekusi order.

Yang menarik, pola melemahnya volume onchain sering datang lebih dulu sebelum trader benar-benar “merasakan” perubahan di market. Jadi, memahami penyebab potensialnya dan cara membaca sinyal menjadi pentingagar kamu tidak terlambat mengubah strategi.

Volume Onchain Perp DEX Turun Lima Bulan Usai Puncak Oktober 2025
Volume Onchain Perp DEX Turun Lima Bulan Usai Puncak Oktober 2025 (Foto oleh Bram van Oosterhout)

Kenapa volume onchain perpetual DEX bisa turun terus selama lima bulan?

Penurunan volume onchain perpetual DEX selama periode panjang biasanya bukan satu faktor tunggal. Lebih sering, ini kombinasi dari faktor pasar, faktor ekosistem, dan perilaku trader.

Berikut beberapa penyebab potensial yang sering terlihat ketika volume onchain melemah secara konsisten.

1) Likuiditas menipis, spread melebar, dan eksekusi jadi kurang efisien

Perpetual DEX sangat bergantung pada likuiditas onchain.

Ketika volume mulai turun, likuiditas cenderung ikut berkurangdan dampaknya bisa berantai: spread melebar, slippage meningkat, dan trader yang “sensitif biaya” akan berpindah ke tempat lain (misalnya venue dengan likuiditas lebih tebal).

  • Slippage naik → posisi lebih mahal untuk dibuka/ditutup.
  • Spread melebar → sinyal entry yang tadinya bagus jadi kurang menguntungkan.
  • Likuiditas provider lebih selektif → mereka menahan modal saat risiko meningkat.

2) Kepercayaan pasar melemah setelah puncak Oktober 2025

Puncak volume pada Oktober 2025 sering terjadi ketika ada kombinasi katalis: euforia, peningkatan minat retail, atau rotasi modal ke strategi derivatif. Setelah fase puncak, market biasanya mengalami “cooling down”.

Jika katalis lanjutan tidak muncul, trader akan mengurangi frekuensi transaksi.

Dalam kondisi begini, volume onchain bukan hanya turun karena “orang malas trading”, tapi karena ekspektasi profit jangka pendek menurun atau risiko lebih terasa.

3) Biaya transaksi dan congesti jaringan memengaruhi frekuensi trading

Perpetual DEX onchain berarti setiap aktivitaspembukaan posisi, penyesuaian margin, hingga penutupanbergantung pada jaringan dan biaya.

Jika terjadi kenaikan biaya transaksi atau periode congesti, trader frekuensi tinggi (yang biasanya mengangkat volume) akan mengurangi aktivitas.

  • Trader beralih ke waktu “lebih murah” → volume harian jadi tidak merata.
  • Strategi yang butuh sering rebalancing jadi kurang efektif.
  • Beberapa trader memilih strategi offchain atau venue lain.

4) Dominasi strategi tertentu berubah: dari agresif ke selektif

Di fase puncak, banyak trader cenderung mengejar momentum. Setelah itu, jika volatilitas tidak lagi memberi peluang yang “bersih”, mereka akan mengubah pendekatan: lebih sedikit trade, lebih selektif entry, dan lebih fokus pada manajemen risiko.

Perubahan gaya trading ini bisa terlihat sebagai penurunan volume onchain, meskipun harga mungkin tidak langsung “jatuh”. Artinya, market bisa tetap aktif secara harga, tapi tidak aktif secara transaksi.

Dampak penurunan volume onchain terhadap trader: apa yang perlu kamu waspadai?

Volume onchain yang melemah selama lima bulan biasanya berdampak langsung pada ekosistem perpetual DEX. Berikut konsekuensi yang paling relevan untuk strategi trading kamu.

1) Volatilitas bisa berubah karakter (lebih “tersedak” atau lebih “spiky”)

Ketika likuiditas menipis, pergerakan harga dapat menjadi lebih “tajam” saat ada dorongan order.

Kadang ini menghasilkan volatilitas yang terlihat liar pada momen tertentu, tetapi secara umum pergerakan bisa melambat karena tidak ada cukup partisipan.

2) Sinyal teknikal berbasis volume menjadi kurang “ramai”

Banyak trader memakai konfirmasi volume untuk validasi breakout atau breakdown. Jika volume onchain terus menurun, sinyal bisa menjadi lebih “lemah” atau lebih sulit dibedakan antara sinyal nyata dan noise.

  • Breakout tanpa volume cenderung lebih mudah gagal.
  • Volume yang turun bisa membuat pola akumulasi/distribusi tampak kurang jelas.
  • Kamu perlu mengandalkan data tambahan, bukan volume saja.

3) Risiko slippage dan likuidasi meningkat saat kamu masuk di waktu yang salah

Di pasar yang volume menurun, likuidasi bisa terjadi lebih cepat karena order book lebih tipis. Jika kamu tetap menggunakan ukuran posisi agresif seperti saat volume tinggi, kamu bisa menghadapi eksekusi yang tidak sesuai ekspektasi.

Solusi praktisnya: turunkan ukuran posisi, perketat batas toleransi slippage, dan pastikan jarak stop loss tidak terlalu “mekanis” tanpa mempertimbangkan kondisi likuiditas.

Penurunan volume bukan berarti kamu harus berhenti trading. Tapi kamu perlu mengubah cara membaca sinyal: fokus pada kualitas setup, bukan kuantitas transaksi. Ini beberapa pendekatan yang bisa kamu terapkan.

1) Pantau “kualitas likuiditas”, bukan hanya angka volume

Kalau memungkinkan, bandingkan tren volume dengan indikator seperti kedalaman likuiditas, spread, dan slippage historis. Dengan begitu, kamu bisa menilai apakah volume turun karena market sepi, atau karena likuiditas tidak mendukung order besar.

2) Gunakan pendekatan multi-sinyal: harga + onchain + perilaku posisi

Volume onchain adalah satu potongan data. Untuk mengurangi risiko false signal, kombinasikan dengan:

  • Pergerakan harga (trend dan struktur market: higher high/lower low, atau range yang terbentuk).
  • Aktivitas posisi (apakah ada kenaikan pembukaan posisi baru atau justru penutupan bersih).
  • Perubahan open interest (jika tersedia) untuk melihat apakah “minat” meningkat atau menurun.
  • Reaksi terhadap level kunci (support/resistance) dengan melihat apakah rejection terjadi dengan transaksi yang cukup.

3) Tunggu konfirmasi: entry setelah ada “bukti” bukan hanya dorongan

Di pasar yang volume onchain melemah, lonjakan kecil bisa terlihat seperti breakout, padahal hanya efek tipisnya order book. Terapkan aturan konfirmasi, misalnya:

  • Breakout yang bertahan (close) di atas level, bukan sekadar wick.
  • Volume/aktivitas meningkat relatif terhadap rata-rata periode sebelumnya.
  • Tidak ada tanda cepatnya reversal (misalnya rejection kuat dalam timeframe lebih rendah).

4) Sesuaikan manajemen risiko: ukuran posisi lebih kecil, stop lebih cerdas

Ketika likuiditas menipis, kamu perlu mengubah parameter risiko. Praktik yang bisa kamu lakukan:

  • Kurangi ukuran posisi agar slippage tidak menghapus edge strategi.
  • Perlebar stop secara logis berdasarkan volatilitas aktual, bukan angka standar.
  • Gunakan take profit bertahap (misalnya partial close) untuk mengurangi risiko “terlewat” saat market bergerak cepat.

Karena volume onchain perpetual DEX melemah selama lima bulan, strategi yang biasanya paling tahan adalah yang menekankan disiplin dan adaptasi. Kamu bisa mempertimbangkan pendekatan berikut:

  • Range trading selektif: jika market cenderung bergerak dalam channel, fokus pada buy near support dan sell near resistance dengan konfirmasi.
  • Trend trading konservatif: hanya ikut trend setelah ada bukti struktur (higher high/higher low atau breakdown valid) dan tanda partisipasi onchain membaik.
  • Event-driven intraday: jika ada katalis tertentu, tunggu reaksi onchain yang menunjukkan aktivitas nyata, bukan hanya pergerakan harga.
  • Kurangi overtrading: volume turun sering berarti lebih sedikit peluang “bersih”. Lebih baik sedikit trade yang berkualitas daripada sering masuk tanpa edge.

Intinya, saat volume onchain perpetual DEX menurun, kamu tidak sedang “ketinggalan kereta”kamu sedang berada di fase market yang menuntut ketelitian ekstra.

Edge strategi kamu akan lebih terlihat ketika kamu bisa membaca kualitas setup, bukan sekadar mengejar pergerakan.

Tren lima bulan berturut-turut sejak puncak Oktober 2025 menunjukkan bahwa partisipasi di perpetual DEX onchain sedang mengalami fase konsolidasi.

Namun, penurunan volume juga bisa menjadi bahan bakar untuk fase berikutnya: ketika likuiditas mulai tertata dan katalis muncul, potensi rebound bisa terjadimeskipun biasanya tidak instan.

Untuk kamu yang trading, langkah paling aman adalah tetap berbasis data: pantau volume onchain, tapi jangan berhenti di sana. Lihat dampaknya pada likuiditas, slippage, open interest (jika tersedia), serta reaksi market terhadap level penting.

Dengan begitu, kamu bisa menyesuaikan strategi lebih cepat daripada market berubah.

Kalau kamu ingin lebih siap, jadikan kondisi ini sebagai latihan membaca pasar: saat volume melemah, disiplin manajemen risiko dan konfirmasi sinyal menjadi pembeda antara “terlihat benar” di chart dan benar-benar menguntungkan di eksekusi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0