Bisakah Ilmuwan Menghidupkan Kembali Burung Dodo dengan Teknologi Modern

Oleh VOXBLICK

Selasa, 02 Juni 2026 - 18.30 WIB
Bisakah Ilmuwan Menghidupkan Kembali Burung Dodo dengan Teknologi Modern
Teknologi kebangkitan burung dodo (Foto oleh Pavel Danilyuk)

VOXBLICK.COM - Burung dodo, ikon kepunahan akibat ulah manusia, telah lama menjadi simbol betapa rapuhnya keanekaragaman hayati di muka bumi. Namun, dengan munculnya teknologi rekayasa genetika dan biologi sintetis, pertanyaan yang dulu hanya bahan diskusi ilmuwan kini menjadi perdebatan hangat: bisakah ilmuwan menghidupkan kembali burung dodo dengan teknologi modern? Artikel ini akan membedah secara objektif bagaimana teknologi seperti CRISPR, kloning, dan pengeditan genom bekerja, kendala yang dihadapi, sampai pada perdebatan etis yang menyertainya.

Bagaimana Cara Kerja Teknologi “De-Extinction”?

Konsep “de-extinction” atau membangkitkan kembali spesies yang telah punah terdengar seperti plot film fiksi ilmiah. Namun, beberapa terobosan teknologi telah memungkinkan ilmuwan mendekati kemungkinan ini.

Dua pendekatan utama yang tengah dikembangkan adalah:

  • Pengeditan Genom: Teknologi seperti CRISPR-Cas9 memungkinkan ilmuwan memotong dan mengganti bagian DNA secara presisi. Proses ini dapat digunakan untuk memasukkan gen burung dodo ke dalam DNA kerabat terdekatnya, yakni burung merpati Nicobar.
  • Kloning: Dengan teknik kloning, DNA yang berhasil direkonstruksi dari spesimen dodo yang diawetkan disuntikkan ke sel telur burung sejenis yang telah dihilangkan intinya, untuk kemudian ditanamkan kembali ke induk pengganti.

Prosesnya sangat kompleks dan penuh tantangan, terutama mengingat DNA dodo yang tersisa sudah sangat rusak setelah lebih dari tiga abad punah.

Bisakah Ilmuwan Menghidupkan Kembali Burung Dodo dengan Teknologi Modern
Bisakah Ilmuwan Menghidupkan Kembali Burung Dodo dengan Teknologi Modern (Foto oleh Kindel Media)

Tantangan Praktis Rekayasa Genetika Dodo

Sekilas, menghidupkan kembali burung dodo tampak seperti sekadar “copy-paste” DNA. Kenyataannya, ada beberapa hambatan besar:

  • Kualitas DNA: Sampel DNA dodo yang ada sangat fragmentaris dan telah terkontaminasi. Membaca dan merangkai ulang genom utuh menjadi tantangan tersendiri.
  • Kerabat Dekat: Karena tidak ada induk dodo, ilmuwan harus memilih burung hidup yang paling mirip (misal, merpati Nicobar) sebagai “pengganti”, yang belum tentu kompatibel secara biologis.
  • Proses Embriologi: Membesarkan embrio hasil rekayasa di dalam telur burung lain belum pernah berhasil untuk spesies burung yang sudah punah, berbeda dengan mamalia seperti domba Dolly yang pernah dikloning.

Hingga saat ini, perusahaan bioteknologi seperti Colossal Biosciences di Amerika Serikat tengah meneliti kemungkinan membangkitkan dodo, dengan target awal merekonstruksi genom lengkap sebelum percobaan hibridisasi dilakukan.

Pro dan Kontra: Apakah Dodo Benar-Benar Perlu Dihidupkan Kembali?

Di luar tantangan sains, upaya menghidupkan dodo memicu perdebatan etis dan ekologis. Berikut dua sisi argumen yang paling sering muncul:

  • Pendukung: Menghidupkan dodo bisa memperbaiki ekosistem Mauritius yang kehilangan peran dodo, sekaligus menjadi simbol kemajuan teknologi dan penebusan dosa manusia terhadap spesies yang dimusnahkan. Selain itu, riset ini bisa membantu konservasi spesies langka lain dengan teknologi serupa.
  • Penentang: Ada kekhawatiran bahwa membawa kembali dodo akan mengalihkan perhatian dan dana dari upaya pelestarian spesies yang masih hidup. Selain itu, ekosistem saat ini sudah sangat berubah dodo mungkin tidak akan memiliki tempat yang layak atau bahkan bisa menjadi spesies invasif baru.

Tak kalah penting, ada pula pertanyaan moral: apakah manusia berhak “bermain Tuhan” dengan membangkitkan makhluk yang telah punah ratusan tahun lalu?

Bagaimana Potensi Dunia Nyata dari Teknologi Ini?

Sampai 2024, belum ada satu pun burung dodo hasil rekayasa yang berhasil menetas di laboratorium. Namun, proyek de-extinction telah memberikan efek domino pada pengembangan teknologi genom, pengawetan spesies, dan pemahaman evolusi burung.

Beberapa teknologi kunci yang lahir dari riset ini, antara lain:

  • DNA sequencing ultra-presisi: Membaca dan merakit genom dari DNA fosil makin cepat dan murah.
  • Sistem pengeditan gen otomatis: AI membantu menemukan bagian DNA yang perlu diedit untuk menghasilkan sifat spesifik.
  • Penyimpanan biobank: Sampel genetik spesies langka kini bisa disimpan untuk masa depan, mengantisipasi kepunahan mendadak.

Teknologi ini telah terbukti bermanfaat untuk mengamankan keragaman hayati dan menjadi dasar pengembangan vaksin, obat, hingga pangan masa depan.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Upaya Menghidupkan Kembali Dodo?

Walau kemungkinan melihat dodo berkeliaran di hutan Mauritius dalam waktu dekat masih sangat kecil, riset rekayasa genetika yang dilakukan membawa manfaat nyata pada dunia sains dan konservasi.

Teknologi yang dikembangkan untuk membangkitkan spesies punah telah mempercepat pemetaan DNA, memperkuat upaya pelestarian spesies langka, dan memperkaya perdebatan etika terkait peran manusia dalam menjaga (atau mengubah) alam.

Apakah dodo bisa benar-benar dihidupkan kembali? Dengan kemajuan teknologi modern, peluang itu kian mendekati nyatameski dengan jalan panjang dan banyak pertanyaan filosofis yang masih harus dijawab.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0