Kisah Menyeramkan di Kapal Selam Wisata yang Tak Pernah Sepi
VOXBLICK.COM - Nama saya Bima, dan pekerjaan saya adalah membersihkan kabin kapal selam wisata. Terdengar biasa, bukan? Seperti pekerjaan pembersih lainnya, hanya saja kantor saya berada ratusan meter di bawah permukaan laut. Setiap malam, setelah rombongan terakhir turis bergegas naik dan kapal selam kembali ke dermaga, tugas saya dimulai. Saya membersihkan sisa-sisa remah makanan, mengelap sidik jari di jendela akrilik tebal, dan memastikan semuanya siap untuk petualangan bawah laut esok hari. Kapal selam ini, dengan segala kemewahannya, adalah daya tarik utama bagi para pencari sensasi yang ingin merasakan tur bawah laut yang tak terlupakan. Namun, bagi saya, kapal ini menyimpan lebih dari sekadar pemandangan karang dan ikan-ikan eksotis.
Awalnya, saya menyukai kesunyian. Kedalaman laut memiliki caranya sendiri untuk mematikan semua suara dari dunia atas.
Di dalam lambung baja ini, yang ada hanyalah desiran halus sistem pendukung kehidupan dan terkadang, suara retakan kecil dari tekanan air yang luar biasa. Saya terbiasa dengan kegelapan pekat di luar jendela saat kapal selam berlabuh di dasar dermaga, menunggu giliran untuk naik ke permukaan saat fajar menyingsing. Namun, seiring waktu, kesunyian itu mulai terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah perasaan mengganggu bahwa saya tidak sendirian di dalam kapal selam wisata yang seharusnya kosong ini. Perasaan ini adalah awal dari sebuah kisah menyeramkan yang tak pernah saya sangka.
Malam-malam mulai terasa lebih panjang. Saya mulai melihat bayangan bergerak di sudut mata, atau mendengar bisikan samar yang seolah terbawa arus laut. Tentu saja, saya mencoba merasionalisasikannya.
Kelelahan, imajinasi yang terlalu liar, atau mungkin hanya suara air yang bermain-main di lambung kapal. Tapi kemudian, hal-hal kecil mulai terjadi. Pintu kabin yang saya yakin sudah tertutup rapat, terbuka sedikit. Sebuah pena yang saya letakkan di meja kontrol tiba-tiba berpindah ke kursi penumpang. Tidak ada angin, tidak ada getaran, hanya keheningan yang mencekam.
Senyap yang Menggoda Arwah
Saya ingat suatu malam ketika sedang menyapu lorong utama. Sebuah bola lampu di salah satu kabin mati secara tiba-tiba. Saya menghela napas, berpikir itu hanya masalah listrik biasa.
Namun, saat saya melangkah untuk memeriksanya, lampu itu menyala lagi dengan sendirinya, berkedip-kedip lemah seolah sedang bernapas. Jantung saya berdebar kencang. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kerusakan sirkuit, tapi ada sensasi dingin yang merayapi punggung saya. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan, menikmati reaksi saya. Sensasi teror di kedalaman laut mulai merasuki pikiran saya.
Beberapa hari kemudian, saat saya sedang membersihkan jendela penglihatan utama, saya melihat sesuatu yang membuat darah saya membeku. Di pantulan kaca, di belakang saya, sekelebat bayangan hitam melintas di lorong.
Saya berbalik dengan cepat, tapi tidak ada apa-apa. Hanya deretan kursi kosong yang memantulkan cahaya redup dari lampu darurat. Saya memeriksa seluruh kapal, dari ruang mesin hingga kabin kapten. Kosong. Benar-benar kosong. Tapi saya bersumpah, saya melihatnya. Sebuah penampakan yang membuat bulu kuduk saya merinding, meyakinkan saya bahwa kapal selam wisata ini tak pernah sepi.
Bisikan dari Kegelapan Abadi
Malam-malam berikutnya menjadi semakin sulit. Tidur di rumah pun tidak lagi nyenyak. Saya terus mendengar bisikan-bisikan itu, lebih jelas sekarang. Mereka terdengar seperti gumaman banyak orang, tawa lirih, atau bahkan tangisan yang tertahan.
Suara-suara itu seolah datang dari balik dinding baja, dari kedalaman laut yang tak berujung, atau mungkin, dari dalam kapal itu sendiri. Saya mulai merasa paranoid. Setiap kali saya menoleh, saya berharap menemukan seseorang di sana, meskipun saya tahu itu tidak mungkin. Kengerian yang tak bisa dijelaskan ini mulai menggerogoti kewarasan saya.
Suatu malam, saya sedang membereskan kabin VIP, tempat yang paling sering digunakan para turis. Di atas meja, saya menemukan sebuah mainan kecil, sebuah patung lumba-lumba dari kayu. Mainan itu bukan bagian dari inventaris kapal.
Tidak ada turis yang pernah membawa mainan seperti itu, setidaknya setahu saya. Saya memungutnya, dan saat jari saya menyentuhnya, saya merasakan dingin yang menusuk, seolah mainan itu baru saja keluar dari air es. Lalu, dari sudut ruangan, saya mendengar suara. Bukan bisikan, tapi suara napas. Berat, teratur, seperti seseorang yang sedang tidur pulas. Saya menjatuhkan mainan itu, jantung saya melonjak ke tenggorokan. Saya berlari keluar dari kabin itu secepat mungkin, tanpa berani menoleh ke belakang.
Penghuni Tak Terlihat Kapal Selam
Saya mencoba berbicara dengan rekan kerja saya tentang hal ini, tapi mereka hanya tertawa dan mengatakan saya terlalu banyak bekerja. "Itu hanya kapal tua, Bima," kata mereka. "Suara-suara itu normal." Tapi saya tahu itu tidak normal.
Saya tahu ada sesuatu yang lain di sini, sesuatu yang bukan bagian dari baja dan mesin. Kapal selam ini, yang setiap hari membawa ratusan orang untuk tur bawah laut yang menyenangkan, memiliki penghuni lain. Penghuni yang tak terlihat, tak terjamah, namun sangat nyata.
Malam terakhir saya di sana adalah puncaknya. Saya sedang menyelesaikan pekerjaan rutin, membersihkan kabin terakhir di bagian belakang. Tiba-tiba, lampu padam.
Seluruh kapal selam menjadi gelap gulita, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu darurat yang otomatis menyala. Saya meraba-raba untuk mencari senter, tapi tangan saya gemetar. Lalu, saya mendengar suara. Kali ini, bukan bisikan. Bukan napas. Tapi sebuah lagu. Sebuah lagu pengantar tidur yang dinyanyikan dengan suara serak, melengking, dan sangat dekat. Itu datang dari kabin di sebelah saya, kabin yang baru saja saya bersihkan, kabin yang seharusnya kosong.
Saya membeku, tidak bisa bergerak. Lagu itu terus berlanjut, semakin keras, semakin menyeramkan. Seolah-olah penyanyinya bergerak mendekat ke pintu. Saya bisa merasakan aura dingin yang merambat di bawah pintu. Kemudian, lagu itu berhenti. Hening.
Saya menahan napas, berharap itu sudah berakhir. Tapi tidak. Sebuah jari yang dingin dan lembab menyentuh punggung tangan saya. Saya berteriak, berbalik, dan yang saya lihat hanyalah kegelapan pekat di lorong. Namun, saya merasakan sesuatu. Sebuah cengkeraman. Cengkeraman yang kuat, menarik saya ke dalam kegelapan itu, ke dalam bisikan-bisikan yang tak pernah berhenti, ke dalam kengerian yang tak akan pernah bisa saya jelaskan. Dan di tengah kegelapan yang menelan saya, saya mendengar suara itu lagi, tepat di telinga saya, berbisik, "Kau tidak akan pernah pergi dari sini. Kapal ini tak pernah sepi."
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0