Pengakuan Peneliti Legenda, Wawancara Terlarang yang Mengubah Hidupku

Oleh VOXBLICK

Minggu, 18 Januari 2026 - 04.00 WIB
Pengakuan Peneliti Legenda, Wawancara Terlarang yang Mengubah Hidupku
Wawancara peneliti legenda (Foto oleh Ekaterina Belinskaya)

VOXBLICK.COM - Suara detik jam di ruang kerjaku malam itu terasa lebih nyaring daripada biasa. Tumpukan buku legenda rakyat memenuhi meja, bercampur dengan catatan dan rekaman tua hasil penelitianku selama bertahun-tahun. Tapi malam itu, aku tidak sedang meneliti materi baru. Aku hanya menunggu, menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar aku mengertiatau mungkin, sesuatu.

Namaku Arta. Delapan tahun aku mengabdikan diri sebagai peneliti legenda rakyat, memburu cerita-cerita tua yang hampir dilupakan orang. Tapi satu wawancara, satu malam di sebuah desa terpencil, telah menuliskan akhir bagi karierku.

Bukan karena kurang bukti, bukan pula karena kehilangan minat. Melainkan karena ketakutan yang tak pernah mau pergi dari benakkudan kini, aku akan membaginya padamu.

Pengakuan Peneliti Legenda, Wawancara Terlarang yang Mengubah Hidupku
Pengakuan Peneliti Legenda, Wawancara Terlarang yang Mengubah Hidupku (Foto oleh cottonbro studio)

Desa di Balik Kabut

Malam itu, aku tiba di sebuah desa yang tak tercantum di peta. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, menelan setiap suara kecuali derap langkahku sendiri.

Penduduk desa menatapku dengan tatapan kosong, seakan mereka tahu sesuatu yang seharusnya tak kuketahui. Aku mendekati rumah kayu tua di pinggir hutan, tempat seorang nenek dikabarkan menyimpan kisah paling kelam dari legenda setempat.

Pintu berderit saat aku mengetuknya. Nenek itu menyambutku dengan tatapan tajam, matanya keriput tapi penuh nyala aneh. Kami duduk di ruang tamu yang remang, hanya ditemani lampu minyak yang berkelap-kelip seperti nyawa yang hendak padam.

Tangannya bergetar saat ia mulai berbicara, dan aku merekam setiap kata dengan hati-hati.

Wawancara Terlarang

  • Suara nenek berubah menjadi bisikan serak, seiring malam makin larut.
  • Ia menceritakan tentang sosok tanpa wajah yang berkeliaran setiap malam purnama, mencari suara manusia untuk dicuri.
  • Setiap detail, setiap deskripsi, terasa terlalu nyataseolah dia tak hanya mengingat, tapi juga mengalami langsung.

Keringat dingin membasahi tengkukku ketika tiba-tiba nenek itu berhenti. Ia menatapku, lalu berkata, "Jangan pernah ulangi kisah ini di luar desa kami. Apa yang kau rekam malam ini, biarkan terkubur di sini."

Seketika, lampu minyak padam. Dalam gelap, aku mendengar suara napas beratbukan dari nenek, bukan pula dari diriku sendiri. Udara terasa sesak, dan aku merasakan sesuatu menggeser di belakangku.

Aku membeku, tak mampu bergerak meski seluruh tubuh memaksaku untuk lari.

Rahasia yang Tak Boleh Diungkap

Aku akhirnya keluar dari rumah itu sebelum fajar, tubuhku gemetar dan rekaman wawancara masih tergenggam erat. Aku mencoba memutar rekaman itu saat kembali ke penginapan.

Namun, yang kudengar hanyalah suara-suara aneh: bisikan, erangan, dan suara tangisan tanpa jeda. Tak ada suara nenek, tak ada cerita. Hanya kekosongan yang semakin menjerat pikiranku.

  • Malam-malam berikutnya, aku selalu terbangun karena mimpi burukwajah-wajah tanpa bentuk menatapku dari balik jendela.
  • Catatan penelitian tentang desa itu lenyap begitu saja. Semua jejak yang kubawa pulang seolah menguap tanpa bekas.
  • Penduduk desa menolak menjawab teleponku. Nama desa itu bahkan menghilang dari arsip-arsip digital dan peta daring.

Tanda yang Tak Pernah Hilang

Sejak malam itu, aku berhenti meneliti legenda rakyat. Setiap kali aku mencoba menulis atau menceritakan kembali kisah tersebut, tanganku membeku, dan suara-suara bisikan itu kembali.

Kadang, saat sendirian di malam hari, aku merasa ada sesuatu yang mengintai di sudut matakusesuatu yang menunggu aku melanggar janji pada nenek tua di desa itu.

Orang-orang bilang aku gila, atau terlalu larut dalam pekerjaanku. Tapi aku tahu, ada batas yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun, bahkan oleh peneliti sepertiku.

Sekarang, saat aku menulis ini, suara bisikan itu kembali terdengar di telingaku. Aku yakin, setelah kau membaca pengakuanku, kau juga akan mendengarnya. Entah apa yang akan terjadi jika seseorang memutuskan untuk mencari desa itu sekali lagi.

Mungkin kau akan mengetahuinya... jika malam ini, suara napas berat itu menghampirimu juga.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0