Malam Mencekam di Panti Jompo Aku Dikejar Sosok Tak Kasat Mata
VOXBLICK.COM - Langit malam itu tampak lebih gelap dari biasanya, seolah awan-awan tebal sengaja menutupi rembulan agar tak ada cahaya yang bisa menembus ke halaman panti jompo tempatku bekerja. Aku, Sinta, baru dua minggu menjadi perawat di sana. Malam itu adalah malam pertamaku berjaga sendirian di bangsal utara, tempat para penghuni panti yang paling tua dan paling pendiam bermukim. Ada rasa tidak tenang sejak aku menginjakkan kaki di lorong tua itu, seolah-olah udara sendiri menolak kehadiranku.
Jam dinding berdetak pelan, menambah sunyi yang mencekam. Aku berusaha menenangkan diri dengan melakukan pengecekan rutin ke setiap kamar. Namun, setiap langkah terasa berat, dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Lantai kayu tua berderit di bawah sepatuku, suara lirih yang seolah menjadi pertanda sesuatu yang tak kasat mata sedang mengawasi setiap gerakku.
Bayangan Pertama di Koridor Sunyi
Semua berjalan biasa sampai aku mendengar suara bisikan lirih dari kamar nomor tujuh, kamar Bu Lastri yang dikenal jarang berbicara. Ketika aku membuka pintu, ruangan itu kosong.
Bu Lastri tertidur pulas, namun aku merasa seperti ada seseorang berdiri di pojok ruangan, menatapku dari balik kegelapan. Aku menahan napas, bulu kudukku meremang. Perlahan, aku mundur keluar, menutup pintu tanpa suara.
Lorong tampak lebih panjang dan gelap. Tiba-tiba, lampu di ujung lorong berkedip dan mati. Dalam keremangan, aku melihat siluet hitam melintas cepat. Aku membeku. Nafasku tercekat.
Seolah ada sesuatu yang menungguku di ujung lorong itu, sesuatu yang tidak ingin kutemui.
Kejaran Tak Kasat Mata
Aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan tugas, tapi setiap langkah terasa seperti menantang maut. Tiba-tiba, suara langkah kaki mengikuti di belakangku. Aku menoleh, namun lorong kosong. Jantungku berdetak semakin kencang.
Aku mempercepat langkah, suara langkah itu ikut mempercepat. Aku menoleh lagi, kali ini aku melihat sekelebat bayangan hitam berlari lurus ke arahku. Aku menjerit, berlari menyusuri lorong, mencoba membuka pintu ruang staf, namun pintu itu terkunci rapat.
- Suara bisikan semakin keras, seperti ada puluhan orang berbicara di telingaku.
- Bayangan hitam itu kini berdiri di ujung lorong, menatapku tanpa wajah.
- Hawa dingin menusuk hingga ke tulang, lampu-lampu padam satu per satu.
Peluh dingin membasahi keningku. Aku merapatkan badan ke dinding, berharap bayangan itu pergi. Namun, sosok hitam itu perlahan mendekat. Langkahnya pelan, namun pasti.
Setiap kali aku berkedip, ia semakin dekat, hingga akhirnya aku bisa merasakan napas dinginnya di leherku.
Teror di Balik Jendela
Dari kaca jendela di samping lorong, aku melihat pantulan sosok itu berdiri tepat di belakangku. Aku menjerit sekencang-kencangnya, namun suara itu seperti tercekik di tenggorokan. Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi sangat sunyi.
Tidak ada suara, tidak ada bayangan, hanya gelap dan dingin yang menyelimuti. Aku menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di lantai lorong. Pintu ruang staf kini terbuka, namun di dalamnya, kulihat sebuah kursi goyang perlahan berayun sendiri.
Di atas kursi itu, sebuah boneka tua menatapku dengan mata kosong, bibirnya membentuk senyum tipis. Aku mendekat, ingin memastikan, namun saat itulah aku mendengar suara bisikan di telingaku, "Kau selanjutnya."
Lampu menyala tiba-tiba. Lorong kembali sunyi seperti semula. Tidak ada sosok, tidak ada boneka. Hanya aku dan detak jantung yang masih berdebar kencang.
Namun, sejak malam itu, setiap aku melintasi lorong utara, aku selalu merasa ada yang mengikutiku dari balik kegelapan. Dan kadang, di malam-malam tertentu, aku masih bisa mendengar suara kursi goyang yang berderit perlahan, ditemani bisikan, "Kau selanjutnya..."
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0