Undangan Pernikahan yang Berujung Mimpi Buruk Tak Terlupakan
VOXBLICK.COM - Malam itu, bulan menggantung pucat di langit, menambah keanehan pada suasana yang sudah sejak awal terasa ganjil. Aku mengamati undangan pernikahan yang tergeletak di meja makan, tulisan tinta emasnya berkilau di bawah cahaya lampu. Nama keluarga besar kami tercetak jelas di sana, namun entah mengapa, aku tidak benar-benar mengenali nama mempelai perempuan. Ibu bilang, dia adalah sepupu jauh yang baru kembali dari luar negeri. Rasa penasaran bercampur dengan firasat aneh mengiringi langkahku menuju rumah tua tempat hajatan digelar.
Rumah itu berdiri angkuh di pinggir kota, dikelilingi pepohonan tua dan halaman yang tampak tak terurus. Setiap jendela ditutup rapat, hanya lampu-lampu temaram yang berpendar dari balik tirai tebal.
Tamu-tamu berdatangan, sebagian besar wajah-wajah asing. Ketika aku melangkah masuk, aroma bunga melati bercampur dupa menyesakkan hidung, seperti upacara pemanggilan arwah, bukan pesta pernikahan.
Suasana Mencekam di Balik Tirai Pernikahan
Acara dimulai dengan prosesi yang terlalu sunyi untuk ukuran keluarga kami yang biasanya riuh. Setiap langkahku terasa berat, seolah lantai kayu di bawah kakiku berbisik, menahan laju waktu.
Aku berdiri di antara tamu, menatap pelaminan yang dihiasi kain putih lusuh dan lilin-lilin kecil. Di sana, sang mempelai pria berdiri sendiri, wajahnya pucat seperti kapur.
Kursi di sebelahnya kosong. Musik gamelan mengalun lirih, lalu tiba-tiba berhenti. Semua mata menoleh ke arah pintu utama. Dari lorong gelap, mempelai perempuan muncul. Gaunnya panjang menyeret lantai, dan rambut hitamnya menutupi sebagian wajah.
Dia berjalan lambat, hampir seperti melayang. Setiap langkahnya membuatku menggigil. Entah mengapa, aku merasa seperti pernah melihat wajah itu, tapi kenangan itu terkubur dalam bayangan masa kecil yang ingin kulupakan.
Rahasia Keluarga yang Terkuak di Tengah Malam
Ketika acara makan malam dimulai, aku duduk bersama beberapa sepupu, mencoba mengusir kegelisahan dengan obrolan ringan. Namun, bisik-bisik aneh mulai terdengar, membicarakan peristiwa lama yang tak pernah diungkap.
Salah satu bibi tua menatapku dengan mata berkaca-kaca, berbisik, "Jangan sampai kau menginap malam ini, Nak."
Aku menelan ludah. Di luar, angin mulai bertiup kencang, membuat jendela bergetar. Tiba-tiba, lampu-lampu padam serempak. Dalam kegelapan, suara isak tangis menggema, diikuti tawa cekikikan yang memecah keheningan.
Seseorang berlari panik, menghantam kursi dan meja. Saat lampu kembali menyala redup, aku melihat satu kursi kosongkursi di meja utama, tempat mempelai perempuan tadi duduk.
- Tamu yang duduk di dekat pelaminan mendadak pingsan.
- Lilin-lilin di pelaminan padam sendiri, meski tak ada angin.
- Foto keluarga di dinding berubah warna, wajah-wajah di dalamnya memudar satu per satu.
Malam Teror dan Bayangan Tak Terlupakan
Ketika waktu menunjukkan tengah malam, tamu-tamu mulai pamit. Aku mencari Ibu, tapi dia menghilang entah ke mana. Suara langkah kaki bergema di lorong atas. Aku memberanikan diri naik ke lantai dua, melewati deretan kamar tua yang pintunya menganga.
Dari salah satu kamar terdengar suara yang familiartangisan lirih Ibu. Aku mendorong pintu pelan, dan di sanalah dia, duduk membelakangi jendela, berbisik, "Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa pulang."
Tiba-tiba, sosok mempelai perempuan berdiri di belakangnya, menatapku dengan mata kosong. Wajahnya kini jelasitu adalah sepupu yang dikabarkan meninggal tenggelam di sumur belakang rumah ini dua puluh tahun lalu.
Tangannya yang pucat menunjuk padaku, bibirnya bergerak tanpa suara. Seketika, udara di ruangan membeku, dan aku merasa tanah di bawah kakiku lenyap. Suara-suara di bawah berubah menjadi jeritan, lalu semuanya gelap.
Jejak Mimpi Buruk yang Tak Pernah Usai
Ketika aku terbangun, fajar sudah menyingsing. Rumah itu kosong, tak ada tanda-tanda pesta semalam. Aku berjalan terpincang ke luar, mencoba mencari jejak tamu atau keluargaku.
Tapi halaman itu hanya menyisakan jejak kaki samar dan undangan pernikahan yang kini lusuh di genggamanku. Aku menatapnya, nama mempelai perempuan sudah menghilang, menyisakan noda hitam basah yang merembes ke kertas.
Sejak malam itu, setiap aku menutup mata, wajahnya selalu datangmembisikkan janji bahwa undangan pernikahan keluarga kami belum benar-benar berakhir.
Dan di kejauhan, suara lonceng pernikahan masih terus berdentang, memanggil siapa saja yang berani datang.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0