Misteri Jendela Ketiga Belas yang Tak Pernah Boleh Dibuka

Oleh VOXBLICK

Senin, 17 November 2025 - 01.20 WIB
Misteri Jendela Ketiga Belas yang Tak Pernah Boleh Dibuka
Jendela Ketiga Belas Misterius (Foto oleh Karola G)

VOXBLICK.COM - Rumah tua di ujung Jalan Mawar itu selalu tampak sunyi dan menakutkan, bahkan di siang hari ketika matahari bersinar terik. Tidak ada satu pun anak-anak yang berani bermain di halamannya, meski pohon mangga tuanya sesekali menjatuhkan buah ranum ke tanah. Aku, sejak kecil, selalu penasaran dengan rumah ituterutama dengan satu hal yang kerap menjadi bahan bisik-bisik warga: jendela ketiga belas di lantai dua, yang konon tak pernah boleh dibuka.

Sore itu, hujan turun deras dan aku terjebak di beranda rumah nenek yang letaknya persis berseberangan dengan rumah tua itu. Aku memperhatikan satu per satu jendela rumah tersebut, menghitungnya dalam hati.

Jendela ketiga belas tampak berbeda: cat putihnya lebih pudar, dan gorden tebal di baliknya selalu tertutup rapat. Ada sesuatu yang mengusik perasaanku, membuat bulu kudukku berdiri tanpa sebab.

Misteri Jendela Ketiga Belas yang Tak Pernah Boleh Dibuka
Misteri Jendela Ketiga Belas yang Tak Pernah Boleh Dibuka (Foto oleh Rene Terp)

Desas-Desus Tentang Jendela Terlarang

Malam harinya, aku memberanikan diri bertanya pada nenek tentang jendela itu. Matanya seketika meredup, tangan tuanya menggenggam erat cangkir teh di depannya.

  • “Jangan pernah mendekati rumah itu, apalagi jendela ketiga belasnya,” bisik nenek, nyaris tanpa suara.
  • “Kenapa, Nek?” tanyaku, berusaha terdengar santai, padahal jantungku berdegup keras.
  • “Ada sesuatu di balik jendela itu. Sesuatu yang tidak boleh dibangunkan.”

Kata-kata nenek menggantung di udara, membuat malam terasa semakin panjang dan mencekam. Aku tahu, malam ini aku tak akan bisa tidur nyenyak.

Langkah Pertama Menuju Misteri

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Dua hari kemudian, aku mengendap-endap mendekati rumah tua itu. Pintu depannya terkunci, tapi pagar kayunya sudah lapuk, mudah sekali kulewati.

Lantai kayu rumah berderit pelan di bawah kakiku, seolah mengadukan keberadaanku pada sesuatu yang tak kasatmata.

Di lorong gelap, hanya suara detak jam tua dan desiran angin malam yang menemani. Aku menahan napas, menapaki tangga menuju lantai dua. Aku bisa merasakan hawa dingin menusuk tulang seiring langkahku semakin dekat ke jendela ketiga belas itu.

Pertanda dari Balik Kaca

Aku berdiri di depan jendela yang terlarang itu. Gorden lusuhnya bergerak pelan, seperti menyambut kehadiranku. Dengan tangan gemetar, aku mengangkat gorden itu sedikitdan seketika, aroma anyir memenuhi ruangan.

Di balik kaca buram, samar-samar kulihat bayangan wajah pucat menatapku balik, matanya kosong tanpa cahaya.

  • Bayangan itu tidak bergerak, tapi aku merasa ia memperhatikanku, menanti sesuatu.
  • Udara di sekitarku mendadak berat, membuatku sulit bernapas.
  • Tiba-tiba, jari-jari kurus dan dingin menyentuh pundakku dari belakang.

Refleks, aku berbalik. Tak ada siapa-siapa di sana. Tapi suara bisikan lirih terdengar jelas di telingaku, “Jangan buka. Jangan pernah buka…”

Malam yang Tak Pernah Sama

Dengan seluruh tenaga, aku berlari keluar dari rumah tua itu. Namun sejak malam itu, semua menjadi berbeda. Setiap kali aku melewati rumah di ujung jalan itu, jendela ketiga belas selalu terbuka sedikitpadahal sebelumnya selalu tertutup rapat.

Dari celah itu, aku kadang melihat siluet sosok bergaun putih, berdiri diam menatapku, seolah menungguku kembali.

Orang-orang di kampung mulai membicarakan suara-suara aneh dari dalam rumah tua itu. Bahkan nenekku kini selalu menutup tirai jendela setiap senja datang. Aku sendiri, sampai saat ini, masih sering merasa ada yang mengawasiku dari kejauhan.

Setiap malam, suara bisikan itu kembali mengisi mimpiku, memanggil-manggil namaku dengan nada lirih yang menusuk hingga ke tulang.

Dan pada suatu malam, ketika aku terbangun karena suara ketukan pelan di jendela kamarku, aku tahu aku tidak sendirian lagi.

Di luar, bayangan putih itu berdiri di bawah cahaya bulan, menatap ke arahku, menempelkan jemarinya ke kaca, mengisyaratkan… “Buka…”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0