Kisah Misteri Gallowgrin Teman Masa Kecilku Kembali Menghantui
VOXBLICK.COM - Malam itu, hujan turun deras, mengetuk-ngetuk jendela kamarku seperti jemari-jemari asing yang tak sabar ingin masuk. Bau tanah basah bercampur dengan aroma lembab dari kayu tua di rumah nenekku. Aku pulang ke desa setelah sekian lama, berharap menemukan kedamaian di tengah kenangan masa kecil. Tapi yang kudapat justru kehadiran kembali sesuatu yang telah lama kulupakanGallowgrin, teman masa kecilku yang kini berubah menjadi mimpi buruk terbesarku.
Pertemuan yang Tak Terduga
Aku mengira semua itu hanyalah khayalan bocah belaka. Nama Gallowgrin hanya muncul dalam bisikan saat api unggun dan cerita sebelum tidur. Tapi malam itu, ketika aku menyalakan lampu minyak di sudut kamar, bayangan aneh melintas di dinding.
Seolah-olah ada yang berdiri di balik pintu. Aku membeku, napasku memburu. Lalu, suara lirih, serak, memanggil namaku dari balik kegelapan:
- "Kai... kau masih ingat aku?"
- Getaran suaranya membuat bulu kudukku meremang.
Kulangkahkan kaki dengan ragu, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya suara angin. Tapi pintu kamar berderit pelan, seperti didorong dari luar. Aku menahan napas, mataku menatap celah gelap di antara kusen yang kusam.
Di sanalah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat sosoknya lagiGallowgrin, dengan senyum yang tak pernah berubah, lebar, terlalu lebar untuk wajah manusia.
Jejak Masa Lalu yang Membayangi
Sejak malam itu, kehadiran Gallowgrin semakin nyata. Aku mulai menemukan bekas tapak kaki kecil berlumpur di lantai kayu, padahal aku tinggal sendiri. Cermin di kamar mandi berembun, dan di sana, samar-samar, tertulis namaku dengan jari-jari basah.
Setiap malam, suara langkah kaki berlari-lari di loteng membuat tidurku tak pernah lelap.
Aku ingat dulu, kami bermain petak umpet di hutan belakang rumah nenek. Gallowgrin selalu yang paling jago bersembunyi. Tapi pada suatu sore, ia menghilang begitu saja. Semua orang mengira ia hanya imajinasiku.
Tapi kenangan itu terlalu nyatatawa cekikikan, tangan kecil yang menarikku masuk ke semak, dan bisikan rahasia di telingaku. "Jangan pernah tinggalkan aku sendirian di sini."
Malam yang Tak Pernah Usai
Beberapa hari berlalu, teror Gallowgrin makin menjadi-jadi. Setiap sudut rumah terasa diawasi, seolah-olah ada mata yang mengintip dari balik bayang. Aku mencoba mengabaikan, tapi suara-suara itubisikan, tawa, isakan pelanterus menghantui.
Bahkan tetangga sebelah pun mulai bertanya, "Kai, kau bicara dengan siapa malam-malam begini?"
- Piring-piring bergerak sendiri di dapur.
- Boneka tua yang dulu milik Gallowgrin tiba-tiba muncul di meja makanku.
- Lampu kamar sering padam, digantikan oleh cahaya remang-remang dan bayangan yang menari-nari di dinding.
Puncaknya, malam keempat. Aku terbangun oleh suara pintu kamar yang terbuka perlahan. Di ambang pintu, Gallowgrin berdiri, lebih tinggi dari ingatanku, dengan mata kosong yang menatapku tanpa berkedip. "Mari bermain lagi, Kai...
Kali ini aku yang bersembunyi, dan kau yang mencari."
Permainan yang Belum Selesai
Aku berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan tergesa. Tapi setiap ruangan terasa semakin sempit, setiap lorong seperti memanjang tanpa ujung. Gallowgrin selalu ada di ujung matakusekejap di dapur, lalu di ruang tamu, kemudian di belakangku.
Nafasku berat, jantungku berdegup liar.
Saat aku hampir mencapai pintu depan, suara langkah kecil mengikutiku. "Kau tidak boleh pergi, Kai. Kau janji akan selalu jadi temanku." Suaranya kini berubah, berat dan menekan. Aku menoleh, dan untuk sesaat, waktu seakan berhenti.
Gallowgrin berdiri beberapa langkah dariku, wajahnya separuh tertutup bayang-bayang, namun senyumnya kini retak, menganga lebar, memperlihatkan deretan gigi yang tak semestinya ada pada wajah manusia.
Segalanya membeku. Aku berusaha berteriak, tapi suara itu tak pernah keluar. Gallowgrin mendekat, mengulurkan tangannya. "Sekarang giliranmu bersembunyi."
Masih Ada yang Mengintip
Pagi datang dengan sunyi yang mencekam. Rumah nenekku tampak biasa, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Tapi di cermin kamar, samar-samar, aku melihat dua sosok berdiri berdampinganaku, dan di belakangku, Gallowgrin tersenyum puas.
Dan sejak itu, setiap malam, suara bisikan itu kembali, “Kita belum selesai, Kai…”
Hingga kini, aku tak pernah tahu, siapa sebenarnya yang bersembunyi… dan siapa yang mencari.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0