Aku Mendengar Teriakan Itu Lagi Apakah Kau Juga Mendengarnya
VOXBLICK.COM - Angin malam merayap di sela-sela dinding kamar kosku yang lapuk. Waktu sudah lewat tengah malam, tapi mataku masih enggan terpejam. Sejak beberapa hari lalu, aku dihantui suarateriakan panjang, melolong, seolah seseorang tengah kehilangan segalanya. Awalnya hanya lirih, samar, seperti bisikan yang menempel di bagian terdalam benakku. Tapi malam ini, suara itu kembali. Lebih keras. Lebih nyata.
Suara yang Tak Pernah Pergi
Aku memejamkan mata, berharap itu cuma halusinasi karena lelah. Tapi suara itu semakin jelas, menggema di sudut-sudut ruangan. Teriakan itu memilin pikiranku, memaksa napasku memburu.
Aku menelungkupkan bantal di atas kepala, tapi suara itu tetap saja menembus, menusuk telinga.
Handphoneku bergetar. Pesan dari Rina, teman sekamarku, masuk: “Kamu denger suara aneh gak barusan?” Jantungku seolah diremas sesuatu yang dingin. Selama ini aku kira hanya aku yang terganggu. Tapi malam ini, Rina juga mendengarnya.
Teriakan itu bukan hanya milikku.
Malam yang Semakin Panjang
Kami berdua duduk di ranjang, saling menatap penuh kecemasan. Lampu kamar kami biarkan menyala, tapi cahaya kuningnya tak mampu mengusir rasa takut. Aku mengingat kembali beberapa detail aneh yang terjadi sebelum malam-malam mencekam ini:
- Jendela yang tiba-tiba terbuka sendiri saat angin tak berhembus.
- Bayangan samar di sudut cermin, padahal aku sendirian di kamar.
- Suara bisikan samar di tengah malam, sebelum akhirnya berubah menjadi teriakan panjang yang menusuk tulang.
Rina menarik selimut hingga ke dagu. “Teriakan itu… seperti suara perempuan, ya?” bisiknya. Aku mengangguk pelan. Kami saling berpegangan tangan, berharap suara itu akan menghilang seiring waktu.
Tapi suara itu justru semakin dekat, seakan-akan ada seseorangatau sesuatuyang berdiri tepat di luar pintu kamar kami.
Pintu yang Tak Pernah Terkunci
Pintu kamar kos kami tua dan sulit dikunci. Setiap malam, aku selalu memastikan gagangnya rapat. Tapi malam ini, entah mengapa, aku merasa ada yang salah.
Engselnya berderit pelan, lalu suara ituteriakan melengkingtiba-tiba meledak begitu dekat, membuat kami menjerit bersamaan.
Suara langkah kaki terdengar di lorong. “Siapa di luar?!” Aku berseru, berusaha terdengar tegas meski suaraku bergetar. Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang mencekam, sebelum tiba-tiba terdengar suara terisak, diikuti suara teriakan yang lebih panjang dan memilukan dari sebelumnya.
- Cat tembok mengelupas, seolah tergores kuku.
- Tirai jendela melambai tanpa angin.
- Bau anyir yang samar memenuhi ruangan.
Rina memelukku erat. “Kamu juga dengar, kan? Tolong bilang aku nggak gila…” Aku tak mampu menjawab. Aku hanya bisa menatap pintu yang perlahan bergerak, seolah-olah seseorang mendorongnya dari luar.
Mata kami terpaku pada celah kecil yang menganga, menunggu sesuatuatau seseorangmasuk ke dalam kamar.
Ketika Segalanya Menjadi Nyata
Suara teriakan itu kini terdengar dari segala arah. Aku menutup telinga, tapi suara itu tetap saja menggema di dalam kepala dan ruangan. Rina mulai menangis, dan aku hanya bisa merangkulnya, berharap suara itu akan pergi.
Tapi justru sebaliknya, pintu kamar terbuka lebar, memperlihatkan lorong gelap yang kosong… atau aku kira kosong.
Dalam keremangan, aku melihat sesuatu berdiri di ujung lorong. Sosok perempuan dengan rambut panjang menutupi wajahnya, tubuhnya miring, dan suaranyasuara teriakan itukeluar tanpa henti dari mulutnya yang menganga lebar. Aku membeku. Rina menjerit.
Tapi suara teriakan itu menelan segalanya, menggema tanpa henti, semakin keras, semakin dekat.
Malam itu, aku tidak ingat bagaimana akhirnya. Ketika aku membuka mata, kamar sudah sunyi. Rina tak ada di sampingku.
Pintu kamar terbuka, dan di lorong, samar-samar, masih terdengar suara teriakan yang perlahan menjauh… atau mungkin, justru semakin mendekat.
Apakah kau juga mendengarnya?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0