Ofcom Temukan Lebih Sedikit Orang UK Posting Media Sosial

Oleh VOXBLICK

Selasa, 16 Juni 2026 - 19.00 WIB
Ofcom Temukan Lebih Sedikit Orang UK Posting Media Sosial
Lebih sedikit posting, lebih banyak pasif (Foto oleh cottonbro studio)

VOXBLICK.COM - Dinamika interaksi manusia dengan platform digital terus berubah, seringkali dengan cara yang mengejutkan. Sementara banyak yang berasumsi bahwa kita semakin terjerat dalam spiral posting dan berbagi tanpa henti, sebuah laporan menarik dari Ofcom, regulator komunikasi Inggris, justru mengungkapkan tren yang berlawanan di salah satu pasar digital paling maju di dunia. Ofcom menemukan bahwa semakin sedikit orang dewasa di Inggris yang secara aktif terlibat dalam kegiatan seperti posting, mengomentari, atau membagikan konten di media sosial. Fenomena ini, yang kontras dengan peningkatan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan kekhawatiran publik yang meluas, menandakan pergeseran signifikan dalam kebiasaan digital yang patut kita selami lebih dalam.

Laporan Ofcom ini bukan sekadar statistik belaka ia adalah cerminan dari evolusi perilaku pengguna internet.

Selama bertahun-tahun, platform media sosial didorong oleh partisipasi aktif, di mana setiap pengguna diharapkan menjadi produsen dan konsumen konten. Namun, data terbaru dari Ofcom menunjukkan adanya penurunan tajam dalam interaksi aktif ini. Ini berarti, meskipun jumlah pengguna media sosial mungkin tetap tinggi, intensitas partisipasi mereka dalam menciptakan dan menyebarkan konten telah berkurang. Tren ini memunculkan pertanyaan fundamental: apakah kita mulai lelah dengan tekanan untuk terus-menerus tampil dan berinteraksi di ruang publik digital?

Ofcom Temukan Lebih Sedikit Orang UK Posting Media Sosial
Ofcom Temukan Lebih Sedikit Orang UK Posting Media Sosial (Foto oleh Viralyft)

Memahami “Passive Social Media Use”: Mengintip Tanpa Berpartisipasi

Salah satu temuan kunci yang disorot oleh Ofcom adalah peningkatan apa yang disebut “passive social media use”.

Ini adalah kebiasaan digital di mana seseorang menghabiskan waktu di media sosial untuk mengonsumsi kontenmenggulir linimasa, menonton video, membaca postingantanpa secara aktif berkontribusi atau berinteraksi. Bayangkan Anda membuka Instagram atau TikTok, melihat ratusan cerita dan video, namun tidak pernah menekan tombol suka, meninggalkan komentar, atau membagikan apa pun. Itulah esensi dari penggunaan pasif.

Beberapa faktor dapat menjelaskan pergeseran ini. Pertama, informasi overload. Dengan volume konten yang masif, pengguna mungkin merasa kewalahan untuk berkontribusi. Lebih mudah untuk hanya menyerap daripada harus memikirkan apa yang akan diposting atau bagaimana merespons. Kedua, privasi dan tekanan sosial. Kekhawatiran tentang privasi data, potensi salah tafsir, atau bahkan "cancel culture" dapat membuat orang enggan untuk membagikan pemikiran atau kehidupan pribadi mereka secara publik. Ketiga, kualitas konten. Dengan algoritma yang semakin canggih, pengguna mungkin sudah merasa puas dengan konten yang disajikan kepada mereka, sehingga tidak merasa perlu untuk mencari atau menciptakan konten baru.

Kebangkitan AI dan Kekhawatiran Publik

Di sisi lain spektrum digital, Ofcom juga menyoroti peningkatan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Inggris. Dari asisten virtual hingga rekomendasi konten yang dipersonalisasi, AI telah meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan digital kita.

Dalam konteks media sosial, AI berperan besar dalam menyaring, mengkurasi, dan menyajikan konten kepada pengguna, bahkan sampai pada pembuatan konten itu sendiri.

Namun, pertumbuhan AI ini tidak datang tanpa kekhawatiran. Laporan Ofcom dengan jelas menyatakan bahwa mayoritas orang dewasa di Inggris merasa khawatir tentang penggunaan AI. Kekhawatiran ini mencakup berbagai aspek:

  • Privasi Data: Bagaimana data pribadi digunakan oleh AI dan sejauh mana perusahaan dapat mengakses informasi sensitif kita.
  • Misinformasi dan Disinformasi: Kemampuan AI untuk menghasilkan teks, gambar, atau video yang realistis namun palsu, yang dapat memperparah penyebaran berita bohong.
  • Bias Algoritma: Ketakutan bahwa AI dapat memperkuat bias yang ada dalam masyarakat atau membatasi perspektif yang terekspos kepada pengguna.
  • Dampak Pekerjaan: Kekhawatiran tentang otomatisasi pekerjaan dan dampaknya terhadap pasar tenaga kerja.
  • Keamanan dan Kontrol: Siapa yang bertanggung jawab ketika AI membuat kesalahan atau digunakan untuk tujuan yang merugikan?

Kekhawatiran ini bukanlah tanpa dasar. Ketika AI semakin canggih, garis antara konten yang dibuat manusia dan yang dihasilkan mesin menjadi kabur, menimbulkan tantangan baru bagi literasi digital dan kepercayaan publik.

Dampak Pergeseran Kebiasaan Digital: Dari Individu hingga Platform

Pergeseran dari partisipasi aktif ke penggunaan pasif, ditambah dengan integrasi AI yang semakin dalam, membawa dampak signifikan bagi ekosistem digital secara keseluruhan dan perilaku pengguna secara individual.

Bagi individu, penggunaan pasif dapat memiliki efek ganda:

  • Pengurangan Tekanan Sosial: Mengurangi kebutuhan untuk "perform" atau menjaga citra di media sosial dapat menurunkan tingkat stres dan kecemasan.
  • Peningkatan Konsumsi Informasi: Memungkinkan akses lebih mudah ke berbagai informasi dan hiburan tanpa beban interaksi.
  • Risiko Keterasingan: Namun, terlalu banyak konsumsi pasif bisa menyebabkan perasaan terasing atau "fear of missing out" (FOMO), di mana seseorang merasa melihat kehidupan orang lain tanpa menjadi bagian darinya.
  • Filter Bubble: Algoritma AI yang terus-menerus menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi dapat menciptakan "filter bubble", membatasi paparan terhadap sudut pandang yang berbeda.

Untuk platform media sosial itu sendiri, tren ini juga menghadirkan tantangan dan peluang.

Platform mungkin harus beradaptasi dengan model bisnis yang kurang bergantung pada konten buatan pengguna (User-Generated Content/UGC) dan lebih fokus pada kurasi konten yang efisien, hiburan, atau bahkan konten yang dihasilkan AI. Model monetisasi mungkin bergeser, dengan penekanan yang lebih besar pada iklan yang ditargetkan secara presisi berkat data dari penggunaan pasif, atau model langganan untuk konten premium.

Masa Depan Interaksi Digital: Sebuah Evolusi Berkelanjutan

Laporan Ofcom ini adalah pengingat bahwa lanskap digital tidak statis. Perilaku pengguna, teknologi, dan kekhawatiran publik terus berkembang.

Penurunan postingan aktif di media sosial di Inggris menunjukkan bahwa pengguna mungkin mencari pengalaman digital yang lebih tenang, atau setidaknya, yang tidak memerlukan investasi emosional atau waktu yang besar dalam menciptakan konten. Pada saat yang sama, peningkatan AI dan kekhawatiran yang menyertainya menyoroti perlunya regulasi yang lebih baik, pendidikan literasi digital, dan pengembangan etika AI yang kuat.

Ke depan, kita mungkin akan melihat platform media sosial yang lebih berfokus pada niche, menawarkan pengalaman yang lebih personal dan intim, atau bahkan pergeseran ke bentuk interaksi digital yang sama sekali baru.

Apa pun arahnya, laporan Ofcom ini menggarisbawahi bahwa pengguna di Inggris, dan mungkin di seluruh dunia, sedang menavigasi kompleksitas dunia digital dengan cara yang semakin nuansa. Tantangan bagi pengembang teknologi, regulator, dan bahkan kita sebagai pengguna adalah untuk memastikan bahwa evolusi ini mengarah pada lingkungan digital yang lebih sehat, lebih aman, dan lebih bermanfaat bagi semua.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0