Rahasia Kelam Pelatih dan Detak Jantung Tim di Tengah Malam

Oleh VOXBLICK

Jumat, 16 Januari 2026 - 23.30 WIB
Rahasia Kelam Pelatih dan Detak Jantung Tim di Tengah Malam
Rahasia Detak Jantung Tim (Foto oleh Yan Krukau)

VOXBLICK.COM - Malam itu, udara di mess atlet seolah membeku. Jam dinding tua di ruang tengah berdetak pelan, beradu dengan detak jantungku yang kian tak beraturan. Aku, salah satu anggota tim lari universitas, mulai memperhatikan perubahan pada pelatih kami sejak beberapa minggu terakhir. Ia selalu muncul di lorong-lorong sempit saat jam menunjukkan lewat tengah malam, membawa serta alat pemantau detak jantung yang baru saja kami terima sebagai fasilitas latihan. Namun, ada sesuatu yang janggal pada caranya memperhatikan layar monitor, seolah ia mengamati lebih dari sekadar angka statistik.

Bayang-bayang di Balik Monitor

Semula, aku mengira ini hanya bentuk kepedulian seorang pelatih pada anak asuhnya. Tapi aku mulai curiga saat teman sekamarku, Dito, mendadak jatuh sakit setelah malam sebelumnya pelatih masuk ke kamar kami secara diam-diam.

Dito sering mengeluhkan mimpi burukia merasa tercekik, seperti ada tangan dingin yang menekan dadanya, mengikuti irama detak jantung yang berlari tak tentu arah.

Rahasia Kelam Pelatih dan Detak Jantung Tim di Tengah Malam
Rahasia Kelam Pelatih dan Detak Jantung Tim di Tengah Malam (Foto oleh Andrea Piacquadio)

Suatu malam, aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Aku menahan napas saat mendengar suara langkah kaki pelatih menghampiri pintu kamar. Pelan, ia membuka pintu, menyorotkan cahaya senter ke wajahku dan Dito.

Lalu, dengan cekatan, ia menempelkan sensor di dada kami, memperhatikan layar monitor dengan mata kosong. Aku sempat mengintip dari celah selimutdetak jantung kami terpampang jelas, tapi yang kulihat di sana bukan hanya angka, melainkan bayangan gelap yang timbul-tenggelam di layar, seolah mencari sesuatu.

Larangan yang Tak Biasa

Esok harinya, pelatih mengumpulkan seluruh tim di aula kecil. Ia berkata dengan suara pelan namun tegas:

  • Jangan pernah lepas alat deteksi detak jantung, meski tengah malam sekalipun.
  • Jangan bertanya tentang hasil pemantauan, cukup percayakan pada pelatih.
  • Jangan pernah keluar kamar jika mendengar suara langkah di lorong setelah pukul dua belas, apa pun alasannya.

Ada sesuatu yang menakutkan pada caranya memberi instruksi. Seakan-akan pelatih lebih takut pada sesuatu yang tidak terlihat ketimbang pada kami, para atlet muda yang penuh rasa ingin tahu.

Sejak malam itu, rumor mulai beredarbeberapa anggota tim mengaku mendengar suara bisikan dari monitor detak jantung, suara yang memanggil nama mereka satu per satu, perlahan, lirih, dan penuh ancaman.

Detak Jantung di Antara Kegelapan

Puncaknya terjadi saat salah satu teman kami, Andi, menghilang tanpa jejak. Kamar Andi kosong, hanya tersisa alat pemantau yang masih memperlihatkan satu garis lurustanda detak jantungnya berhenti.

Kami panik, tapi pelatih justru menyuruh kami diam dan melupakan peristiwa itu. Malam-malam berikutnya, suasana di mess tak pernah sama lagi. Setiap detak jam terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang buruk.

Aku mencoba memberanikan diri mengulik sejarah pelatih kami.

Dari beberapa staf lama, kudengar bisik-bisik tentang masa lalu kelamtentang tragedi di tim sebelumnya, tentang atlet yang tiba-tiba kolaps dan hilang, tentang monitor detak jantung yang selalu merekam detik-detik terakhir seseorang.

Teror yang Tak Pernah Tidur

Kini, setiap malam, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar, menunggu suara langkah pelatih di lorong. Setiap kali sensor alat itu menempel di dadaku, aku merasa napasku dihisap perlahan.

Aku mulai mendengar suara aneh dari monitor, suara yang bukan hanya detak jantung, tapi bisikan-bisikan asing yang memanggilku dari balik kegelapan. Aku tak tahu, apakah aku masih selamat hingga besok pagi, atau akan menyusul mereka yang detak jantungnya telah berhenti selamanya.

Lalu, malam ini, saat aku menulis ini dengan tangan gemetar, layar monitor di meja tiba-tiba menyala sendiri. Di sana, muncul angka-angka yang berlari cepat, lalu berhenti, membentuk namaku.

Aku berusaha berteriak, tapi suara itu kembalibisikan yang kali ini terdengar jelas di telingaku, “Giliranmu malam ini.”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0