Setelah Operasi Mata Aku Takut Melihat Keluargaku Sendiri

Oleh VOXBLICK

Jumat, 05 Desember 2025 - 01.20 WIB
Setelah Operasi Mata Aku Takut Melihat Keluargaku Sendiri
Takut melihat keluarga sendiri (Foto oleh Engin Akyurt)

VOXBLICK.COM - Mata ini, yang dulu buram dan lemah, akhirnya bisa melihat dunia dengan jelas setelah operasi. Tapi tak pernah kubayangkan, kejelasan itu justru membawa kegelapan paling pekat ke dalam hidupku. Setiap kali menatap wajah keluargaku sendiri, dinginnya teror merayap perlahan, membuatku bertanyaapa yang sebenarnya sudah berubah setelah penglihatanku kembali?

Kamar Pemulihan dan Tatapan Pertama

Malam itu, aku terbangun di kamarremang cahaya lampu meja menari pelan di dinding. Ibu duduk di samping ranjang, wajahnya samar di balik balutan kain kasa yang menutupi mataku.

Suaranya lembut, “Nanti kalau kainnya dibuka, kamu harus pelan-pelan ya, Nak.” Aku mengangguk, mencoba menenangkan detak jantungku yang liar.

Hari berikutnya, dokter melepas perban. Dunia perlahan kembali, terang dan tajam. Ibu, ayah, dan adikku berdiri mengelilingiku. Mereka tersenyumatau setidaknya, begitu yang kupikirkan.

Tapi ada sesuatu yang aneh senyum mereka tampak terlalu lebar, matanya terlalu gelap, dalam, dan kosong. Aku mengedipkan mata berulang-ulang, berharap efek samping operasi, atau sekadar halusinasi.

Setelah Operasi Mata Aku Takut Melihat Keluargaku Sendiri
Setelah Operasi Mata Aku Takut Melihat Keluargaku Sendiri (Foto oleh Janko Ferlic)

Wajah yang Tidak Pernah Aku Kenal

Hari-hari berlalu, tapi keganjilan itu tak juga pergi. Setiap pagi, saat aku turun ke ruang makan, mereka selalu sudah menungguku. Ayah dengan tatapan kosong, adik yang jarang bicara, dan Ibu yang selalu tersenyum terlalu lama.

Kadang, ketika aku menoleh tiba-tiba, aku melihat mereka saling berbisik dengan gerakan mulut yang anehseolah berbicara dalam bahasa yang tak pernah kudengar.

  • Suasana rumah berubah sunyi, seakan setiap langkahku diawasi.
  • Setiap malam, aku terbangun karena suara bisikan dari ruang tamu.
  • Aku mulai menghindari tatapan merekakarena setiap kali aku menatap, wajah mereka seolah bergetar, berubah menjadi bayangan hitam yang tak punya mata.

Ritual Malam dan Cermin yang Tak Jujur

Suatu malam, aku memberanikan diri mengintip dari balik pintu kamar. Dalam temaram, kulihat keluarga duduk melingkar di ruang tamu, membelakangi api lilin kecil. Mereka berbisik pelan, suara mereka seakan mengalun dalam keselarasan yang menyeramkan.

Kala aku mencoba melihat wajah mereka, cermin di dinding menangkap bayangantapi bukan bayangan manusia. Wajah-wajah mereka di cermin tampak kabur, seperti diselimuti kabut pekat, dan matanya… kosong.

Setiap kali aku bertanya, mereka hanya tersenyum dan menepuk pundakku, seolah tahu ketakutanku tapi sengaja membiarkannya tumbuh.

Aku, dan Mereka yang Kembali

Pertanyaan itu terus berputar di kepalakuapakah ini efek operasi mata? Atau ada sesuatu yang lebih gelap, lebih tua, yang kini bisa kulihat? Aku mulai mengingat ingatan samar sebelum operasi, tentang suara-suara yang membisikkan janji penglihatan

baru, tentang tangan-tangan dingin yang menyentuh pelipisku di malam hari.

Semakin jelas mataku melihat dunia, semakin jelas pula aku sadarkeluargaku bukan lagi keluargaku. Atau mungkin, mereka memang selalu seperti itu, hanya saja mataku yang dulu tak pernah benar-benar melihat.

Ruang Tamu, Malam Itu

Suatu malam, aku terbangun lagi. Kali ini, langkah-langkah mereka terdengar di lorong menuju kamarku. Pintu perlahan berderit terbuka. Ibu berdiri di ambang, matanya hitam tanpa dasar, bibirnya tersenyum lebar.

Di belakangnya, Ayah dan adik menatapku tanpa berkedip. “Kamu sudah bisa melihat kami, kan?” bisik Ibu, suaranya lebih dingin dari biasanya.

Aku terdiam. Aku tahu, malam itu, aku benar-benar melihat mereka. Dan untuk pertama kalinya, aku berharap mataku kembali buta.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0