Misteri Telepon di Dasar Quarry Craven Menghantui Malamku
VOXBLICK.COM - Angin malam membawa suara aneh ketika aku kembali melewati jalan setapak yang membelah rerimbunan pohon menuju Quarry Craven. Sejak kecil, aku sudah mendengar bisik-bisik tentang tempat inibekas tambang batu tua yang kini dipenuhi air hitam pekat, dikelilingi tebing batu curam. Tapi tak ada satu pun cerita yang benar-benar mempersiapkanku untuk pengalaman yang menunggu di dasar quarry itu.
Malam itu, aku datang bukan sebagai penjelajah iseng, melainkan sebagai seseorang yang mencari jawaban. Beberapa hari terakhir, mimpi-mimpi buruk terus menghantui tidurku.
Selalu tentang suara telepon berdering dari kejauhan, kadang samar, kadang mendesak, seolah ada sesuatu yang menuntut untuk diangkat. Setiap kali aku terbangun, jantungku berpacu, keringat dingin membasahi tubuhku. Semua petunjuk mengarah ke satu tempat: dasar Quarry Craven.
Langkahku terhenti di tepi jurang. Malam begitu sunyi, hanya sesekali terdengar gesekan ranting jatuh. Senter di tangan gemetar, sinarnya menyapu permukaan air yang memantulkan bayangan bulan.
Aku menuruni lereng curam, batu-batu kecil meluncur di belakangkumemperingatkan atau mengundang, aku tak tahu.
Deru Dering di Kegelapan
Ketika kakiku hampir menginjak permukaan pasir basah di dasar quarry, suara itu terdengarjernih, nyata, dan mustahil: dering telepon, klasik, seperti dari era 80-an. Tak ada listrik di sini, tak ada menara sinyal, tapi suara itu nyata.
Aku menoleh ke segala arah, sampai akhirnya mataku menangkap benda hitam kusam setengah terbenam lumpur di dekat batu besar. Telepon putar tua, kabelnya menjulur ke bawah tanah retak, tak terhubung ke mana pun.
Getaran aneh merambat di tulang rusukku saat aku mendekat. Deringnya tak berhenti. Tangan kiriku terulur, ragu, lalu mengangkat gagang telepon yang dingin dan berat. Ada jeda heninglalu, suara napas berat dari seberang sana.
Aku menahan napas, menunggu. Tiba-tiba, suara pelan, serak, dan penuh kepedihan berbisik, “Kau bisa mendengarku, kan?”
- Suara itu mengenal namaku.
- Ia tahu apa yang kulakukan hari itu, bahkan apa yang kupikirkan sebelum tidur.
- Lalu ia memohon, “Tolong aku keluar dari sini…”
Rahasia yang Terkubur Bersama Malam
Suara itu terus berbicara, kadang menangis, kadang berteriak. Aku bertanya siapa dia, namun ia hanya menjawab, “Aku pernah sepertimu.” Lalu, dari kejauhan, aku mendengar suara langkah kaki lainbukan dari atas, tapi dari bawah permukaan air.
Riak kecil muncul, seolah sesuatu yang berat bergerak di dasar quarry, mendekat ke arahku.
Keringat dingin menetes di pelipis saat aku menyadari: aku tidak sendiri. Telepon di tanganku semakin berat, suara dari seberang berubah menjadi tawa lirih yang menggema di kepala. “Kamu sudah mengangkatnya. Sekarang giliranmu di sini,” bisiknya.
Gagang telepon menempel erat di telingaku, seolah tak bisa kulepaskan. Aku mencoba melepaskannya, tapi tak bisa. Suara tawa dan tangis itu bercampur, menggema, semakin keras.
Dari sudut mataku, aku melihat bayangan-bayangan bergerak di antara pepohonan di atas tebing, perlahan mendekat.
Malam yang Tak Pernah Usai
Tak ada lagi jalan keluar. Langit di atas quarry seolah menutup, hanya menyisakan lingkaran sempit cahaya bulan. Suara telepon itu kini terdengar di mana-manadi kepalaku, di air, di udara.
Aku berteriak, namun suaraku tenggelam oleh dering yang tak berkesudahan.
Di kejauhan, seseorang lain berjalan menuruni lereng, matanya terpaku pada telepon yang kini diam di atas batu. Ia tampak kebingungan, seolah mendengar sesuatu yang tak bisa didengar orang lain.
Sementara tubuhku, entah di mana, seolah telah menjadi bagian dari malam di Quarry Cravenmenunggu, bersama telepon tua, menanti dering berikutnya. Siapa tahu, mungkin malam ini, telepon itu akan berdering lagi… dan seseorang akhirnya mengangkatnya.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0