Survei Gallup Perbedaan Sikap Pekerja terhadap AI di Tempat Kerja

Oleh VOXBLICK

Selasa, 14 April 2026 - 20.45 WIB
Survei Gallup Perbedaan Sikap Pekerja terhadap AI di Tempat Kerja
Perbedaan sikap pekerja pada AI (Foto oleh Kampus Production)

VOXBLICK.COM - Lebih banyak pekerja mulai bereksperimen dan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaan, tetapi survei Gallup juga menunjukkan adanya kelompok yang secara aktif memilih untuk tidak memakainya. Temuan ini penting karena sikap pekerja terhadap AI bukan sekadar soal “teknologi baru”, melainkan terkait kepercayaan, kenyamanan, persepsi manfaat, hingga kekhawatiran terhadap dampak kerja mereka.

Dalam survei yang dibahas Gallup, pola yang muncul memperlihatkan perbedaan sikap yang cukup tajam: sebagian karyawan memanfaatkan AI untuk mempercepat tugas atau meningkatkan kualitas hasil, sementara sebagian lainnya menunda atau menolak

penggunaan. Perbedaan ini relevan bagi organisasi karena keputusan adopsi AI di tempat kerja akan sangat dipengaruhi oleh penerimaan penggunayang pada gilirannya berdampak pada produktivitas, kualitas layanan, serta risiko implementasi yang kurang tepat.

Survei Gallup Perbedaan Sikap Pekerja terhadap AI di Tempat Kerja
Survei Gallup Perbedaan Sikap Pekerja terhadap AI di Tempat Kerja (Foto oleh Matheus Bertelli)

Apa yang ditemukan dalam survei Gallup

Inti temuan Gallup adalah bahwa penggunaan AI di tempat kerja tidak merata. Ada pekerja yang sudah memakai AI secara rutin, ada yang masih mencoba sesekali, dan ada pula yang memilih tidak menggunakan sama sekali.

Di titik inilah organisasi perlu memahami bahwa “adopsi” bukan satu angka tunggal, melainkan spektrum perilaku.

Menurut ringkasan temuan yang beredar dari hasil survei Gallup, meningkatnya eksperimen dan penggunaan AI menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah melewati fase awal rasa ingin tahu.

Namun, keberadaan kelompok penolak atau penunda menandakan bahwa faktor non-teknisseperti kepercayaan pada sistem, persepsi kontrol, dan literasi AIberperan besar dalam keputusan pekerja.

Secara praktis, perbedaan sikap ini bisa terlihat dari beberapa indikator perilaku, misalnya:

  • Frekuensi penggunaan AI untuk tugas spesifik (misalnya menulis draf, merangkum dokumen, analisis data, atau bantuan customer service).
  • Keyakinan bahwa output AI akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Kenyamanan menggunakan AI tanpa merasa “diawasi” atau digantikan.
  • Kesediaan mengikuti pelatihan atau panduan internal sebelum memakai AI.

Siapa yang terlibat: pekerja, manajer, dan organisasi

Survei ini menyasar pekerja sebagai pengguna langsung teknologi. Namun, implikasinya juga menyentuh peran manajer dan organisasi.

Pekerja menilai AI dari pengalaman sehari-hari: apakah AI membantu menyelesaikan pekerjaan, apakah mudah digunakan, apakah ada batasan yang jelas, dan apakah organisasi melindungi data serta hak kerja mereka.

Bagi manajemen, hasil survei menjadi sinyal bahwa kebijakan adopsi AI harus mempertimbangkan dinamika penerimaan. Tidak semua tim akan merespons pendekatan yang sama.

Tim yang pekerjaannya sangat bergantung pada ketelitian atau kepatuhan regulasi, misalnya, cenderung meminta jaminan kualitas dan aturan penggunaan yang lebih tegas sebelum menerima AI sebagai alat kerja.

Faktor di balik perbedaan sikap terhadap AI

Gallup menyoroti bahwa sikap pekerja terhadap AI tidak berdiri sendiri. Perbedaan dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor berikut.

1) Kepercayaan pada kualitas dan akurasi

Kelompok yang menggunakan AI umumnya melihat manfaat yang cepat dan dapat diukur, seperti penghematan waktu atau peningkatan kualitas draft.

Sementara itu, pekerja yang menolak biasanya lebih skeptis terhadap akurasi, konsistensi, dan kemampuan AI untuk memahami konteks spesifik organisasi.

2) Persepsi risiko: privasi, keamanan, dan kepatuhan

AI yang dipakai tanpa panduan yang jelas dapat memunculkan kekhawatiran soal data sensitif. Pekerja mungkin khawatir output AI memuat informasi rahasia atau melanggar kebijakan internal.

Di banyak organisasi, kekhawatiran ini menjadi alasan utama mengapa sebagian karyawan memilih tidak menggunakan AI.

3) Kontrol kerja dan rasa aman terhadap peran

Penolakan terhadap AI tidak selalu berarti menolak teknologi. Sebagian pekerja merasa AI dapat mengubah cara kerja secara drastis, sehingga mereka khawatir kehilangan kontrol atau bahkan tergantikan.

Sikap ini biasanya mereda ketika organisasi menegaskan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti penuh, serta menetapkan peran manusia dalam proses validasi.

4) Literasi dan kesiapan menggunakan

Perbedaan kemampuan menggunakan AItermasuk kemampuan merumuskan instruksi (prompt), menilai output, dan memahami batasandapat menciptakan “gap penerimaan”.

Pekerja yang merasa tidak siap cenderung menunda penggunaan, sementara yang lebih terampil lebih cepat mengadopsi.

5) Budaya organisasi dan dukungan manajemen

Jika organisasi memberikan pelatihan, contoh penggunaan yang aman, serta proses evaluasi kualitas, penerimaan biasanya meningkat. Sebaliknya, adopsi yang terasa “dipaksakan” atau tidak disertai dukungan akan memperkuat resistensi.

Makna bagi organisasi: adopsi AI butuh strategi penerimaan

Temuan Gallup memberi pesan yang jelas: organisasi tidak cukup hanya menyediakan akses ke AI. Mereka perlu membangun kondisi agar pekerja merasa yakin dan mampu menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

Berikut beberapa langkah yang relevan bagi organisasi yang ingin meningkatkan penerimaan AI di tempat kerja, sekaligus mengurangi hambatan dari kelompok yang menolak atau menunda:

  • Mulai dari use case yang jelas: pilih tugas yang hasilnya mudah dievaluasi dan memiliki standar kualitas yang terukur.
  • Bangun kebijakan penggunaan: tetapkan aturan tentang data apa yang boleh/ tidak boleh dimasukkan, serta prosedur verifikasi output.
  • Investasi pada pelatihan berbasis peran: sesuaikan materi untuk kebutuhan tim (misalnya pemasaran, hukum, layanan pelanggan, atau analis data).
  • Transparansi mengenai peran AI: jelaskan bahwa AI mendukung proses, sementara keputusan akhir tetap pada manusia.
  • Uji kualitas dan akuntabilitas: gunakan metrik seperti tingkat kesalahan, kepatuhan, dan waktu pengerjaan sebelum dan sesudah AI.

Dampak yang lebih luas: industri, regulasi, dan kebiasaan kerja

Perbedaan sikap pekerja terhadap AI memiliki konsekuensi yang melampaui level perusahaan.

Di tingkat industri, organisasi yang mampu membangun penerimaan lebih cepat berpotensi memperoleh keuntungan produktivitasnamun juga berisiko jika mengabaikan kualitas dan kepercayaan pengguna. Sementara itu, perusahaan yang menunda adopsi tanpa strategi perubahan budaya bisa tertinggal dalam efisiensi dan daya saing.

Di sisi regulasi dan tata kelola, pola penolakan/penundaan menunjukkan bahwa aspek keamanan, privasi, dan kepatuhan bukan isu pinggiran.

Organisasi akan semakin dituntut untuk memiliki kerangka tata kelola AI yang jelas: bagaimana model digunakan, bagaimana data diproses, bagaimana audit dilakukan, dan bagaimana dampaknya terhadap pekerjaan dipantau. Ini sejalan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap penggunaan teknologi yang berpotensi memengaruhi keputusan kerja dan akses informasi.

Untuk kebiasaan masyarakat pekerja, survei Gallup mengisyaratkan bahwa AI akan menjadi bagian dari cara kerja modern, tetapi proses integrasinya tidak otomatis.

Literasi AI, kemampuan menilai output, dan praktik verifikasi akan menjadi kompetensi yang semakin umum. Pada akhirnya, organisasi yang mengelola transisi ini dengan pelatihan dan aturan yang jelas akan lebih mudah membentuk kebiasaan kerja baru yang produktif dan aman.

Survei Gallup tentang perbedaan sikap pekerja terhadap AI di tempat kerja memperlihatkan bahwa adopsi teknologi adalah proses sosial, bukan sekadar keputusan teknis.

Semakin banyak pekerja mulai bereksperimen, namun keberadaan kelompok yang memilih tidak menggunakan menegaskan perlunya strategi penerimaan: membangun kepercayaan, menurunkan kekhawatiran risiko, dan memastikan pekerja memiliki keterampilan serta panduan untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0