Teror Makhluk Tak Bernama di Hutan Larangan Tengah Malam

Oleh VOXBLICK

Jumat, 12 Desember 2025 - 01.45 WIB
Teror Makhluk Tak Bernama di Hutan Larangan Tengah Malam
Patroli malam hutan larangan (Foto oleh Mike Ralph)

VOXBLICK.COM - Malam itu, langit di atas Hutan Larangan tampak berat, seperti menyimpan rahasia kelam yang menekan dada siapa pun yang berani menantangnya. Aku, Reza, bersama tiga rekan patroliPak Wawan, Dito, dan Agungditugaskan untuk menyisir jalur lama, jalur yang konon tak pernah lagi diinjak manusia setelah rentetan kejadian aneh beberapa bulan terakhir. Angin membawa aroma basah tanah dan dedaunan busuk, menyusup lewat sela-sela jaket tebal kami. Senter di tangan bergetar, entah karena dingin atau firasat buruk yang kian menebal setiap langkah kami ke dalam kegelapan hutan itu.

“Jangan pisah, apapun yang terjadi,” suara Pak Wawan hampir tenggelam oleh suara ranting patah di bawah kaki kami. Dito hanya mengangguk, matanya tak lepas dari jalur sempit di depan. Malam terasa membeku.

Daun-daun yang bergesekan terdengar seperti bisikan, kadang memekik ketika angin tiba-tiba berhembus kencang. Aku mencoba menenangkan diri, mengingatkan bahwa ini hanya patroli biasa. Tapi pohon-pohon raksasa di kiri kanan seolah mengawasi, menunggu ada yang lengah.

Teror Makhluk Tak Bernama di Hutan Larangan Tengah Malam
Teror Makhluk Tak Bernama di Hutan Larangan Tengah Malam (Foto oleh eberhard grossgasteiger)

Isyarat Bahaya di Balik Kabut

Baru beberapa ratus meter dari pos awal, kabut tipis mulai turun, menutupi pandangan. Dito tiba-tiba menghentikan langkah, tangannya menunjuk ke semak-semak gelap di sisi kanan. “Ada yang bergerak,” bisiknya.

Kami semua menyorotkan cahaya senter ke arah itu, tapi hanya menemukan ranting patah dan dedaunan yang bergoyang aneh. Tiba-tiba, suara lolongan panjang dan berat menggema, cukup dekat untuk membuat bulu kuduk berdiri. Suara itu tak seperti serigala, lebih berat, lebih... manusiawi namun tidak sepenuhnya.

Pak Wawan merapatkan barisan, “Ayo cepat. Jangan terpisah!” Tapi langkah kami terhenti lagi saat suara langkah-langkah berat terdengar di belakang. Kami berbalik serempaktak ada apa-apa, hanya bayangan pohon yang menari di antara cahaya senter.

Jantungku berdegup tak karuan. Agung menelan ludah, “Kalian dengar itu kan? Bukan cuma aku, kan?”

Ketegangan Memuncak: Saat Makhluk Itu Muncul

Saat kami hendak berbalik, tiba-tiba senter Dito mati. Gelap seketika, hanya suara napas kami yang terdengar. Lalu, dari balik pepohonan, sepasang mata merah menyala muncul perlahan, melayang sekitar dua meter dari tanah.

Tubuhnya samar, tak sepenuhnya terlihatseperti kabut yang membentuk sosok tinggi besar. Makhluk itu mengeluarkan suara erangan dalam, seperti menahan amarah bertahun-tahun. Kami mundur perlahan, namun langkah kaki kami justru menginjak ranting, memecah keheningan dan membuat makhluk itu bergerak cepat ke arah kami.

  • Dito berteriak dan lari ke kiri, suaranya melengking lalu menghilang seolah-olah tersedot kegelapan.
  • Pak Wawan mencoba menenangkan kami, tapi suara gemeretak aneh terdengar semakin dekat.
  • Agung membeku di tempat, air mata mengalir di wajahnya tanpa suara.
  • Aku sendiri hanya bisa merapatkan senter ke dada, berharap bisa melihat sesuatuatau apapunyang memberiku alasan untuk lari.

Aku melihat makhluk itu mendekat, tubuh kabutnya menelan pohon-pohon di belakang, matanya menatap tajam, seolah menembus jiwaku. Aku memejamkan mata, berharap ini semua mimpi buruk.

Tapi suara erangan, bau busuk yang menyengat, dan dinginnya udara menampar wajahkuini nyata. Tiba-tiba, suara jeritan Pak Wawan memecah malam. Ketika kubuka mata, hanya tersisa aku dan Agung. Suasana hutan kini lebih sunyi dari kematian.

Bayang-Bayang yang Tak Pernah Pergi

Kami berdua berlari tanpa arah, menembus ranting dan duri, hanya berpikir untuk keluar dari hutan larangan malam itu. Tapi suara langkah berat, napas kasar, dan sesekali tawa pelan yang tak manusiawi terus membuntuti kami.

Setiap kali menoleh, aku merasa makhluk itu hanya berjarak beberapa langkah di belakang.

Entah berapa lama waktu berlalu sebelum aku sadar Agung sudah tak ada di sisiku. Aku menoleh ke belakang, hanya mendapati kabut dan gelap pekat.

Dalam kepanikan, aku terus berlari, menabrak pohon dan jatuh bangun hingga akhirnya tiba di tepi hutan, di mana samar-samar kulihat cahaya lampu pos penjaga.

Napas sesak, tubuh penuh luka, aku menoleh sekali lagi ke belakang. Hanya gelap dan kabut yang menutupi jejak kami. Tapi, di tengah sunyi, samar-samar terdengar suara erangan dan tawa pelan, seolah menungguku kembali ke hutan itu.

Sampai hari ini, wajah-wajah merekaDito, Pak Wawan, Agungtak pernah ditemukan. Dan setiap malam saat kabut turun, aku masih bisa merasakan tatapan makhluk tak bernama itu, menunggu di antara pohon-pohon Hutan Larangan, siap meneror siapapun yang berani datang tengah malam.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0