Akhir Kisah Bus Hantu: Perjalanan Terakhir Sang Penjemput Jiwa
VOXBLICK.COM - Aku tak pernah menyangka, malam itu akan menjadi perjalanan terakhirku bersama Bus Hantu. Setiap langkah menuju halte seakan menenggelamkanku lebih dalam ke dalam kegelapan yang tak berbatas. Udara terasa berat, jalanan lengang, dan hanya gemerisik angin serta langkah kakiku yang terdengar. Tak ada suara manusia lain, hanya bisikan samar entah dari mana. Aku menunggu, menanti bus yang katanya tak pernah benar-benar berhenti kecuali untuk mereka yang telah ditentukan.
Lampu halte berkedip redup. Di kejauhan, suara mesin tua menggeram, mendekat perlahan tapi pasti. Ketika bus itu akhirnya muncul di balik kabut, warnanya pudar, catnya mengelupas, dan kaca-kaca jendelanya buram oleh embun.
Suasana mencekam, seakan waktu berhenti. Aku melangkah masuk, dan pintu menutup di belakangku dengan bunyi dentuman berat, menandai awal perjalanan yang tak pernah kuharapkan.
Perjalanan Sunyi Menuju Halte-Halte Gelap
Di dalam bus, hanya ada beberapa penumpang. Wajah-wajah mereka pucat, kosong, seperti bayangan tanpa warna. Tak satu pun menoleh. Mereka duduk diam, menatap lurus ke depan, seolah-olah sudah kehilangan harapan.
Aku memilih kursi di dekat jendela, mencoba mengintip keluar. Namun, yang kulihat hanya kegelapan pekat, sesekali diselingi sorot lampu jalan yang redup dan cepat menghilang. Suara mesin tua dan derit roda menjadi latar musik perjalanan ini.
Sopir bus tak pernah berbicara. Ia hanya melirik melalui kaca spion, matanya dalam, seperti menembus jiwa. Setiap kali bus berhenti di sebuah halte, pintu terbuka perlahan. Satu per satu penumpang turun, namun tak pernah ada yang naik.
Setiap halte tampak berbeda ada yang diselimuti kabut tebal, ada yang diterangi lampu kuning remang, dan ada pula yang sepi, hanya ditemani bayangan pohon tua. Dari balik jendela, aku melihat siluet aneh menunggu di setiap halte, seakan mengintai, menanti giliran.
Dialog yang Tak Pernah Terjawab
Aku memberanikan diri bertanya pada seorang penumpang di sebelahku. “Permisi, halte berikutnya… di mana?” tanyaku dengan suara bergetar. Ia menoleh perlahan, matanya kosong, bibirnya bergerak nyaris tanpa suara.
“Setiap orang punya halte sendiri-sendiri,” gumamnya pelan, “Tapi tak semua bisa pulang dari sana.”
Degup jantungku semakin kencang. Aku mencoba lagi, kini pada sopir. “Pak, saya turun di perempatan depan, ya?” Sopir itu hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip seringai. “Tak ada perempatan di rute ini. Kita semua menuju akhir.”
- Setiap halte bukan sekadar tempat turun, melainkan gerbang menuju nasib yang berbeda.
- Penumpang turun satu per satu, menghilang dalam kabut tanpa jejak.
- Aku tak melihat satu pun yang benar-benar pulang.
Gerbang Terakhir Penjemput Jiwa
Perjalanan terasa abadi, waktu seolah membeku. Aku mulai merasa tubuhku semakin ringan, seolah-olah aku perlahan menghilang bersama kabut di luar sana. Ketika bus berhenti mendadak di sebuah halte yang asing, pintunya terbuka lebar.
Tak ada nama halte, tak ada cahaya, hanya kegelapan pekat yang menyambut. Penumpang terakhir sebelumku perlahan melangkah turun, tersenyum kosong, lalu menghilang ke dalam kegelapan.
Kini, hanya aku dan sopir yang tersisa. Ia menoleh, matanya merah menyala, suaranya berat, “Saatnya turun. Waktumu sudah tiba.” Kakiku kaku, tapi entah bagaimana tubuhku bergerak sendiri, melangkah ke luarmenuju kehampaan.
Udara dingin menampar wajahku, dan suara pintu bus menutup menggema di telingaku.
Malam yang Tak Pernah Usai
Aku berdiri sendirian di tengah gelap, meraba-raba mencari jalan pulang. Tapi tak ada jalan, tak ada cahaya, hanya suara mesin bus yang menjauh, meninggalkanku di antara lorong waktu yang membeku.
Apakah ini akhir perjalanan? Atau justru awal dari penantian abadi?
Di kejauhan, samar-samar kulihat lampu bus lain mendekat, menembus kabut, membawa penumpang berikutnya. Aku menahan napas, menyadari bahwa perjalanan sang penjemput jiwa belum benar-benar berakhir.
Dan mungkin, aku kini hanyalah bagian dari cerita yang akan terus berulangmenanti di halte berikutnya, mengintai bayangan-bayangan baru yang mencari jalan pulang.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0